Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan informasi terbaru mengenai kejadian luar biasa atau KLB campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep.
"Hingga minggu ke-32 tahun 2025, tercatat 1.944 kasus suspek campak, dengan sebagian besar pasien berusia antara 0 hingga 4 tahun (53,3 persen)," ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam sebuah pernyataan tertulis pada Senin (25/8).
Selama periode Februari hingga Juli, terdapat 17 kematian yang disebabkan oleh campak, di mana sebagian besar dari mereka tidak memiliki riwayat imunisasi. Menanggapi kondisi ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan fasilitas kesehatan setempat telah melaksanakan sejumlah langkah, antara lain:
- Meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit PD3I, khususnya pada balita yang menunjukkan gejala ruam campak.
- Melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk menemukan sumber penularan dan kontak erat dari kasus yang ada.
- Meningkatkan upaya penemuan kasus suspek campak melalui kegiatan surveilans serta pemetaan kelompok masyarakat yang berisiko tinggi, seperti bayi, ibu hamil, anak-anak yang menderita penyakit berat, dan anak-anak yang mengalami malnutrisi.
- Berkoordinasi dengan berbagai program dan sektor untuk menyelesaikan masalah kesehatan lainnya, termasuk perbaikan gizi, pengendalian infeksi, dan komunikasi risiko.
- Memastikan ketersediaan vaksin dan semua logistik yang diperlukan serta melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) untuk campak. ORI direncanakan berlangsung dari 25 Agustus hingga 12 September 2025, yang ditujukan untuk anak-anak berusia 9 bulan hingga 6 tahun.
Advertisement
Peningkatan program imunisasi secara rutin
Langkah penting lainnya adalah memperkuat pelaksanaan imunisasi rutin serta melengkapi status imunisasi bagi individu yang belum atau tidak lengkap. Selain itu, pemberian vitamin A juga dilakukan untuk mencegah penularan penyakit dan mengurangi risiko sakit yang parah.
Di samping itu, sosialisasi kepada fasilitas kesehatan dan masyarakat mengenai kewaspadaan terhadap penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I), terutama campak pada anak balita, juga menjadi fokus. Fasilitas kesehatan dan Dinas Kesehatan juga bertanggung jawab untuk melaporkan setiap kasus yang menunjukkan gejala demam dan ruam makulopapular kepada Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Advertisement
Kemenkes berusaha mengatasi masalah campak
Dalam upaya menangani kasus campak, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan beberapa langkah strategis. Pertama, Kemenkes berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumenep, Dinas Kesehatan Jawa Timur, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan mitra setempat untuk penanganan yang lebih efektif. Selain itu, mereka juga mengirimkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) guna memahami penyebaran penyakit tersebut. Kemenkes turut mendampingi Dinas Kesehatan dalam melaksanakan survei cepat untuk menentukan target sasaran Outbreak Response Immunization (ORI).
Kemenkes juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap kondisi pasien campak.
Masyarakat disarankan untuk memantau kondisi pasien dan segera membawa mereka ke fasilitas kesehatan terdekat, seperti dokter, puskesmas, klinik, atau rumah sakit, jika muncul ruam campak. Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko komplikasi yang berbahaya.
Selain itu, penting bagi masyarakat untuk melengkapi imunisasi bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi atau yang belum pernah divaksinasi sama sekali. Kemenkes juga mengingatkan agar orang tua mengisolasi sementara anak yang terinfeksi campak di rumah untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Dalam menjaga kesehatan, masyarakat dihimbau untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini meliputi kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker untuk mencegah penularan, dan memastikan ventilasi rumah dalam keadaan baik. Selain itu, penting untuk memenuhi kebutuhan gizi dan cairan anak dengan memberikan makanan bergizi seimbang dan cukup minum agar daya tahan tubuh meningkat. Kemenkes juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi hoaks mengenai imunisasi dan obat alternatif, dan selalu merujuk pada informasi resmi dari Kemenkes, Dinas Kesehatan, atau tenaga kesehatan yang berkompeten.
Advertisement
Memahami tentang campak
Penyakit campak masih menjadi ancaman serius yang perlu diwaspadai. Penyakit ini disebabkan oleh virus campak dan ditandai dengan gejala seperti demam, batuk, pilek, serta mata yang berair. Setelah 2-4 hari, ruam-ruam akan muncul di kulit.
Tingkat penularannya sangat tinggi, di mana virus ini dapat menyebar melalui droplet sejak empat hari sebelum ruam muncul sampai empat hari setelahnya. Dokter Prima Yosephine dari Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa campak berbahaya tidak hanya karena cepat menular, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi yang serius.
"Kalau campak mengena ke anak yang gizinya jelek, maka anak ini biasanya langsung disertai dengan komplikasi diare berat, bahkan bisa sampai ke pneumonia, radang paru, radang otak," ujarnya dalam sebuah webinar tentang campak beberapa waktu lalu.
Selain komplikasi tersebut, campak juga dapat menyebabkan infeksi pada selaput otak yang berisiko mengakibatkan kehilangan penglihatan bagi penderitanya. Dalam kasus yang parah, penyakit ini bisa berujung pada kematian, terutama jika tidak diantisipasi dengan imunisasi.
Menurut Prima, satu-satunya cara untuk mencegah penyakit campak adalah melalui imunisasi. Ia menekankan pentingnya melakukan imunisasi sesuai jadwal agar risiko terkena penyakit ini dapat diminimalkan.