Fakta Terbaru: 'Mana HP Saya?' Keluarga Ungkap Kondisi Terkini Korban Pembakaran DPRD Makassar yang Mulai Sadar
Kondisi korban pembakaran DPRD Makassar, Budi Haryadi, mulai menunjukkan respons positif. Keluarga memohon doa dan meluruskan kabar hoaks seputar insiden tragis ini.
Kabar baik datang dari Rumah Sakit Primaya Makassar, tempat Budi Haryadi, salah satu korban insiden pembakaran Kantor DPRD Makassar, dirawat intensif. Pihak keluarga menyatakan bahwa kondisi Budi kini mulai menunjukkan respons, meskipun belum sepenuhnya sadar.
Saharuddin Daeng Sarring, ayah korban, menyampaikan permohonan doa dari semua pihak agar anaknya dapat pulih dan melanjutkan kehidupannya. Ia juga menegaskan bahwa keluarga sangat berharap Budi bisa selamat dari kondisi kritis yang dialaminya.
Insiden tragis yang terjadi pada Jumat (29/8) malam tersebut menyebabkan Budi Haryadi mengalami cedera serius. Kini, keluarga terus mendampingi dan memantau perkembangan kondisi Budi yang perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Perkembangan Kondisi Budi Haryadi Pasca Insiden
Kondisi Budi Haryadi, korban pembakaran DPRD Makassar, dilaporkan mulai merespons setelah menjalani perawatan intensif. Meskipun belum sepenuhnya sadar, ada tanda-tanda positif yang memberikan harapan bagi keluarga dan tim medis.
Saharuddin Daeng Sarring mengungkapkan bahwa anaknya sempat mengeluarkan beberapa patah kata secara spontan. "Tadi pagi tiba-tiba keluar kata di mulutnya. Dia bilang, mana HP saya, mau balas chat. Mana anakku, mana motorku, minta diisikan bensin," tutur Daeng Sarring.
Meskipun demikian, Budi masih merasakan sakit pada kaki dan tangannya, serta belum dapat dikatakan sadar sepenuhnya. Ia juga telah menjalani pemeriksaan X-ray untuk mengetahui lebih lanjut kondisi internalnya. Cedera utama yang dialami Budi pada malam kejadian adalah di bagian kepala, dengan banyak darah keluar dari mulut.
Meluruskan Kabar Hoaks dan Latar Belakang Korban
Di tengah upaya pemulihan Budi Haryadi, beredar kabar hoaks yang menyatakan dirinya meninggal dunia dalam peristiwa pembakaran DPRD Makassar. Keluarga Budi Haryadi sangat menyayangkan dan merasa keberatan dengan informasi sesat tersebut.
"Kemarin beredar beritanya bahwa korban yang meninggal kebakaran di gedung DPRD itu ada empat orang, termasuk salah satu anak saya. Dari pihak keluarga agak keberatan, minta tolong ini pihak medsos dan pers, harus diluruskan," tegas Daeng Sarring. Ia menambahkan bahwa anaknya masih dalam kondisi dirawat di rumah sakit dan belum meninggal.
Daeng Sarring menjelaskan, Budi Haryadi memiliki dua profesi. Selain menjadi mitra Grab untuk menambah penghasilan, Budi juga bertugas sebagai anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kantor Kecamatan Ujung Tanah dengan status PPPK Paruh Waktu sejak 2018. Pada malam kejadian, ia diperbantukan sebagai sopir untuk mengantar dan mendampingi Syaiful, Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Ujung Tanah, yang meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Respons Pihak Terkait dan Jumlah Korban Insiden
Pihak keluarga Budi Haryadi menyebutkan bahwa beberapa pejabat Pemerintah Kota Makassar telah membesuk korban di rumah sakit. Dinas Kesehatan dan beberapa pihak lainnya sudah datang memberikan dukungan. Namun, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar belum sempat menjenguk, kemungkinan karena kesibukan.
Insiden pembakaran Kantor DPRD Kota Makassar sendiri menelan delapan korban. Tiga orang dinyatakan meninggal dunia, yaitu Muhammad Akbar Basri alias Abay (Humas DPRD Makassar), Sarinawati (staf DPRD Makassar), dan Syaiful (Staf Kecamatan Ujung Tanah). Sementara itu, lima korban lainnya, termasuk Budi Haryadi, menderita luka-luka dan masih dalam perawatan.
Sumber: AntaraNews