Gempa Magnitudo 7,6 di Bitung Picu Tsunami Minor, Satu Warga Meninggal Dunia Tertimpa Reruntuhan Gedung KONI Manado
Masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru kembali ke dalam gedung guna menghindari risiko tertimpa reruntuhan akibat kondisi bangunan yang tidak lagi stabil.
Wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara dilanda gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang lepas pantai Bitung pada Kamis (2/4) pagi.
Guncangan hebat yang berpusat di kedalaman 33 kilometer tersebut dilaporkan telah memakan korban jiwa dan memicu kenaikan permukaan air laut di sejumlah titik pesisir.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, hingga saat ini laporan mengenai korban jiwa telah masuk ke pusat data kebencanaan. Satu warga di Kota Manado dilaporkan meninggal dunia akibat kerusakan struktural pada salah satu gedung fasilitas publik.
"BNPB sudah menerima informasi satu korban jiwa akibat tertimpa runtuhan di gedung KONI Kota Manado," kata Abdul Muhari dalam keterangan video resminya, Kamis (2/4).
Picu Tsunami Minor
Tak hanya kerusakan fisik, gempa tersebut juga sempat memicu kekhawatiran akan ancaman gelombang tsunami. Berdasarkan data dari alat pengukuran pasang surut, terdapat kenaikan muka air laut yang signifikan namun masih dalam kategori minor di sepanjang pesisir dua provinsi tersebut.
"Ketinggian air yang teramati berkisar dari 10 hingga 76 sentimeter, sehingga kami pastikan telah terjadi tsunami minor," jelas Muhari.
Warga Diminta Tak Buru-Buru Kembali ke Gedung
Menyikapi kondisi bangunan yang banyak mengalami keretakan, BNPB mengeluarkan peringatan keras bagi warga di Kota Manado, Bitung, Minahasa Utara, hingga Ternate.
Masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru kembali ke dalam gedung guna menghindari risiko tertimpa reruntuhan akibat kondisi bangunan yang tidak lagi stabil.
"Jangan kembali memasuki dulu gedung-gedung fasilitas publik, perkantoran, fasilitas umum, fasdik, fasilitas pendidikan, sekolah, dan seterusnya, faskes, fasum, fasilitas ibadah, tolong dijauhi dulu," tegas Muhari.
Kekhawatiran BNPB didasari oleh adanya aktivitas gempa susulan yang masih terus terjadi di sekitar pusat gempa utama. Gempa susulan dengan kekuatan di atas Magnitudo 5 berpotensi besar merobohkan bangunan yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan atau kegagalan struktur.
"Ada beberapa gempa dengan kekuatan lebih dari magnitude 5 yang bisa saja memperbarah kerusakan yang sudah terjadi akibat gempa utama sehingga mungkin saja terjadi struktural failure atau gagal struktur atau rumah itu, gedung itu bisa ambruk," ujar dia.
Pemerintah melalui BNPB juga meminta agar masyarakat menunggu asistensi dari pihak berwenang seperti Kementerian PU atau Dinas Perkim sebelum memfungsikan kembali fasilitas umum.
Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan jiwa dan mencegah bertambahnya jumlah korban di masa tanggap darurat.
Sebagai langkah cepat penanganan bencana, Kepala BNPB dijadwalkan langsung bertolak ke lokasi terdampak di Sulawesi Utara dan Maluku Utara siang ini.
Kunjungan ini bertujuan untuk memetakan kebutuhan mendesak di lapangan serta memastikan dukungan sumber daya dan logistik segera tiba di tangan warga.
"Kepala BNPB juga akan ke lokasi, ke Sulawesi Utara dan Meluku Utara siang ini, sehingga kita harapkan sore nanti kita sudah mendapatkan gembaran utuh untuk dukungan-dukungan pengerahan sember daya, logistik, alat perangkat yang kita butuhkan untuk penanganan tanggap darurat," pungkasnya.