FOTO: Musik di Lampu Merah, Kisah Kris Si Biola Jalanan dan Polemik Royalti
Di tengah polemik royalti musik, pengamen Kris Violinist bersama istrinya Anisa tetap menghibur pengendara bermotor di perempatan Juanda, Depok.
Di tengah polemik royalti musik yang ramai diperbincangkan, kisah berbeda datang dari perempatan Juanda, Depok. Setiap malam, dentingan biola dari Kris Violinist, istrinya Anisa, mengalun menghibur para pengendara di lampu merah.Repertoarnya beragam: dari Glenn Fredly, Chrisye, Reza Artamevia, hingga Frank Sinatra. “Kalau di Depok biasanya lagu viral yang diminta, kalau di Jakarta Barat lebih suka lagu-lagu mellow,” ujar Kris, 23 tahun.
Sejak kecil Kris hidup di jalanan, belajar musik secara otodidak tanpa sempat menamatkan SD. Ia bertemu Anisa sejak kecil dan kini mereka sudah dikaruniai dua anak. Dari mengamen, mereka bisa meraup Rp 3–5 juta sebulan. “Pernah kepikiran kerja kantoran, tapi tanpa ijazah gajinya pasti kecil. Di sini, walau jenuh, lebih bisa bertahan,” kata Kris.Meski musisi jalanan, selera musik Kris tinggi. Ia mengidolakan David Garrett serta pemain biola Indonesia Didiet Violin dan Hendri Lamiri.
Soal polemik royalti, Kris berpendapat distribusinya masih bermasalah. “Komposer dapatnya kecil. Di kafe malah dibebankan ke pelanggan, padahal belum tentu mereka mau dengar musik,” kritiknya.Bagi Kris, musik bukan sekadar penghasilan, melainkan jalan hidup. “Kami memang di jalanan, tapi musik selalu kami mainkan dari hati,” tutupnya.