Disdikbud Kaltim Perkuat Tiga Pilar Kebudayaan sebagai Identitas Khas Wilayah
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur mengukuhkan tiga pilar kebudayaan, yaitu pedalaman, keraton, dan pesisir, sebagai identitas khas wilayah, sekaligus menjaga warisan leluhur dan menarik minat generasi muda.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur (Kaltim) secara aktif memperkuat tiga pilar kebudayaan yang menjadi identitas khas wilayah tersebut. Tiga pilar ini meliputi kebudayaan suku pedalaman, tradisi keraton, dan masyarakat pesisir. Upaya ini dilakukan untuk melestarikan kekayaan budaya lokal yang beragam dan unik di Kaltim.
Penguatan ini bertujuan menjaga keunikan budaya Kaltim yang bertumpu pada warisan leluhur yang kaya. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kaltim, Sih Sudiyono, menegaskan pentingnya langkah ini untuk memastikan keberlangsungan budaya. Keberagaman ini menjadi fondasi utama identitas daerah yang harus terus dilestarikan.
Strategi pelestarian yang diterapkan mencakup pengusulan cagar budaya peringkat nasional dan berbagai program pemberdayaan generasi muda. Tujuannya adalah menarik minat generasi Z terhadap warisan tradisi lokal agar tidak tergerus zaman. Inisiatif ini diharapkan mampu mengangkat kebudayaan Kaltim ke kancah nasional dan internasional.
Mengenal Tiga Pilar Kebudayaan Kaltim
Kebudayaan Kalimantan Timur memiliki fondasi kuat yang terbagi menjadi tiga pilar utama yang saling melengkapi. Pilar-pilar ini mencerminkan kekayaan dan keragaman masyarakat setempat yang telah terbentuk selama berabad-abad. Tiga pilar tersebut adalah kebudayaan suku pedalaman, tradisi keraton, dan masyarakat pesisir, masing-masing dengan karakteristik unik yang membentuk identitas Kaltim.
Pilar pedalaman merepresentasikan kekayaan tradisi luhur Suku Dayak yang hidup berdampingan secara harmonis dengan kelestarian alam dan lingkungan hutan wilayah setempat. Sebagai contoh, tradisi pesta panen yang dirangkai dalam Lom Plai di Muara Wahau, Kutai Timur, menjadi bukti nyata kekayaan ini. Penguatan juga mencakup gelaran budaya Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang, yang terus dijaga kelestariannya.
Sementara itu, pilar keraton mewarisi nilai adiluhung peninggalan kerajaan bersejarah seperti Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Kelestarian tradisi keraton ini terus dijaga eksistensinya hingga zaman sekarang, menunjukkan penghormatan terhadap masa lalu. Warisan ini menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya Kaltim yang tak ternilai.
Kemudian, pilar pesisir mencerminkan tingginya dinamika masyarakat perairan yang terbuka terhadap akulturasi peradaban melalui jalur pelayaran perdagangan sungai maupun perairan lautan. Salah satunya tercermin pada Pelas Laut Desa Sekerat, Kutai Timur, sebuah ritual yang menunjukkan adaptasi budaya dengan lingkungan maritim. Pilar ini menggambarkan interaksi budaya yang dinamis di wilayah pesisir.
Upaya Pelestarian Warisan Budaya dan Pemberdayaan Generasi Muda
Disdikbud Kaltim secara konsisten mengupayakan pelestarian warisan peradaban daerah melalui berbagai program strategis. Salah satu langkah konkret adalah pengusulan Cagar Budaya Peringkat Nasional setelah melewati serangkaian tahapan kajian akademis yang sangat dalam dan berjenjang. Sejumlah cagar budaya nasional yang telah berhasil ditetapkan pemerintah di antaranya Museum Mulawarman, Museum Sadurengas, Lamin Mancong, dan Masjid Jami' Aji Amir Hasanuddin, menegaskan komitmen pelestarian ini.
Instansi pemerintah terkait juga tetap konsisten mengupayakan berbagai program pemberdayaan generasi muda. Tujuannya adalah menarik minat generasi Z terhadap pelestarian tradisi kebudayaan lokal agar mereka terlibat aktif. Program pembinaan tersebut meliputi implementasi Gerakan Seniman Masuk Sekolah guna menutupi kekurangan pengajar kesenian di berbagai daerah.
Selain itu, pelaksanaan kegiatan perlombaan cerdas cermat sejarah lokal juga digalakkan untuk meningkatkan pemahaman sejarah. Ajang duta budaya dan paduan suara Gita Bahana Nusantara turut diselenggarakan untuk menyediakan panggung berekspresi bagi para generasi muda berprestasi nasional. Inisiatif ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepemilikan terhadap budaya daerah.
Mengukuhkan Kuliner Tradisional dan Visi Kebudayaan Kaltim
Sektor kuliner tradisional juga menjadi perhatian utama dalam upaya pelestarian budaya di Kalimantan Timur. Makanan khas daerah ini telah mendapatkan pengakuan penting sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Amplang Samarinda, Kue Amparan Tatak, dan Jajak Juragan Mabok resmi mengantongi status tersebut, meningkatkan nilai dan promosi kuliner lokal.
Disdikbud Kaltim kini berfokus menyusun usulan pendaftaran kuliner lainnya untuk mendapatkan pengakuan serupa. Kue Keminting menjadi nominasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun ini, menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam melestarikan kekayaan kuliner daerah. Langkah ini diharapkan dapat menambah daftar warisan kuliner yang diakui secara nasional.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kaltim, Sih Sudiyono, menekankan pentingnya sinergi yang kokoh dari berbagai pihak. Sinergi ini diperlukan agar kebudayaan Kalimantan Timur mampu berdiri sejajar dengan daerah peradaban maju layaknya Provinsi Bali dan Yogyakarta. Visi ini mendorong kolaborasi semua pihak untuk mencapai tujuan pelestarian dan pengembangan budaya yang lebih luas.
Sumber: AntaraNews