Gempa Talaud M 7,1, Dapur MBG dan Puskesmas Roboh
Kerusakan yang disebabkan oleh gempa tersebut terdeteksi di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Damau dan Kecamatan Moronge.
Gempa bumi berkekuatan 7,1 yang melanda Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Sabtu malam (10/1/2026) pukul 22.58 Wita, menyebabkan kerusakan yang signifikan. Banyak bangunan, termasuk fasilitas umum dan rumah warga, mengalami keretakan hingga roboh.
"Dampak gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Talaud itu menyebabkan sejumlah bangunan retak, rusak, bahkan roboh," jelas Humas Basarnas Sulut, Nuriadin Gumeleng, pada Minggu malam (11/1).
Kerusakan akibat gempa tersebut terdeteksi di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Damau dan Kecamatan Moronge. Di Kecamatan Damau, Puskesmas setempat mengalami kerusakan parah, dengan beberapa bagiannya roboh.
"Di Kecamatan Moronge, pagar Gereja Germita Petra di Desa Moronge juga roboh. Selain itu, pagar rumah Keluarga Matei-Totaeng di Desa Moronge II juga mengalami kerusakan," tambahnya.
Di Desa Moronge Selatan, gedung Gereja Germita Jemaat Nazareth mengalami retak di beberapa bagian, dan kaca jendela pecah. Sementara itu, di Desa Moronge Selatan I, bangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri Moronge juga mengalami kerusakan dan roboh di beberapa tempat. "Padahal bangunan ini sedang dalam pengerjaan. Selain itu, rumah Keluarga Papia-Nusa juga mengalami kerusakan," tutupnya.
Talaud Diguncang oleh Gempa Bumi
Pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 22.58 Wita atau 21.58 WIB, wilayah Pantai Timur Kepulauan Talaud diguncang oleh gempa dengan magnitudo 7,1. Guncangan yang terjadi terasa hampir di seluruh wilayah Sulawesi Utara. "Terasa kuat," ungkap Amanda, seorang warga Manado yang merasakan getaran gempa tersebut. Pithein, yang berasal dari Kecamatan Kalongan di Kabupaten Talaud, juga merasakan dampak yang sama, "Kecamatan Kalongan, Kabupaten Talaud terasa kuat," ujarnya. Selain itu, sejumlah warga di Kota Tomohon, Minahasa Utara, Bitung, dan daerah lain di Sulut turut merasakan guncangan yang cukup signifikan ini.
Pusat Gempa
Analisis dari BMKG mengungkapkan bahwa gempa bumi ini memiliki parameter terbaru dengan magnitudo 6,4. Lokasi episentrumnya berada pada koordinat 3,76 LU dan 126,95 BT, yang tepatnya terletak di laut sejauh 40 km ke arah tenggara Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 31 km.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan, "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku."
Dia juga menambahkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun. Dampak dari gempa ini dirasakan di daerah Tobelo dan Sitaro dengan skala intensitas III-IV MMI. "Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah," ujarnya.
Sebaran Guncangan Gempa
Di wilayah Morotai, getaran gempa dirasakan dengan skala intensitas III MMI, yang artinya getaran tersebut terasa nyata di dalam rumah. Seolah-olah ada truk yang melintas, getaran ini cukup mengganggu aktivitas sehari-hari warga setempat. "Sedangkan di daerah Ternate, Minahasa Utara, dan Bitung dengan skala intensitas II-III MMI, atau getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun getaran tidak terlalu kuat, tetap ada dampak yang dirasakan oleh masyarakat di area tersebut.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan, gempa bumi ini tidak memiliki potensi untuk menimbulkan tsunami. Dengan demikian, meskipun ada getaran yang dirasakan, masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya ancaman tsunami yang biasanya menyertai kejadian gempa bumi besar. Penjelasan ini memberikan rasa tenang bagi warga yang mungkin merasa cemas akibat fenomena alam tersebut.