PPI Jepang Gelar Diskusi “Kapan Kita Seperti Jepang?”, Rocky Gerung hingga Dikki Akhmar Jadi Narasumber
Rocky menilai terlalu mengutamakan elektabilitas berisiko memunculkan pemimpin yang populer namun miskin kapasitas moral dan intelektual.
Pemikir sosial-politik Rocky Gerung menegaskan bahwa kriteria utama seorang pemimpin Indonesia di masa depan bukanlah popularitas, melainkan etikabilitas—kemampuan untuk jujur, berpegang pada etika, dan tidak melakukan kesalahan moral.
“Etikabilitas adalah fondasi moral paling penting. Pemimpin harus jujur, tidak berbohong, dan mampu mempraktikkan etika dalam kehidupan sehari-hari. Setelah lolos uji etikabilitas, barulah intelektualitas diuji—kemampuan berpikir logis, berdebat, dan mengambil keputusan berbasis keadilan. Elektabilitas justru kriteria terakhir,” ujar Rocky dalam diskusi yang digelar PPI Jepang bersama Komunitas Akal Sehat Indonesia, Rabu (8/10), di Harajuku, Tokyo.
Rocky menilai terlalu mengutamakan elektabilitas berisiko memunculkan pemimpin yang populer namun miskin kapasitas moral dan intelektual.
Ia menantang mahasiswa Indonesia di Jepang untuk berani mengedepankan akal sehat dalam menentukan pilihan politik, bukan sekadar ikut arus popularitas.
Diskusi bertajuk “Kapan Kita Seperti Jepang? Dari Bertanya Kapan ke Bertindak Bagaimana” itu juga menghadirkan Ketua APCASI Dikki Akhmar dan Ketua PPI Jepang Prima Gandhi, yang mendorong mahasiswa agar belajar dari konsistensi Jepang serta berani menciptakan momentum perubahan bagi Indonesia.
Sementara itu, Dikki Akhmar menekankan pentingnya mahasiswa menggunakan pendekatan rasional dalam menciptakan bisnis berkelanjutan. Ia menyoroti integrasi antara ekonomi dan lingkungan sebagai kunci keberlangsungan usaha.
“Bisnis tidak hanya sekadar untung secara finansial, tetapi juga menjaga ekosistem. Dengan inovasi di bidang bioenergi dan sawit ramah lingkungan, kita bisa beradaptasi jangka panjang. Mahasiswa Indonesia harus berani berkolaborasi menciptakan model bisnis beretika, berbasis ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab sosial,” ujar Dikki.
Ketua PPI Jepang, Prima Gandhi, menyebut forum ini sebagai upaya memperkuat dialog intelektual antar mahasiswa Indonesia di Jepang.
“Kita ingin menjadikan Jepang bukan hanya cermin kemajuan, tetapi juga laboratorium pembelajaran. Dari sini, mahasiswa Indonesia bisa membawa gagasan dan aksi nyata yang bermanfaat untuk tanah air,” ucapnya.