Puhua School Purwokerto Raih Rekor MURI dengan Ribuan Payung Kaligrafi Mandarin, Simbol Persatuan dan Inklusivitas Pendidikan

Puhua School Purwokerto kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Rekor MURI melalui instalasi 3.024 payung kaligrafi Mandarin, simbol kuat pendidikan tanpa perbedaan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Puhua School Purwokerto Raih Rekor MURI dengan Ribuan Payung Kaligrafi Mandarin, Simbol Persatuan dan Inklusivitas Pendidikan
Puhua School Purwokerto kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Rekor MURI melalui instalasi 3.024 payung kaligrafi Mandarin, simbol kuat pendidikan tanpa perbedaan. (AntaraNews)

Sekolah Tiga Bahasa Putera Harapan (Puhua) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Rekor MURI pada Sabtu (25/4). Penghargaan ini diberikan atas instalasi 3.024 payung kertas berkaligrafi Mandarin (shufa) yang memukau. Instalasi tersebut tidak hanya menampilkan keindahan seni, tetapi juga sarat akan makna edukasi dan kebangsaan yang mendalam.

Perwakilan MURI, Ari Andriani, secara langsung menyerahkan Piagam MURI Nomor 12.701 kepada Wakil Ketua Yayasan Putera Harapan, Kartika Wijaya. Penyerahan ini berlangsung dalam rangkaian Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa Se-Indonesia di Puhua School Purwokerto. Capaian Puhua School Rekor MURI ini melampaui rekor serupa yang pernah tercatat sebelumnya di Jawa Barat.

Ribuan payung kertas tersebut dihiasi kaligrafi Mandarin oleh para siswa, kemudian dirangkai menjadi instalasi visual yang merepresentasikan bentuk kepulauan Indonesia. Ini menjadi simbol kuat persatuan dan keberagaman bangsa. Setiap payung juga memuat pesan "pendidikan tanpa perbedaan", menegaskan nilai inklusivitas dan semangat kebhinekaan dalam dunia pendidikan.

Detail Rekor MURI dan Maknanya

Capaian Puhua School Rekor MURI ini secara resmi tercatat sebagai Rekor MURI Nomor 12.701 untuk kategori instalasi payung kaligrafi terbanyak. Ari Andriani menjelaskan bahwa rekor sebelumnya melibatkan sekitar 2.000 payung dengan ukuran lebih besar, namun Puhua School berhasil menggunakan 3.024 payung kertas berukuran lebih kecil. Inisiatif pemecahan rekor ini telah dikoordinasikan dengan MURI sejak delapan bulan sebelumnya, memastikan kelayakan dan peluang keberhasilannya.

Pihak MURI menyambut baik ide tersebut, dengan syarat jumlah payung harus melebihi rekor yang sudah ada. Akhirnya, 3.024 payung kaligrafi Mandarin berhasil direalisasikan. Karya ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian rekor semata, tetapi juga menyampaikan pesan kuat dari para siswa. Pesan tersebut meliputi semangat berkarya, kebersamaan, dan nilai pendidikan tanpa perbedaan yang tertuang dalam setiap kaligrafi.

Instalasi kolaboratif ini menonjolkan estetika sekaligus menyampaikan pesan kuat tentang persatuan, identitas bangsa, serta pentingnya pendidikan yang merangkul semua kalangan. Direktur Puhua School, Chen Tao, menegaskan bahwa rekor ini bukan sekadar capaian prestisius. Ini adalah bentuk komitmen sekolah dalam menanamkan nilai keberagaman dan inklusivitas dalam dunia pendidikan.

Proses Kolaboratif dan Pesan Inklusivitas

Instalasi yang memecahkan Puhua School Rekor MURI ini terdiri atas 3.024 payung kertas berdiameter sekitar 20 sentimeter. Payung-payung tersebut dihiasi kaligrafi Mandarin dengan beragam pesan. Beberapa pesan yang tertulis antara lain “You Jiao Wulei” atau pendidikan tanpa perbedaan, “20 tahun Puhua”, serta “I Love Indonesia”. Seluruh payung disusun menjadi kolase visual berskala besar pada dua sisi dinding aula, menciptakan instalasi permanen yang indah dan bermakna.

Proses pembuatan instalasi ini memakan waktu sekitar delapan bulan dan melibatkan partisipasi luas dari seluruh ekosistem sekolah. Mulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga alumni, semuanya turut berkontribusi. Penulisan kaligrafi dilakukan secara bertahap sejak Maret 2026 dan dilanjutkan dengan pemasangan hingga tahap akhir pada April 2026.

Partisipasi kolektif ini menunjukkan semangat kebersamaan dan komitmen Puhua School terhadap nilai-nilai inklusivitas. Chen Tao menyatakan bahwa bagi sekolah, rekor ini adalah deklarasi bahwa keberagaman adalah kekuatan yang memajukan pendidikan Indonesia. Ini bukan hanya tentang angka, melainkan tentang filosofi pendidikan yang dianut.

Simbolisme Payung dan Komitmen Sekolah

Pemilihan payung sebagai medium dalam instalasi ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Payung diartikan sebagai naungan dan perlindungan. Hal ini merepresentasikan sekolah sebagai ruang aman bagi setiap peserta didik untuk belajar, berkarya, dan bertumbuh. Di Puhua School, tidak ada diskriminasi berdasarkan latar belakang agama, suku, maupun budaya.

Filosofi ini sejalan dengan pesan “You Jiao Wulei” yang berarti pendidikan tanpa perbedaan, yang menjadi salah satu pesan utama pada payung kaligrafi. Instalasi ini menjadi bukti nyata komitmen Puhua School dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif. Setiap siswa merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Melalui Puhua School Rekor MURI ini, sekolah tidak hanya menunjukkan kemampuan artistik dan kolaboratif siswanya. Lebih dari itu, mereka berhasil menyampaikan pesan universal tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman dan inklusivitas dalam pendidikan. Ini adalah langkah maju dalam memajukan kualitas pendidikan di Indonesia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi