Gubernur NTB Tegaskan Program Desa Berdaya Kunci Entaskan Kemiskinan Ekstrem
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyatakan Program Desa Berdaya adalah solusi utama untuk mengatasi kemiskinan ekstrem di wilayahnya, dengan fokus pada penguatan SDM dan potensi lokal demi kemandirian ekonomi masyarakat.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa Program Desa Berdaya yang sedang dijalankan pemerintah provinsi menjadi strategi utama untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan Iqbal di Mataram pada Sabtu, 15 Maret 2026, menyoroti pentingnya program ini dalam pembangunan daerah.
Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga secara signifikan menekankan penguatan sumber daya manusia di tingkat desa. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari kelompok tani, nelayan, pelaku UMKM, hingga komunitas perempuan dan pemuda, dilibatkan aktif. Mereka berperan dalam perencanaan serta pengelolaan potensi lokal yang ada.
Gubernur Iqbal mengungkapkan bahwa tujuan utama Program Desa Berdaya adalah menyediakan solusi komprehensif untuk berbagai permasalahan di tingkat desa hingga dusun, termasuk isu kemiskinan ekstrem. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Penguatan Sumber Daya Manusia dan Kolaborasi Lokal
Konsep Program Desa Berdaya dirancang dengan pendekatan 'bottom-up', yang berarti berbasis pada identifikasi kebutuhan dan potensi masyarakat desa itu sendiri. Gubernur Iqbal menekankan bahwa program ini memiliki karakter orkestratif dan kolaboratif, melibatkan pemerintah daerah, aparat desa, dan masyarakat secara sinergis.
Keterlibatan aktif dari berbagai kelompok masyarakat seperti kelompok tani, nelayan, dan pelaku UMKM menjadi inti dari penguatan sumber daya manusia. Mereka didorong untuk memaksimalkan potensi lokal secara kolektif, sehingga fondasi ekonomi berbasis lokal dapat semakin kuat. Hal ini disampaikan Iqbal saat mengunjungi Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat.
Wilayah Pulau Sumbawa, khususnya Kabupaten Sumbawa Barat, dinilai memiliki potensi sumber daya alam dan ekonomi yang melimpah. Potensi ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi, dengan Desa Berdaya sebagai fasilitator utama. Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa setiap intervensi program sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.
Intervensi Berbasis Keluarga dan Bantuan Tepat Sasaran
Melalui Program Desa Berdaya, pemerintah provinsi berupaya mengintervensi persoalan di tingkat desa dan juga di tingkat kepala keluarga (KK). Harapannya, setiap KK dapat mencapai kemandirian ekonomi dan memiliki penghasilan sendiri dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Ini merupakan target ambisius namun terukur dari program tersebut.
Selain penguatan kapasitas dan pendampingan, insentif berupa bantuan modal usaha juga diberikan kepada warga yang memiliki usaha kecil. Dukungan ini bertujuan untuk memperkuat usaha yang dijalankan, meningkatkan pendapatan, serta mendorong kemandirian ekonomi. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi bergantung pada bantuan sosial semata.
Penyaluran bantuan dalam program ini ditekankan harus lebih tepat sasaran. Bantuan konsumtif diberikan kepada warga yang benar-benar tidak berdaya, sementara bantuan produktif ditujukan bagi masyarakat yang masih memiliki potensi usaha. Skema ini memastikan bahwa setiap bantuan memberikan dampak maksimal terhadap peningkatan kesejahteraan.
Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Berkelanjutan
Target utama Program Desa Berdaya bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan memastikan masyarakat dapat berdaya dan hidup lebih sejahtera secara berkelanjutan. Pemerintah Provinsi NTB telah mengalokasikan anggaran untuk program ini, dengan 337 desa menjadi penerima manfaat pada tahap pertama.
Setiap desa penerima manfaat dapat menerima alokasi dana sekitar Rp300-500 juta, namun ada juga desa yang mendapatkan anggaran lebih besar melalui skema intervensi khusus. Intervensi ini berbasis pada jumlah keluarga miskin ekstrem di desa tersebut, memastikan alokasi dana sesuai dengan kebutuhan riil. Misalnya, Desa Buwun Mas di Lombok Barat menerima sekitar Rp4,1 miliar karena tingginya jumlah masyarakat miskin ekstrem.
Program Desa Berdaya juga menarik perhatian Kementerian Sosial (Kemensos) dan dilirik sebagai percontohan nasional dalam upaya pengentasan kemiskinan terpadu. Fokusnya pada desa-desa dengan tingkat kemiskinan ekstrem, dengan pendampingan khusus bagi sekitar 40 desa setiap tahunnya, menunjukkan komitmen kuat Pemprov NTB.
Sumber: AntaraNews