Getaran Gempa Bitung Rusak 1 Gereja dan 2 Rumah
Gempa M7,6 di Bitung berdampak hingga Ternate. Satu gereja dan sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan kuat.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah laut di tenggara Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (2/4) pagi, tidak hanya memicu kepanikan warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan, termasuk rumah ibadah di Ternate, Maluku Utara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, satu unit gereja di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, terdampak akibat kuatnya guncangan gempa. Selain itu, dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan, juga mengalami kerusakan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut dampak kerusakan tersebut merupakan hasil pendataan awal di lapangan.
“Dampak awal yang berhasil dihimpun menunjukkan adanya kerusakan ringan hingga sedang di wilayah Kota Ternate. Satu unit tempat ibadah di Kecamatan Pulau Batang Dua dilaporkan terdampak,” ujarnya.
Gempa Pagi Hari
Gempa yang terjadi pada pagi hari itu memiliki pusat di koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT dengan kedalaman 62 kilometer di bawah permukaan laut. Meski berpusat di laut, getarannya terasa kuat hingga wilayah Maluku Utara.
Di Ternate, warga merasakan guncangan selama 10 hingga 20 detik, cukup untuk membuat masyarakat berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri. Kepanikan juga dipicu oleh getaran susulan yang terjadi tidak lama setelah gempa utama.
BNPB mencatat dua gempa susulan terjadi dengan magnitudo 5,5 dan 5,2 dalam rentang waktu beberapa menit. Selain itu, sistem peringatan dini juga mendeteksi adanya gelombang laut kecil di sejumlah wilayah pesisir.
Di Halmahera Barat, tinggi gelombang tercatat sekitar 0,3 meter, sementara di Bitung mencapai 0,2 meter. Meski tidak berpotensi tsunami besar, fenomena ini tetap meningkatkan kewaspadaan masyarakat di kawasan pesisir.
Hingga saat ini, pendataan dampak kerusakan di wilayah Bitung dan sekitarnya masih terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, untuk tetap waspada dan menjauhi area pantai sementara waktu.
Selain itu, masyarakat diminta untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari aparat setempat, serta tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.
Pemerintah memastikan pemantauan situasi terus dilakukan dan pembaruan informasi akan disampaikan secara berkala sesuai perkembangan kondisi di lapangan.