FOTO: Perjuangan Paramedis di Tengah Wabah Campak Sumenep
Perjuangan paramedis di tengah wabah campak Sumenep menegaskan nyawa anak lebih berharga daripada perdebatan halal vaksin
Tiga tenaga kesehatan menembus jalanan Kota Sumenep dengan sepeda motor, membawa kotak vaksin biru dan daftar nama anak-anak yang harus segera disuntik. Dari rumah ke rumah, mereka berjuang menekan wabah campak yang telah berlangsung sembilan bulan terakhir di Pulau Madura.
Data Dinas Kesehatan mencatat, lebih dari 2.600 anak terinfeksi campak tahun ini. Sedikitnya 20 anak meninggal dunia. Sejak Agustus, pemerintah daerah meluncurkan kampanye besar dengan menyalurkan 78 ribu dosis vaksin, baik melalui klinik, sekolah, hingga layanan door-to-door.
Namun, upaya itu dihadapkan pada tantangan besar: sebagian warga menolak vaksin dengan alasan kehalalan. Gelatin dari babi yang dipakai sebagai penstabil vaksin dianggap najis oleh sebagian umat Islam. Meski Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menegaskan sejak 2018 bahwa vaksin campak-rubela haram, mereka tetap memperbolehkan penggunaannya demi darurat kesehatan hingga tersedia alternatif halal. “Harapannya pemerintah segera menemukan vaksin yang halal,” kata Musthafa, Sekretaris Jenderal MUI Sumenep.
Di lapangan, pro dan kontra masih terasa. Pujiati Wahyuni, seorang perawat sekaligus ibu, mengaku mengenal orang tua yang menolak vaksin. Namun, ia tetap memilih menyuntikkan vaksin campak pada putrinya. “Ini bukan soal sekarang saja, sebagian memang sejak awal tidak mau vaksin,” ujarnya.Keraguan serupa dialami Ayu Resa Etika, 28 tahun. Warga Desa Kebunan itu awalnya bimbang karena isu halal, tapi akhirnya mengizinkan anaknya divaksin setelah menyaksikan banyak balita dirawat akibat campak. “Kalau tidak divaksin, risikonya kematian. Jadi saya memilih kesehatan anak,” katanya
Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, berulang kali menghadapi wabah campak akibat rendahnya cakupan imunisasi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, cakupan vaksin campak-rubela turun dari 86,6% pada 2023 menjadi 82,3% pada 2024, jauh di bawah target 95% yang disyaratkan WHO untuk mencegah wabah. Selama puncak wabah Mei–Juli lalu, ruang isolasi rumah sakit daerah penuh. Setiap hari, ratusan kasus campak ditangani tenaga medis.
Kini, di tengah kekhawatiran soal kehalalan, satu hal jelas: tanpa vaksin, risiko nyawa anak-anak jauh lebih besar.