DPRD Jatim: Ketahanan Keluarga Fondasi Penting Hadapi Tantangan Era Digital
Anggota DPRD Jawa Timur menyoroti urgensi penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi utama untuk menghadapi berbagai tantangan sosial yang muncul di tengah pesatnya perkembangan era digital, menyusul isu perilaku menyimpang di Surabaya Timur.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menyerukan pentingnya penguatan ketahanan keluarga, pendidikan karakter, dan nilai moral. Hal ini menjadi upaya krusial dalam menghadapi beragam tantangan sosial yang muncul di tengah perkembangan era digital. Pernyataan ini disampaikan Lilik di Surabaya pada Minggu, 14 Juni 2026, sebagai bagian dari ajakan kepada masyarakat untuk menjaga fondasi kehidupan bermasyarakat.
Ajakan tersebut muncul menyusul perhatian publik terhadap dugaan aktivitas perilaku menyimpang dalam sebuah grup media sosial di kawasan Surabaya Timur. Fenomena ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang bijaksana dalam menyikapi dinamika ruang digital. Lilik menekankan pentingnya edukasi, pendampingan, serta pembinaan secara berkelanjutan untuk mengatasi persoalan serupa.
Menurut Lilik, kemajuan teknologi informasi, meskipun membawa banyak manfaat, juga menghadirkan tantangan baru yang memerlukan kesiapan kolektif. Masyarakat diharapkan memiliki kemampuan menyaring informasi, kampanye, dan gaya hidup yang beredar di media sosial agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Peran Ketahanan Keluarga di Era Digital
Era digital membawa berbagai kemudahan akses informasi, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan serius bagi ketahanan keluarga. Lilik Hendarwati menyoroti bahwa masyarakat perlu memiliki kemampuan kritis dalam menyaring berbagai konten yang tersebar luas di platform digital. Tanpa filter yang kuat, individu, khususnya generasi muda, rentan terpapar informasi atau gaya hidup yang belum tentu sesuai dengan norma dan etika sosial.
Penguatan pendidikan karakter dan akhlak menjadi langkah fundamental, terutama bagi generasi muda. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang berperan dalam menanamkan nilai-nilai dasar serta membangun kepribadian anak. Fondasi yang kuat dari keluarga akan membekali anak-anak dengan kemampuan untuk menghadapi arus informasi digital yang masif dan beragam.
Oleh karena itu, ketahanan keluarga bukan hanya tentang menjaga keutuhan rumah tangga, melainkan juga tentang membekali anggotanya dengan nilai-nilai moral dan etika. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi penerus yang tangguh dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat yang berpotensi merusak.
Sinergi Multi Pihak untuk Pendidikan Karakter
Pembentukan karakter generasi penerus bangsa membutuhkan keterlibatan aktif dari berbagai pihak. Lilik Hendarwati menegaskan bahwa peran orang tua, sekolah, tokoh agama, pemerintah, dan lingkungan masyarakat sangat vital. Sinergi dan kolaborasi antar elemen ini harus terus dibangun dan diperkuat untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan jati diri yang kokoh.
Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam memberikan teladan dan pendidikan moral di rumah, sementara sekolah berperan dalam membentuk kecerdasan intelektual dan emosional. Tokoh agama memberikan bimbingan spiritual, dan pemerintah bersama masyarakat menciptakan lingkungan yang kondusif. Kolaborasi ini penting agar anak-anak tidak mudah terpengaruh oleh berbagai tren yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Lilik juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari sikap saling menyalahkan atau memberikan stigma terhadap persoalan sosial yang muncul. Pendekatan konstruktif melalui dialog, edukasi, dan pembinaan adalah kunci dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di tengah masyarakat. Dengan demikian, upaya kolektif dapat lebih efektif dalam membangun ketahanan sosial.
Pendekatan Konstruktif Hadapi Persoalan Sosial
Dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang timbul akibat dinamika era digital, Lilik Hendarwati menekankan pentingnya pendekatan yang konstruktif dan tidak mengedepankan sikap saling menyalahkan. Menurutnya, penyelesaian masalah harus dilakukan melalui dialog terbuka, edukasi yang berkelanjutan, dan pembinaan yang positif. Pendekatan ini akan menciptakan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan.
Edukasi yang tepat akan membekali masyarakat dengan pemahaman yang lebih baik mengenai risiko dan peluang di era digital, serta cara menyaring informasi secara bijak. Sementara itu, pembinaan yang berkelanjutan akan membantu individu untuk mengembangkan karakter dan moral yang kuat. Ini adalah strategi efektif untuk memperkuat ketahanan sosial secara keseluruhan.
Penguatan ketahanan keluarga merupakan investasi jangka panjang yang sangat strategis. Hal ini tidak hanya menjaga kualitas generasi penerus, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat Surabaya di tengah perubahan zaman yang cepat. Dengan fondasi keluarga yang kuat, masyarakat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Sumber: AntaraNews