Jakarta – Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) bersama Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) baru-baru ini menggelar aksi besar-besaran. Mereka menebar 10.000 liter ekoenzim di Sungai Jeletreng, Kota Tangerang Selatan. Aksi ini merupakan respons cepat terhadap pencemaran pestisida yang melanda sungai tersebut setelah insiden kebakaran gudang penyimpanan bahan kimia pada Februari lalu.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag, Supriyadi, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk konkret dari ekoteologi yang diamanatkan Menteri Agama. Ia berharap gerakan positif ini akan terus meluas dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli lingkungan. Sungai Jeletreng sendiri memiliki peran vital karena bermuara ke Sungai Cisadane, sehingga pemulihannya sangat krusial bagi ekosistem yang lebih luas.
Pencemaran di Sungai Jeletreng terjadi akibat air sisa pemadaman kebakaran bercampur residu bahan kimia yang kemudian mengalir ke badan sungai. Aksi penebaran ekoenzim ini tidak hanya bertujuan membersihkan sungai, tetapi juga dicatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai penuangan ekoenzim terbanyak di sungai. Hal ini menunjukkan komitmen serius dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Ekoteologi dalam Ajaran Buddha: Merawat Alam sebagai Sumber Kehidupan
Supriyadi menjelaskan bahwa ajaran Buddha secara fundamental menekankan pentingnya menjaga alam semesta. Manusia hidup dan sangat bergantung pada lingkungan, sehingga memiliki kewajiban moral untuk merawatnya, termasuk hutan dan berbagai sumber daya alam lainnya. Konsep ini menjadi landasan kuat bagi umat Buddha untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, ia menguraikan konsep Paticca Samuppada atau saling keterhubungan yang diajarkan dalam Buddhisme. Konsep ini mengajarkan bahwa semua makhluk hidup saling bergantung satu sama lain, membentuk sebuah jaringan kehidupan yang tak terpisahkan. Pemahaman mendalam tentang keterhubungan ini menjadi dasar moral bagi umat Buddha untuk senantiasa menghargai dan menjaga lingkungan sebagai bagian integral dari kehidupan bersama.
“Prinsipnya adalah saling keterhubungan atau interbeing. Semua makhluk saling berkaitan sehingga harus saling menghargai dan saling menjaga,” ujar Supriyadi. Ajaran ini mendorong umat Buddha untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari alam, bukan sebagai entitas yang terpisah, sehingga memunculkan rasa tanggung jawab yang mendalam terhadap kelestarian lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Upaya Pemulihan Lingkungan dan Rekor MURI yang Menginspirasi
Aksi penebaran 10.000 liter ekoenzim di Sungai Jeletreng ini dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Ia didampingi oleh Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi, Ketua Umum Gemabudhi Bambang Patijaya, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, dan Ketua DPRD Tangerang Selatan.
Kegiatan monumental ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-40 Gemabudhi, sekaligus menjadi upaya nyata untuk membantu pemulihan kualitas lingkungan Sungai Cisadane yang tercemar. Dengan melibatkan berbagai pihak, aksi ini menunjukkan sinergi antara pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat dalam mengatasi masalah lingkungan.
Direktur Operasional MURI, Jusuf Ngadri, turut menyaksikan dan mengesahkan rekor penuangan ekoenzim terbanyak ini. “Pada hari ini MURI menjadi saksi aksi anak-anak Buddhis Indonesia yang menuangkan eco enzyme dalam rangka menyambut 40 tahun usia Gemabudhi,” kata Jusuf. Pencatatan rekor ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik dan mendorong lebih banyak inisiatif serupa di masa mendatang.
Advertisement
Advertisement
Gerakan Ekoenzim Berkelanjutan: Komitmen untuk Lingkungan yang Lebih Baik
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag tidak berhenti pada aksi penebaran di Sungai Jeletreng saja. Mereka telah menginisiasi gerakan yang lebih luas untuk menggerakkan umat Buddha memproduksi ekoenzim secara masif. Inisiatif ini juga direncanakan sebagai bagian dari persiapan menyambut perayaan Hari Raya Waisak, menunjukkan integrasi nilai-nilai keagamaan dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
Supriyadi menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan gerakan ini. “Nanti kami akan punya gerakan pembuatan ekoenzim secara masif. Hasilnya akan kita gunakan di tempat-tempat yang memang membutuhkan, tidak hanya di Sungai Jeletreng,” ungkapnya. Hal ini menandakan visi jangka panjang untuk menjadikan produksi dan penggunaan ekoenzim sebagai bagian dari praktik keagamaan dan kepedulian lingkungan umat Buddha di seluruh Indonesia.
Melalui gerakan ini, diharapkan ekoenzim dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk mengatasi berbagai masalah pencemaran lingkungan di berbagai daerah. Upaya berkelanjutan ini merupakan langkah progresif dalam mewujudkan ekoteologi dan menjaga kelestarian bumi untuk generasi mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews