Dorong Interaksi Keluarga, Menteri KemenPPPA Usulkan Permainan Tradisional di Stasiun Yogyakarta
Menteri KemenPPPA Arifah Fauzi mendorong KAI untuk menambahkan permainan tradisional di Stasiun Yogyakarta guna meningkatkan interaksi keluarga dan nilai budaya selama libur Nataru.
Menteri KemenPPPA Dorong Penambahan Permainan Tradisional di Stasiun Yogyakarta
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Arifah Fauzi, mendesak operator kereta api KAI untuk menghadirkan permainan tradisional lokal di Stasiun Yogyakarta. Desakan ini bertujuan untuk meningkatkan layanan ramah anak yang tidak hanya nyaman, tetapi juga kaya nilai budaya dan mendorong interaksi keluarga.
Usulan tersebut disampaikan Menteri Arifah saat melakukan inspeksi fasilitas penumpang di Stasiun Yogyakarta pada Jumat, 26 Desember. Kunjungan ini merupakan bagian dari peninjauan nasional terhadap layanan transportasi publik bagi perempuan dan anak-anak.
Penambahan permainan tradisional Stasiun Yogyakarta ini diharapkan dapat mendorong interaksi berkualitas antara orang tua dan anak selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini penting untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih bermakna bagi keluarga, sekaligus memperkenalkan warisan budaya lokal.
Meningkatkan Kualitas Interaksi Keluarga dengan Permainan Tradisional
Menteri Arifah Fauzi menekankan pentingnya area bermain anak yang tidak hanya menghibur secara pasif. Ia menginginkan fasilitas yang mampu mendorong interaksi bermakna antara orang tua dan anak-anak, sehingga waktu tunggu menjadi lebih berkualitas.
“Ini tentang memberikan waktu yang lebih berkualitas dan intensif bagi orang tua dengan anak-anak mereka saat bepergian,” ujar Fauzi. Konsep ini sejalan dengan upaya KemenPPPA dalam mendukung tumbuh kembang anak secara holistik dan memperkuat ikatan keluarga.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Fauzi mengusulkan pengenalan permainan tradisional sederhana yang mencerminkan budaya Yogyakarta. Contohnya termasuk mainan otok-otok, alat musik perkusi tradisional, dan kegiatan membuat kerajinan gerabah dasar.
Inisiatif penambahan permainan tradisional Stasiun Yogyakarta ini diharapkan dapat mengisi waktu tunggu penumpang dengan aktivitas edukatif dan menyenangkan. Selain itu, juga memperkenalkan warisan budaya lokal kepada generasi muda, menjadikannya pengalaman yang berkesan.
Fasilitas Ramah Perempuan dan Anak di Stasiun Yogyakarta
Selain permainan tradisional, Menteri Arifah juga mengapresiasi upaya KAI dalam menyediakan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan inklusif. Ia memuji fasilitas ruang tunggu, ruang laktasi, dan area bermain anak yang sudah ada di Stasiun Yogyakarta.
Fauzi menyambut baik penyediaan pengaturan tempat duduk khusus yang memungkinkan penumpang wanita duduk bersama. Menurutnya, hal ini meningkatkan keamanan dan kenyamanan, terutama bagi wanita yang bepergian sendiri.
Ruang laktasi di Stasiun Yogyakarta juga disebut sudah dilengkapi dengan baik, menyediakan tempat yang tenang dan pribadi untuk ibu menyusui. Ini menunjukkan komitmen KAI terhadap kebutuhan spesifik penumpang, khususnya ibu dan anak.
Manajer Humas KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menambahkan bahwa pihaknya telah menyediakan ruang laktasi di 15 stasiun. Selain itu, area bermain anak di empat stasiun besar serta pos kesehatan dengan 35 tenaga medis dan kemitraan dengan 51 rumah sakit juga tersedia.
Pentingnya Informasi Pelaporan Kekerasan Seksual
Dalam kunjungannya, Menteri Arifah Fauzi juga mendesak KAI untuk menampilkan informasi tentang layanan pengaduan dan pelaporan secara lebih menonjol. Informasi ini bisa melalui layar video atau teks berjalan di stasiun, untuk meningkatkan kesadaran penumpang.
Tujuannya adalah memastikan penumpang mengetahui cara melaporkan pelecehan seksual jika terjadi. Kesadaran akan saluran pelaporan sangat krusial untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua pengguna transportasi publik.
“Jika seseorang menyaksikan atau mengalami pelecehan, laporkan ke SAPA 129 atau melalui WhatsApp di 08111129129,” tegas Fauzi. Ini adalah langkah proaktif untuk melindungi penumpang dari potensi bahaya dan memastikan respons cepat.
Feni Novida Saragih juga menyatakan bahwa penumpang dapat melaporkan perilaku mencurigakan kepada staf stasiun, kondektur kereta, atau melalui Contact Center 121. Hal ini menunjukkan komitmen KAI dalam menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang.
Sumber: AntaraNews