Diskusi Panas di Semarang, Mahasiswa Tantang Gagasan Budiman Sudjatmiko soal Negara dan Rakyat
Mulai dari strategi pelaksanaan di lapangan hingga jaminan agar kebijakan yang dijalankan benar-benar berdampak bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sejumlah kalangan mahasiswa di Semarang melontarkan pertanyaan kritis kepada Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko, dalam sebuah forum diskusi.
Mereka menyoroti efektivitas program percepatan pengentasan kemiskinan, mulai dari strategi pelaksanaan di lapangan hingga jaminan agar kebijakan yang dijalankan benar-benar berdampak bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam video beredar diskusi sempat berlangsung panas. Ketegangan muncul saat sesi tanya jawab ketika seorang mahasiswa melontarkan kritik keras kepada mantan aktivis 1998 tersebut dalam dialog bertajuk 'Indonesia Emas atau Cemas?
Mengecam Narasi Idealisme
Ketua HMI Komisariat FISIP Undip, Muhammad Rafli Susanto, mengecam narasi idealisme yang disampaikan Budiman.
"Bapak jangan bicara soal keidealan negara kalau bapak tidak pernah memikirkan ide atau solusi yang menyentuh akar rakyat, seperti persoalan petani Pundenrejo, pikirkan hal demikian, jangan cacat logika terus," kata Rafli.
Budiman meminta Rafli mengelaborasi argumennya, namun Rafli menolak karena nantinya dia mengaku akan mengikuti aksi unjuk rasa yang berlangsung di Semarang.
Menantang Berdiskusi di Luar Forum
Rafli juga sempat menantang Budiman untuk berdiskusi di luar forum tersebut. Ketegangan muncul saat sesi tanya jawab ketika seorang mahasiswa melontarkan kritik keras kepada mantan aktivis 1998 tersebut. Mahasiswa yang mengaku pernah ditangkap saat aksi Hari Buruh Internasional (May Day) di Semarang dan menjalani hukuman selama tiga bulan itu mempertanyakan pandangan Budiman terkait kondisi Indonesia saat ini.
"Saya ditangkap pas May Day di Semarang. Saya dipenjara tiga bulan lamanya. Dalam sejarah aktivisme mahasiswa Indonesia, ribuan mahasiswa ditangkap. Saya kira Bapak hanya suram mendengar hal-hal tersebut," ujarnya.
Kemudian menilai Budiman telah kehilangan sikap kritis setelah masuk ke lingkar pemerintahan. Menurutnya, pemerintah justru sedang membangun narasi yang membuat masyarakat terlena.
"Saya rasa Bapak sangat munafik ketika berbicara bahwa pemerintah tidak sedang meninabobokan rakyat. Justru saya kira itulah cara negara membangun ideologi yang membuat orang-orang seperti Bapak duduk di depan hari ini," katanya.
Hadapi Gerakan Mahasiswa
Tak hanya itu, mahasiswa tersebut juga menyebut argumentasi Budiman sarat kekeliruan logika dan tidak memahami realitas yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini.
"Saya hanya ingin mengkritisi argumen Bapak yang sangat cacat, logical fallacy, buta terhadap pemikiran mahasiswa. Jangan berbicara soal keidealan negara kalau tidak pernah memikirkan solusi yang menyentuh akar persoalan rakyat," jelasnya.
Usai menyampaikan pendapatnya, mahasiswa itu memilih meninggalkan ruangan. Budiman sempat meminta yang bersangkutan tetap berada di forum untuk melanjutkan diskusi, namun ditolak oleh semua mahasiswa.
"Enggak perlu mengatur saya sebagai rakyat Indonesia, Pak," balas mahasiswa tersebut.
Abaikan Etika
Budiman menyebut pengalaman pernah ditahan tidak serta-merta membuat seseorang berhak mengabaikan etika dalam forum diskusi.
"Percaya, tiga bulan ditahan tidak memberikan Anda hak untuk tidak menghormati forum. Anda tidak lebih hebat dari mereka yang hadir di sini," kata Budiman.
Setelah mahasiswa itu keluar ruangan, Budiman memberikan tanggapan panjang. Ia menilai kritik yang disampaikan lebih banyak didorong pengalaman pribadi dibanding upaya menawarkan solusi bagi masyarakat.
"Inilah yang disebut victim mentality. Apa kontribusinya bagi membangun peradaban? Apa kontribusinya bagi membangun kecerdasan kolektif kita?" ujarnya
Budiman menegaskan pengalaman menjadi korban represi negara tidak boleh dijadikan dasar untuk merasa paling benar. Dia membandingkan pengalaman mahasiswa tersebut dengan dirinya yang pernah dipenjara selama 13 tahun.
"Saya pernah di penjara 13 tahun. Saya tidak merasa lebih hebat dari teman-teman. Saya tidak merasa pengalaman itu membuat saya paling benar," katanya.
Kritik Terhadap Pemerintah Tetap Penting
Menurut Budiman, kritik terhadap pemerintah tetap penting, namun harus dibarengi dengan gagasan dan solusi yang konkret.
"Negara tidak bisa dibangun hanya dengan kemarahan. Negara dibangun dengan gagasan, dengan argumentasi, dan dengan kemampuan menghadirkan jalan keluar," ujarnya.
Menanggapi kritik tersebut, Budiman menyatakan bahwa keputusannya masuk ke pemerintahan merupakan bentuk aktivisme yang dilakukan melalui jalur berbeda. Dia bergabung ke pemerintahan untuk mendorong perubahan dari dalam sekaligus memperjuangkan kepentingan masyarakat miskin melalui kebijakan negara
Sebelumnya, Budiman menjelaskan pandangannya mengenai arah pembangunan nasional yang menurutnya menggabungkan pemikiran Soekarno dan Soemitro Djojohadikusumo.
Ia juga mengingatkan bahaya disinformasi yang dapat memicu ketidakpercayaan dan perpecahan di tengah masyarakat. Meski diwarnai adu argumen antara peserta dan pembicara, forum tersebut berlangsung kondusif dan menjadi ruang dialog langsung antara mahasiswa, masyarakat sipil, dan pemerintah pusat.
Perdebatan tersebut menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian peserta dalam forum yang membahas arah Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Diskusi yang digelar Forum KAFKA di Embun Senja Coffee itu juga menghadirkan akademisi Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Hasyim Asy'ari.