Dinkes Bali Gencarkan Imunisasi Campak di Karangasem, Respons Kasus Tinggi 2025
Dinas Kesehatan Bali menggencarkan program imunisasi campak di Kabupaten Karangasem menyusul dominasi kasus pada tahun 2025, bertujuan menekan penyebaran penyakit dan meningkatkan cakupan vaksinasi.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali secara aktif menggencarkan kegiatan imunisasi campak di Kabupaten Karangasem. Langkah ini diambil setelah pada tahun 2025, kasus campak di Bali didominasi oleh wilayah tersebut. Upaya ini merupakan respons cepat pemerintah daerah untuk melindungi anak-anak dari penyakit menular.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menyatakan bahwa respons cepat imunisasi telah dilakukan pada anak yang belum mendapatkan vaksin di wilayah terdampak. Pihaknya juga menerima surat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengejar kelengkapan imunisasi. Ini menunjukkan komitmen serius dalam penanganan kesehatan masyarakat.
Sepanjang tahun 2025, tercatat 109 kasus campak positif pada anak usia 8-9 tahun di Bali dari total 563 suspek yang diperiksa laboratorium. Kabupaten Karangasem menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan lebih dari 20 kasus positif, mendorong Dinkes Bali untuk fokus pada wilayah tersebut.
Dominasi Kasus Campak di Karangasem dan Respons Cepat Pemerintah
Pada tahun 2025, Kabupaten Karangasem menjadi daerah dengan jumlah kasus campak tertinggi di Bali. Dari total kasus positif yang tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota, Karangasem mencatat lebih dari 20 kasus. Situasi ini memicu perhatian serius dari Dinas Kesehatan Bali untuk segera mengambil tindakan.
I Gusti Ayu Raka Susanti menjelaskan bahwa setelah munculnya kasus-kasus tersebut, Dinkes Bali langsung melakukan respons cepat. Imunisasi diberikan kepada anak-anak yang belum mendapatkan vaksin di area terdampak. Langkah proaktif ini penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Selain itu, Dinkes Bali juga mendapatkan arahan dari Kemenkes untuk mengintensifkan upaya imunisasi. Instruksi ini memperkuat komitmen daerah dalam memastikan cakupan imunisasi campak yang optimal. Tujuannya adalah melindungi masyarakat, khususnya anak-anak, dari ancaman campak.
Strategi Dinkes Bali Hadapi Tantangan Penolakan Vaksin
Meskipun penting, program imunisasi campak menghadapi beberapa tantangan di lapangan. Pemetaan Dinkes Bali menunjukkan bahwa sebagian orang tua masih ragu memberikan vaksin untuk bayinya. Keraguan ini seringkali disebabkan oleh kekhawatiran terkait keamanan dan kehalalan vaksin.
Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya vaksinasi yang terdata secara resmi juga menjadi faktor penolakan. Untuk mengatasi hal ini, Dinkes Bali berinovasi dengan menggandeng berbagai pihak. Salah satunya adalah Kementerian Agama (Kemenag) ketika hendak melakukan vaksinasi di wilayah tertentu.
Kerja sama dengan Kemenag terbukti efektif, terutama di wilayah tertentu. Raka Susanti menyebutkan bahwa setelah berkolaborasi, banyak orang tua bersedia anaknya diimunisasi, bahkan dikumpulkan di masjid. Dinkes juga proaktif mendatangi sekolah-sekolah, termasuk institusi pendidikan bertaraf internasional, untuk menjangkau kelompok masyarakat yang tidak menggunakan layanan posyandu atau puskesmas.
Upaya-upaya kolaboratif ini bertujuan memastikan bahwa semua anak mendapatkan imunisasi yang diperlukan. Dinkes Bali berkomitmen untuk terus memberikan edukasi dan fasilitas imunisasi yang mudah diakses. Hasilnya, hingga saat ini, Dinkes Bali belum menemukan kasus campak baru di seluruh kabupaten/kota di Bali.
Pentingnya Imunisasi Campak Lengkap untuk Perlindungan Optimal
Capaian imunisasi campak di Bali menunjukkan bahwa pada anak usia 9 bulan telah mencapai 95,77 persen dari target 64.242 anak pada tahun 2025. Angka ini cukup tinggi dan menunjukkan kesadaran awal orang tua. Namun, tantangan muncul pada kelengkapan imunisasi lanjutan.
Untuk anak usia 18 bulan, capaian imunisasi campak baru menyentuh 87,86 persen dari sasaran 64.576 anak. Perbedaan angka ini mengindikasikan adanya kesalahpahaman di kalangan orang tua. Banyak yang mengira imunisasi campak hanya dibutuhkan di bawah usia satu tahun.
Padahal, menurut Raka Susanti, anak masih harus mendapatkan imunisasi lagi pada umur 18 bulan, bahkan ada imunisasi lanjutan di usia sekolah. Kelengkapan imunisasi sangat krusial untuk membangun kekebalan tubuh yang optimal terhadap campak. Edukasi berkelanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran ini.
Berkat langkah cepat dalam penanganan gejala, seluruh kasus campak rubella yang ditemukan di Bali hingga saat ini tidak ada yang menyebabkan kematian. Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan medis yang tepat. Imunisasi lengkap tetap menjadi benteng utama pencegahan.
Sumber: AntaraNews