Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, telah mengambil tindakan proaktif untuk mengatasi peningkatan kasus campak yang terjadi pada awal tahun 2026. Langkah penanganan ini diwujudkan melalui program imunisasi 'kejar' yang menyasar kelompok rentan. Peningkatan kasus suspek campak mencapai 38, dengan satu kasus terkonfirmasi positif.
Program imunisasi kejar ini difokuskan pada upaya preventif dengan mendata dan mengidentifikasi balita yang belum mendapatkan imunisasi campak. Inisiatif ini merupakan respons cepat terhadap lonjakan kasus yang tercatat selama periode Januari hingga Februari 2026, yang menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr. Aris Setiawan, menegaskan komitmen pihaknya. Ia menyatakan bahwa pendataan balita yang belum imunisasi segera dilakukan untuk mengikuti imunisasi kejar sebagai upaya pencegahan penyebaran.
Advertisement
Advertisement
Dinas Kesehatan Tulungagung mencatat adanya 38 kasus suspek campak selama periode Januari hingga Februari 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang hanya mencatat 12 suspek.
Menanggapi kondisi ini, Dinkes segera melakukan pelacakan kasus secara intensif. Proses ini melibatkan pengambilan sampel dari para suspek untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sebanyak 37 sampel darah dan satu sampel urine telah dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk analisis.
Hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi satu sampel urine positif campak. Mayoritas suspek campak yang teridentifikasi adalah anak usia di bawah lima tahun (balita), dan sebagian besar dari mereka belum menerima imunisasi dasar.
Advertisement
Advertisement
Sebagai respons terhadap temuan tersebut, Dinkes Tulungagung memperkuat langkah preventif dengan program imunisasi kejar. Program ini secara khusus menargetkan balita yang belum mendapatkan imunisasi campak. Tujuannya adalah untuk segera memberikan perlindungan kepada mereka dari penyakit menular ini.
Selain program imunisasi, Dinkes juga aktif melakukan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Edukasi ini menekankan pentingnya vaksinasi sebagai langkah paling efektif dalam mencegah penularan campak. Kampanye kesadaran publik ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi di seluruh wilayah Tulungagung.
Vaksinasi menjadi benteng utama perlindungan, terutama bagi balita yang rentan dan belum terlindungi. Penyakit campak menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau pilek, sehingga pencegahan melalui imunisasi sangat krusial.
Advertisement
Advertisement
Dinkes Tulungagung telah mengidentifikasi beberapa gejala umum yang muncul pada suspek campak. Gejala-gejala tersebut meliputi demam, ruam kemerahan pada tubuh, batuk, pilek, dan mata memerah. Tanda-tanda ini sangat mengarah pada infeksi campak yang memerlukan perhatian medis.
Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebar dengan sangat cepat. Penularannya terjadi melalui percikan air liur (droplet) yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara penularan ini.
Vaksinasi merupakan metode pencegahan yang paling aman dan efektif untuk melindungi diri dari campak. Dengan mendapatkan vaksin, individu, terutama balita, akan memiliki kekebalan terhadap virus campak. Ini juga membantu mencegah penyebaran penyakit di komunitas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews