Gemabudhi Cetak Rekor MURI, 10 Ribu Liter Ecoenzyme Restorasi Sungai Jeletreng Banten
Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) mencetak rekor MURI dengan melepas 10 ribu liter ecoenzyme restorasi sungai Jeletreng, Banten. Aksi ini menjadi bukti nyata ekoteologi Buddhis dalam menjaga lingkungan yang tercemar.
Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) menunjukkan komitmen nyata terhadap lingkungan. Mereka melepas 10 ribu liter ecoenzyme ke Sungai Jeletreng, Tangerang Selatan. Aksi ini bertujuan memulihkan kualitas air sungai yang tercemar residu pestisida.
Pelepasan ecoenzyme ini merupakan bagian dari perayaan hari ulang tahun ke-40 Gemabudhi. Kegiatan ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pelepasan ecoenzyme terbesar ke sungai. Inisiatif ini menjadi contoh nyata praktik ekoteologi.
Sungai Jeletreng, yang mengalir ke Sungai Cisadane, sebelumnya mengalami pencemaran. Kontaminasi terjadi akibat residu kimia dari pemadaman kebakaran gudang pada Februari lalu. Kementerian Agama mengapresiasi upaya Gemabudhi menjaga kelestarian lingkungan.
Upaya Gemabudhi dan Rekor MURI dalam Restorasi Sungai
Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) secara masif melakukan pelepasan 10 ribu liter ecoenzyme. Aksi ini dilakukan di Sungai Jeletreng, Tangerang Selatan, Banten. Sungai ini diketahui mengalir hingga ke Sungai Cisadane. Tujuannya adalah untuk restorasi sungai dan memulihkan kualitas air.
Pencemaran Sungai Jeletreng terjadi setelah insiden kebakaran gudang pada Februari lalu. Air dari upaya pemadaman tersebut bercampur dengan residu kimia. Campuran berbahaya ini kemudian mengalir ke sungai, menyebabkan kontaminasi pestisida.
Direktur Operasional MURI, Jusuf Ngadri, menyatakan bahwa aksi ini mencetak rekor. “Hari ini, MURI menyaksikan aksi pemuda Buddhis Indonesia menuangkan ecoenzyme,” ujarnya. Ini adalah pelepasan ecoenzyme terbesar ke sungai.
Pelepasan ecoenzyme ini merupakan bagian penting dari perayaan hari ulang tahun ke-40 Gemabudhi. Kegiatan ini menunjukkan komitmen organisasi. Mereka berupaya membantu memulihkan kualitas lingkungan Sungai Cisadane.
Ekoteologi Buddhis dan Pentingnya Menjaga Lingkungan
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, mengapresiasi langkah Gemabudhi. Ia menyebut aksi ini sebagai praktik nyata ekoteologi. “Semoga gerakan ini terus tumbuh,” kata Supriyadi. Komunitas diharapkan berkomitmen memproduksi lebih banyak ecoenzyme.
Ajaran Buddha sangat menekankan pentingnya merawat alam. Manusia sangat bergantung pada lingkungan untuk keberlangsungan hidupnya. Ada nilai yang menekankan tanggung jawab manusia. Ini termasuk menjaga hutan dan sumber daya alam lainnya.
“Agama Buddha juga mengajarkan kita untuk peduli terhadap hutan,” tambah Supriyadi. Ajaran tersebut menekankan pentingnya merawat alam. Dari alam semesta, kita menerima sumber kehidupan.
Konsep Paticcasamuppada, atau saling ketergantungan, juga diajarkan. Semua makhluk hidup saling bergantung satu sama lain. Pemahaman ini menjadi dasar moral bagi umat Buddha. Mereka didorong untuk melindungi lingkungan.
Sumber: AntaraNews