Fakta Unik: UB Optimalkan IPTEK Budaya, Digitalisasi Candi dan Desain Batik dengan AI
Universitas Brawijaya (UB) serius mengoptimalkan IPTEK budaya untuk melestarikan warisan bangsa, termasuk digitalisasi candi dan pengembangan motif batik baru. Bagaimana UB melakukannya?
Universitas Brawijaya (UB) di Kota Malang, Jawa Timur, secara aktif mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Langkah ini diambil guna mendukung perkembangan signifikan dalam industri yang berbasis budaya di Indonesia. Upaya ini sejalan dengan visi kampus untuk melestarikan warisan bangsa.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Tri Wahyu Nugroho, menjelaskan bahwa budaya menjadi pilar penting dalam pengembangan IPTEK di UB. Kampus ini bertekad menciptakan keseimbangan antara sistem industri berbasis teknologi dan pelestarian budaya tradisional. Hal ini diungkapkan di Malang pada hari Sabtu (01/11).
Untuk mewujudkan visi tersebut, UB telah menjajaki kolaborasi strategis dengan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Pertemuan guna membahas konsep kerja sama ini telah diselenggarakan di Kota Malang pada Jumat (31/10) lalu. Kolaborasi ini bertujuan memanfaatkan teknologi digital untuk kemajuan budaya tanah air.
Visi UB dalam Pelestarian Budaya Digital
Universitas Brawijaya memiliki visi yang kuat dalam mengintegrasikan IPTEK dengan pelestarian budaya. Pengembangan IPTEK diarahkan untuk menunjang industri yang berbasis budaya, menjadikan nilai-nilai tradisional sebagai fondasi inovasi. Ini merupakan komitmen institusi terhadap warisan bangsa.
Salah satu wujud nyata dari komitmen ini adalah keberadaan AI Center di UB. Pusat kecerdasan buatan ini dimanfaatkan untuk memodernisasi upaya konservasi candi. Contohnya, digitalisasi relief dan pemindaian 3D dilakukan untuk mendokumentasikan serta melestarikan situs bersejarah.
Selain konservasi candi, AI Center juga berperan dalam pengembangan desain batik. Teknologi AI digunakan untuk menciptakan motif-motif batik baru yang tetap relevan dengan nilai-nilai tradisional. Ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat yang ampuh dalam melestarikan sekaligus mengembangkan budaya.
Tri Wahyu Nugroho menegaskan bahwa kemajuan IPTEK tidak boleh mengabaikan pelestarian budaya tradisional. Oleh karena itu, UB terus berupaya menciptakan keseimbangan antara sistem industri berbasis teknologi dan usaha melestarikan budaya. Kampus ini aktif menyelenggarakan berbagai event yang memadukan kebudayaan dengan teknologi kekinian.
Kolaborasi Strategis dengan Kementerian Kebudayaan
Dalam rangka memperkuat upaya digitalisasi kebudayaan, Universitas Brawijaya menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Langkah ini merupakan bagian dari strategi UB untuk melibatkan banyak pihak dalam pemanfaatan teknologi digital. Tujuannya adalah mengembangkan kebudayaan tanah air secara lebih luas.
Pertemuan penting antara UB dan Kemenbud telah berlangsung di Kota Malang pada Jumat (31/10). Dalam pertemuan tersebut, jajaran pimpinan UB diwakili oleh dua pakar terkemuka. Mereka adalah Kepala Laboratorium Animasi dan Multimedia, Dr. Redy Eko Prastyo, MIKom, serta Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI), Dr. Raden Arief Setyawan, MT.
Tim UB memaparkan berbagai inovasi yang telah dihasilkan dari pemanfaatan teknologi digital. Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah proyek GenBatik. Ini merupakan platform berbasis AI yang dirancang khusus untuk menghasilkan motif batik baru, menunjukkan potensi besar teknologi dalam seni tradisional.
Tri Wahyu Nugroho menyatakan bahwa pertemuan ini telah membangun fondasi yang kokoh untuk kolaborasi di masa depan. Sinkronisasi antara komitmen institusional UB dalam teknologi dan budaya dengan agenda nasional Kemenbud menjadi fokus utama. "Intinya adalah kami membangun komitmen bersama untuk bersinergi dalam pengembangan digitalisasi kebudayaan," ujarnya.
Inovasi Teknologi: GenBatik dan Masa Depan Budaya
Proyek GenBatik merupakan salah satu inovasi unggulan Universitas Brawijaya dalam ranah IPTEK budaya. Platform ini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menciptakan motif batik yang unik dan beragam. Dengan GenBatik, proses desain batik dapat menjadi lebih efisien dan inovatif, membuka peluang baru bagi para perajin.
Pengembangan GenBatik tidak hanya bertujuan untuk mempercepat proses desain. Lebih dari itu, proyek ini berupaya memastikan bahwa seni batik tetap relevan dan menarik bagi generasi muda. Integrasi teknologi dalam seni tradisional diharapkan dapat menarik minat lebih banyak orang untuk mempelajari dan melestarikan batik.
Selain GenBatik, pemanfaatan AI untuk konservasi candi juga menunjukkan komitmen UB terhadap pelestarian warisan budaya. Digitalisasi relief dan pemindaian 3D memungkinkan dokumentasi yang akurat dan detail. Ini sangat penting untuk studi, restorasi, dan edukasi publik mengenai situs-situs bersejarah.
Melalui berbagai inisiatif ini, Universitas Brawijaya membuktikan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Upaya UB Optimalkan IPTEK Budaya ini diharapkan dapat menjadi model bagi institusi lain. Tujuannya adalah untuk menciptakan masa depan di mana warisan budaya tetap lestari dan berkembang di era digital.
Sumber: AntaraNews