DPKP Kalsel Larang Petani Bakar Lahan Antisipasi Kemarau Panjang El Nino
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel mengeluarkan larangan tegas bagi petani untuk tidak membakar lahan sebagai upaya antisipasi kemarau panjang akibat El Nino. Langkah ini penting untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan secara resmi melarang aktivitas pembakaran lahan oleh petani. Larangan ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi krusial dalam menghadapi potensi kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada tahun ini.
Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan upaya utama untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karhutla sangat rentan terjadi dan meluas saat musim kemarau, terutama di wilayah Kalimantan Selatan yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini akan berdampak signifikan pada lahan pertanian di Kalimantan Selatan, sehingga membutuhkan kewaspadaan dan langkah antisipasi serius dari seluruh pihak, khususnya para petani.
Ancaman El Nino dan Dampaknya pada Lahan Pertanian
Fenomena El Nino yang diprediksi akan memperpanjang musim kemarau membawa ancaman serius bagi sektor pertanian di Kalimantan Selatan. Kondisi cuaca kering ekstrem ini dapat menyebabkan lahan pertanian menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Oleh karena itu, pembukaan lahan dengan cara membakar tidak lagi diperbolehkan karena risikonya sangat tinggi memicu kebakaran yang dapat meluas dengan cepat.
Selain melarang pembakaran lahan, DPKP Kalsel juga mengimbau para petani untuk melakukan pembersihan lahan dari rumput kering. Rumput kering merupakan bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar dan dapat mempercepat penyebaran api jika terjadi kebakaran. Mengurangi jumlah rumput kering di lahan dapat meminimalisir potensi terjadinya karhutla yang merugikan.
Syamsir Rahman juga menekankan pentingnya metode panen yang tepat saat musim kemarau. Petani diminta untuk memanen tanaman hingga ke bagian bawah menggunakan alat panen modern seperti combine harvester. Teknik ini bertujuan untuk meminimalkan sisa batang atau ilalang kering yang tertinggal di lahan, yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran.
Mitigasi dan Peran Berbagai Pihak
Dalam menghadapi potensi kemarau panjang akibat El Nino, DPKP Kalsel mendorong petani untuk menyiapkan berbagai langkah mitigasi tambahan. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah melakukan pengomposan sisa tanaman. Metode ini tidak hanya mengurangi biomassa yang mudah terbakar, tetapi juga menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.
Selain itu, pengaktifan kembali sumur bor juga menjadi prioritas guna memastikan ketersediaan air yang cukup selama musim kemarau. Ketersediaan air sangat vital tidak hanya untuk irigasi tanaman, tetapi juga sebagai sumber daya untuk upaya pemadaman dini jika terjadi kebakaran.
Peran pemerintah kabupaten dan kota dinilai sangat penting dalam mendukung upaya mitigasi ini. DPKP Kalsel menggarisbawahi pentingnya optimalisasi brigade pangan yang telah dilengkapi peralatan di lapangan untuk penanganan dini karhutla. Sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
Syamsir Rahman juga menekankan pentingnya kewaspadaan bersama melalui sistem keamanan lingkungan yang aktif. Sinergi dengan aparat keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga krusial dalam mengantisipasi dan menanggulangi potensi kebakaran. Saling menjaga dan saling mengingatkan di antara masyarakat adalah kunci utama dalam menghadapi musim kemarau ini.
Sumber: AntaraNews