UNP Kediri Dorong Inovasi AI Desain Batik Dermo Menuju Pasar ASEAN

UNP Kediri berinovasi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk AI Desain Batik Dermo, berkolaborasi dengan UTP Malaysia, demi mengangkat potensi warisan budaya lokal ke pasar regional ASEAN.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
UNP Kediri Dorong Inovasi AI Desain Batik Dermo Menuju Pasar ASEAN
Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri manfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk inovasi desain batik, berkolaborasi dengan UTP Malaysia guna memperkuat Batik Dermo agar mampu bersaing di pasar ASEAN. (AntaraNews)

Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Jawa Timur, mengambil langkah progresif dengan mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan desain motif batik. Inisiatif ini bertujuan untuk membantu para perajin lokal di Kelurahan Dermo menciptakan variasi motif baru yang lebih adaptif. Kolaborasi strategis ini diharapkan dapat memperkuat identitas dan daya saing Batik Dermo di kancah regional.

Program ini tidak hanya fokus pada inovasi desain, tetapi juga melibatkan pertukaran budaya yang signifikan antara mahasiswa UNP Kediri dan Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia. Mereka bersama-sama mempelajari proses membatik tradisional serta teknik pembuatan wayang kulit. Keterlibatan langsung mahasiswa ini menjadi bagian penting dari pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal yang digagas UNP Kediri.

Melalui pemanfaatan AI dan kemitraan internasional, UNP Kediri berambisi membawa Batik Dermo meraih pengakuan yang lebih luas. Target "Go ASEAN" menjadi motivasi utama untuk mendorong produk batik lokal agar mampu menembus pasar Asia Tenggara. Ini merupakan upaya nyata dalam melestarikan sekaligus memodernisasi warisan budaya Indonesia.

Dekan Fakultas Teknik UNP Kediri, Sulistiono, menjelaskan bahwa batik merupakan warisan budaya tak benda Indonesia yang patut dilestarikan dan dikembangkan. Kota Kediri memiliki potensi batik yang besar, khususnya Batik Dermo, yang memerlukan penguatan identitas merek dan daya saing produk. Oleh karena itu, UNP Kediri mengarahkan mahasiswa untuk mendesain motif batik menggunakan AI.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam AI desain batik ini diharapkan dapat menghasilkan motif-motif baru yang beragam dan menarik. Desain-desain inovatif ini nantinya akan ditawarkan kepada perajin di Kelurahan Dermo. Tujuannya adalah agar Batik Dermo memiliki "branding" yang lebih kuat dan mampu bersaing, bahkan hingga mencapai pasar ASEAN.

Kolaborasi dengan Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia turut memperkuat upaya pengembangan UMKM batik di Kampung Batik Dermo. Fokus kerja sama internasional ini mencakup "rebranding" produk, inovasi desain, dan optimalisasi teknologi AI. Langkah ini krusial agar Batik Dermo dapat menembus pasar regional ASEAN dengan produk yang lebih adaptif terhadap selera internasional.

Program pengabdian masyarakat ini melibatkan mahasiswa UNP Kediri dan UTP Malaysia secara langsung di Kelurahan Dermo, Kota Kediri. Mereka tidak hanya mempelajari proses membatik secara tradisional, tetapi juga diajak menciptakan motif batik baru berbasis teknologi digital. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan desain yang lebih relevan dengan selera pasar global.

Selain pengembangan AI desain batik, mahasiswa dari kedua negara juga mendalami teknik membatik kain dan belajar membuat wayang kulit bersama perajin lokal. Sulistiono menegaskan bahwa kegiatan ini berfungsi sebagai sarana pertukaran budaya yang berharga. Ini juga menjadi bagian dari penguatan pengabdian masyarakat yang berlandaskan kearifan lokal, sebuah komitmen konsisten dari UNP Kediri.

Vice Provost Student Affairs UTP Malaysia, Saravanan Muthiah, menyatakan apresiasinya terhadap keterampilan masyarakat Kelurahan Dermo. Ia kagum dengan kemampuan mereka dalam membuat kerajinan batik dan upaya melestarikan batik yang bernilai seni tinggi. Saravanan melihat masyarakat di sana sangat cerdas dan terampil dalam bidang batik, menjadikannya pengalaman luar biasa bagi mahasiswanya.

Saravanan Muthiah menambahkan bahwa kegiatan di Kelurahan Dermo merupakan hasil kolaborasi antara UTP Malaysia dan UNP Kediri. Sebanyak 30 mahasiswa dan empat staf dari UTP Malaysia berpartisipasi dalam rangkaian pengenalan budaya ini. Mereka berkesempatan mengenal masyarakat secara lebih mendalam, terutama dalam bidang batik.

Para mahasiswa tidak hanya menyaksikan proses pembuatan batik secara langsung, tetapi juga mempraktikkan sendiri teknik membatik dan pembuatan wayang kulit. Keterlibatan aktif ini menjadi bagian integral dari upaya pelestarian budaya. Ini memungkinkan mereka untuk merasakan langsung nilai seni dan warisan yang terkandung dalam setiap karya.

Ahmad Idzhad Hamzie Bin Fazal Anuar, seorang mahasiswa UTP Malaysia, mengungkapkan kesan mendalamnya. Ia menyebutkan bahwa pengalaman membuat batik secara langsung, seperti mencanting batik dan membuat wayang kulit, adalah momen yang sangat berkesan. "Ini sememangnya satu pengalaman yang tidak bisa dilupakan," ujarnya, menyoroti pentingnya pengalaman langsung dalam memahami budaya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi