Kolaborasi Epik: Pilar, Menteri LH, dan Gemabudhi Tuang 10 Ribu Liter Ecoenzyme Pecahkan Rekor MURI di Sungai Jaletreng
Aksi tersebut menjadi bagian dari gerakan pemulihan lingkungan sungai yang sebelumnya sempat tercemar limbah kimia.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan mendampingi Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dalam aksi penuangan 10 ribu liter ecoenzyme ke Sungai Jaletreng, Kota Tangerang Selatan, Minggu (8/3).
Kegiatan yang digagas oleh Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) ini sekaligus berhasil mencatatkan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai aksi pembuangan ecoenzyme terbanyak.
Aksi tersebut menjadi bagian dari gerakan pemulihan lingkungan sungai yang sebelumnya sempat tercemar limbah kimia, sekaligus memperingati 40 tahun berdirinya organisasi pemuda Buddhis tersebut.
10 Ribu Liter Ecoenzyme
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 10 ribu liter ecoenzyme dituangkan ke aliran Sungai Jaletreng dari atas jembatan sungai oleh para relawan dan peserta kegiatan.
Ecoenzyme sendiri merupakan cairan organik hasil fermentasi limbah buah dan sayur yang dicampur dengan gula dan air.
Cairan ini dikenal memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan, termasuk membantu memperbaiki kualitas air sungai secara alami.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengapresiasi langkah Gemabudhi yang dinilai tidak hanya merayakan momentum organisasi, tetapi juga meninggalkan jejak nyata bagi lingkungan.
"Kita perlu apresiasi teman-teman Gemabudhi pada ulang tahun yang ke-40. Tidak hanya bicara angka umurnya, tetapi ada jejak dari lingkungan yang dihadirkan. Tentu upaya pemulihan Sungai Jaletreng dan Sungai Cisadane ini dapat terus kita lakukan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ecoenzyme dapat membantu memperkaya mikroorganisme alami di sungai sehingga meningkatkan kemampuan ekosistem dalam memperbaiki kualitas air secara alami.
"Kita percaya bahwa mikro-organisme yang ada di Sungai Jaletreng dan Cisadane dapat diperkaya dengan tambahan oksigen dan lain-lain dari ecoenzyme ini. Mudah-mudahan akan semakin menambah kapasitas sungai itu sendiri," tambahnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis nilai-nilai keagamaan juga efektif dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
"Pendekatan agama ini luar biasa efektif. Bayangkan dengan ibu-ibu di tengah kesibukannya mampu menghadirkan 10 ribu liter ecoenzyme. Jadi keyakinan itu menjadi penting dalam menjaga lingkungan," jelasnya.
Apresiasi
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Gemabudhi yang turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan di wilayahnya.
Menurut Pilar, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan organisasi keagamaan menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
"Pemerintah Kota Tangerang Selatan sangat mengapresiasi inisiatif Gemabudhi bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Agama dalam melakukan aksi nyata menjaga lingkungan. Gerakan ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sungai dapat menjadi gerakan bersama lintas komunitas dan lintas agama," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa upaya pemulihan sungai tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.
"Ini menjadi contoh bahwa menjaga sungai adalah tanggung jawab bersama. Kami berharap gerakan seperti ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi komunitas lainnya untuk ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di Kota Tangerang Selatan," katanya.