Dulu Hanya Makan Nasi Garam, Kini Bisa Makan Buah dan Minum Susu Lewat Seporsi MBG
Merianti dan suaminya menghadapi tantangan ekonomi yang berat. Suaminya bekerja serabutan, kadang menjadi buruh bangunan dan kadang berkebun.
Di sebuah rumah panggung kecil yang terletak di tepi rawa kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Merianti mengasuh dua anaknya yang masing-masing berusia enam tahun dan empat tahun. Mereka hidup dalam keterbatasan yang cukup mengkhawatirkan, di mana terkadang makanan yang bisa disajikan hanya nasi dengan garam.
Saat ditanya mengenai kondisi makanan anak-anaknya sebelum mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Merianti menjawab dengan suara pelan.
"Nasi dengan garam, Pak. Kadang-kadang bapaknya ada duit. Ibaratnya lembur ada duit, kadang Rp50.000 ya, kadang beli sayur, beli tempe tahu, baru makan. Iya, minyak," ujarnya sambil menahan tangis saat ditemui di rumahnya.
Merianti dan suaminya menghadapi tantangan ekonomi yang berat. Suaminya bekerja serabutan, kadang menjadi buruh bangunan, kadang berkebun, dan kadang mencari ikan di sungai pada malam hari. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka harus pintar-pintar mengatur keuangan.
"Yang penting bagi keluarga ini adalah punya beras untuk dimasak. Jika ada uang lebih, barulah bisa membeli sayur atau tempe dan tahu sebagai lauk," jelas Merianti.
Untuk menambah penghasilan, ia juga sesekali bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangganya, namun kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan.
Rumah panggung berukuran sekitar 4 x 4 meter itu berdinding papan dan atap rumbia yang bolong di beberapa bagian. Saat hujan turun, air dengan mudah menetes dari celah-celah atap. "Kalau hujan tuh, Pak, kami nyelip ke sana," kata Merianti sambil menunjuk ke arah beranda.
Di dalam rumah, tidak ada sekat kamar maupun dapur, hanya ada kompor gas dan jerigen besar untuk menyimpan air minum. Dalam kondisi serba terbatas, Merianti harus merawat dua anak yang sering sakit-sakitan.
Kondisi kehidupan mereka mulai membaik setelah menerima manfaat dari program MBG melalui posyandu. Merianti merasakan perubahan signifikan dalam pola makan anak-anaknya.
"Sejak dapat MBG ni, Pak, ibaratnya tuh kadang anak nggak bisa makan buah, ibaratnya nggak bisa minum susu tuh bisa minum susu lah, bisa makan buah, bisa makan bolu," ungkapnya.
Ia juga merasakan perkembangan positif pada kesehatan anak-anaknya. "Iya, ada perkembangan, Pak. Iyalah ibaratnya tuh lancar, ibaratnya tuh badannya ini kan sehat," tambahnya dengan penuh harapan.
Setelah sempat berhenti mengambil MBG selama dua bulan akibat banjir, Merianti kembali rutin mengambil makanan dari posyandu. Ia mengungkapkan, berat badan anak-anaknya sempat menurun selama tidak mendapatkan asupan bergizi.
"Cuma kami ini merasa bersyukur lah, Pak. Walaupun dikit banyaknya kami terima, ya bersyukur. Kami nak dapat MBG ini kan makasih banyak," katanya.
Sebelumnya, anak-anaknya terdaftar di Posyandu Perigi, yang mengharuskan Merianti berjalan kaki selama 30 menit hingga satu jam untuk mengambil MBG. Kini, dengan pengalihan ke Posyandu Teratai 2, ia merasa lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5522430/original/097977600_1772765575-DSC09775.JPG.jpeg)
Di rumah kecil di tepi rawa itu, bantuan makanan sederhana dari program MBG telah memberikan perubahan kecil namun sangat berarti bagi kehidupan Merianti dan anak-anaknya. Kini, mereka bisa menikmati makanan yang lebih bergizi, yang sebelumnya sulit didapatkan. Dengan adanya program ini, Merianti merasa lebih optimis untuk masa depan anak-anaknya.