Peluncuran Buku Syahganda di ITB, Dasco Tekankan Pentingnya Persatuan Sipil
Menjelang azan magrib, suasana ruangan tetap penuh. Para peserta bertahan menunggu pidato pamungkas Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Kamis sore (5/3) dipadati ratusan peserta dari berbagai kalangan. Aktivis lintas generasi, mahasiswa, akademisi, tokoh politik hingga profesional berkumpul dalam seminar nasional sekaligus peluncuran buku Menggugat Republik karya Syahganda Nainggolan.
Menjelang azan magrib, suasana ruangan tetap penuh. Para peserta bertahan menunggu pidato pamungkas Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menjadi penutup diskusi bertajuk
"Prabowonomics, Demokrasi dan Arah Republik ke Depan".
Saat Dasco naik ke podium, ruangan mendadak hening. Ia membuka pidatonya dengan menyinggung isi buku yang baru diluncurkan tersebut.
"Buku ini sangat kritis," kata Dasco.
Menurut dia, karya tersebut lahir dari kegelisahan bahwa demokrasi sering berjalan secara prosedural, tetapi belum tentu mampu menghadirkan distribusi manfaat pembangunan secara adil.
"Demokrasi juga meniscayakan keadilan terutama keadilan ekonomi. Tanpa itu, kohesi sosial kita bisa tergerus," ujarnya.
Mengajak masyarakat sipil
Dalam pidatonya, Dasco mengajak masyarakat sipil untuk memperkuat persatuan nasional. Ia mengatakan publik sering bertanya berapa lama Presiden Prabowo Subianto perlu diberi waktu untuk menunaikan janji-janji politiknya.
Namun menurutnya, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa cepat masyarakat sipil dapat bersatu untuk menjaga stabilitas nasional.
"Berapa lama waktu yang diperlukan agar masyarakat sipil bersatu, menguatkan persatuan nasional, agar Prabowo punya waktu menunaikan janji-janjinya?” kata Dasco.
Ia juga menyinggung persoalan struktural yang masih dihadapi pemerintah, termasuk soal perizinan pertambangan yang dinilai tidak selalu memberikan manfaat bagi negara.
“Kalau ada IUP tapi tak memberi keuntungan pada negara, pemerintah cabut,” ujarnya.
Pidato tersebut menutup rangkaian seminar yang sejak siang berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan kritis dari para pembicara.
Menggugat Arah Republik
Acara itu digelar untuk meluncurkan buku terbaru Syahganda Nainggolan berjudul Menggugat Republik. Buku tersebut membedah arah demokrasi Indonesia sekaligus menawarkan kerangka gagasan yang oleh penulisnya disebut Prabowonomics.
Dalam paparannya, Syahganda menyinggung perjalanan intelektual dan aktivisme politiknya di ITB.
“Kami digodok di sini,” katanya merujuk pada lingkungan kampus. “Para aktivis yang dibentuk di kampus ini tak pernah gentar untuk terus berjuang membela kebenaran.”
Ia juga menyebut dirinya dan banyak aktivis kampus dibentuk oleh pemikiran kerakyatan Soekarno. Menurutnya, gagasan tersebut ia lihat kembali dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
"Cuma Soekarno dan Prabowo yang saya rasakan sebagai pemimpin dengan ideologi kerakyatan yang kuat," kata Syahganda.
Dalam salah satu bagian bukunya, ia menulis bahwa republik perlu terus dikritik agar tidak kehilangan ruh keadilan sosial.
"Republik harus terus digugat agar tidak kehilangan jiwanya jiwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat," kata dia.
Seminar Hadirkan Sejumlah Tokoh
Seminar nasional tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, antara lain Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, pengamat politik Rocky Gerung, Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Sejumlah pejabat dan tokoh nasional juga hadir sebagai undangan, di antaranya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Tenaga Kerja Yassierli, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, serta Rektor ITB Tatacipta Dirgantara.
Dalam diskusi, Rocky Gerung menjadi salah satu pembicara yang paling menarik perhatian peserta.
“Kebijakan memang harus selalu diinterupsi agar ia tidak menjadi monolitik,” kata Rocky.
Ia menilai istilah Prabowonomics kini mulai menjadi bagian dari perdebatan ekonomi politik di Indonesia.
"Tugas intelektual adalah membedahnya. Bahkan mungkin mempertengkarkannya," ujarnya.
Sorotan Industrialisasi dan Ekonomi Rakyat
Dalam sesi lain, Moh Jumhur Hidayat menyoroti pentingnya kebangkitan kembali sektor industri nasional. Ia menyebut kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.
"Dulu sekitar 30 persen. Sekarang tinggal sekitar 18 persen," kata Jumhur.
Ia melihat gagasan Prabowonomics sebagai peluang untuk mendorong kembali industrialisasi nasional.
"Saya menyebutnya MIIGA Make Indonesia Industry Great Again," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan bahwa konsep ekonomi kerakyatan menjadi fondasi pemikiran ekonomi Presiden Prabowo.
Menurut Ferry, salah satu implementasi gagasan tersebut adalah penguatan koperasi desa.
"Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi jalan agar kehidupan warga lebih baik," kata dia.
Konstitusi
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun juga menyinggung perhatian Presiden Prabowo terhadap prinsip ekonomi konstitusi.
"Tidak banyak presiden yang mengutip Pasal 33 UUD 1945 secara detail. Prabowo melakukannya berkali-kali,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan program makan bergizi gratis (MBG) sebagai salah satu kebijakan yang menitikberatkan pada kesejahteraan rakyat.
Interupsi Mahasiswa
Menjelang sesi akhir seminar, tiga perwakilan mahasiswa ITB meminta kesempatan berbicara. Panitia kemudian memberi mereka waktu menyampaikan pandangan.
Salah satunya adalah Presiden Mahasiswa ITB, Farel Faiz Firmansyah.
“Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” kata Farel. Ia menyoroti kondisi ekonomi masyarakat serta sejumlah kebijakan negara yang menurutnya perlu dikritisi.
Ia juga menyinggung persoalan lingkungan dan perizinan pertambangan.
“Setiap kali ada bencana kita selalu menyalahkan alam. Tapi siapa yang memberi izin tambang di daerah kritis?” ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu reaksi beragam dari peserta seminar. Sebagian mengangguk setuju, sementara yang lain tampak menyimak dengan serius.
Perjalanan Politik
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam sambutannya menyebut Syahganda sebagai salah satu tokoh yang mempengaruhi perjalanan politiknya.
“Ada satu orang dalam hidup saya yang berhasil memprovokasi saya menjadi politisi,” kata Hetifah sambil tersenyum.
Menurut dia, judul buku Menggugat Republik mencerminkan karakter Syahganda yang konsisten mengkritik dan mengingatkan arah perjalanan bangsa.
Tak lama kemudian azan magrib berkumandang dari Masjid Salman ITB. Para peserta pun berbuka puasa bersama, sementara perbincangan tentang masa depan republic dan konsep Prabowonomics masih berlanjut di berbagai sudut aula.