Kunjungan Kepala BNPB Minahasa: Pastikan Penanganan Gereja Terdampak Gempa M7,6
Kepala BNPB Letjen Suharyanto lakukan Kunjungan Kepala BNPB Minahasa, meninjau Gereja Katolik Rumengkor yang terdampak gempa M7,6. Bagaimana penanganan kerusakan bangunan gereja tersebut pasca bencana?
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Suharyanto, melakukan Kunjungan Kepala BNPB Minahasa ke Gereja Paroki Bunda Hati Kudus Yesus, Rumengkor, Kabupaten Minahasa. Kunjungan ini dilakukan pada hari Jumat (3/4) untuk meninjau langsung kondisi gereja pasca gempa bumi magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah tersebut pada Kamis (2/4).
Tujuan utama kedatangan Letjen Suharyanto adalah untuk memastikan kondisi bangunan gereja yang menjadi lokasi perayaan ibadah Jumat Agung. Gereja ini mengalami kerusakan, khususnya pada bagian plafon, akibat guncangan gempa yang cukup kuat.
Dalam kunjungannya, Kepala BNPB menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk membantu penanganan kerusakan. Beliau menyatakan bahwa penanganan kerusakan akan dikoordinasikan secara intensif dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa untuk memastikan proses rehabilitasi berjalan lancar dan cepat.
Peninjauan dan Bantuan Awal Kunjungan Kepala BNPB Minahasa
Dalam kesempatan Kunjungan Kepala BNPB Minahasa ini, Letjen Suharyanto tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga memberikan bantuan langsung kepada pihak gereja. Bantuan tersebut berupa uang tunai sebesar Rp10 juta dan paket makanan yang diperuntukkan bagi anak-anak serta lansia di lingkungan gereja.
Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban awal yang dirasakan oleh komunitas gereja setelah bencana gempa. Pihak BNPB berkomitmen untuk terus memantau dan memberikan dukungan yang diperlukan dalam proses pemulihan pasca gempa.
Pastor Paroki Bunda Hati Kudus Yesus Rumengkor, Pst Emmanuel Ohoiwutun, MSc, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta kepedulian dari pemerintah pusat. Beliau berharap agar bantuan yang telah dijanjikan dapat segera direalisasikan untuk perbaikan gereja dan pemulihan kondisi masyarakat.
Dampak Gempa M7,6 di Sulawesi Utara
Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Barat Daya Pantai Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, pada Kamis, 2 April 2026, pukul 05.48.14 WIB. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,25° LU; 126,27° BT.
Lokasi gempa ini tepatnya berada di laut, sekitar 129 kilometer arah Tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 33 kilometer. Guncangan gempa dirasakan kuat di berbagai wilayah, termasuk di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa.
Dampak gempa ini cukup signifikan, terutama di Kota Manado, di mana tercatat satu korban meninggal dunia dan beberapa warga mengalami cedera. Selain itu, gempa juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, seperti ambruknya sayap kiri gedung KONI Sario Manado. Di Minahasa, plafon Gereja Paroki Bunda Hati Kudus Yesus Rumengkor juga ikut jatuh akibat guncangan tersebut.
Langkah Koordinasi dan Pemulihan Pasca Gempa
Pasca Kunjungan Kepala BNPB Minahasa, koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa menjadi prioritas utama untuk penanganan kerusakan. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa bantuan dan upaya rehabilitasi dapat terintegrasi dengan baik di tingkat daerah.
Pemerintah pusat melalui BNPB akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan asesmen kerusakan lebih lanjut dan merumuskan rencana pemulihan yang komprehensif. Tujuannya adalah agar fasilitas publik dan rumah ibadah yang terdampak dapat segera diperbaiki dan berfungsi kembali.
Fokus pemulihan tidak hanya pada perbaikan fisik, tetapi juga pada dukungan psikososial bagi korban dan masyarakat yang terdampak. Hal ini merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana yang menyeluruh untuk memastikan masyarakat dapat bangkit kembali setelah menghadapi musibah.
Sumber: AntaraNews