Deretan Kecelakaan Laut Tragis di Selat Bali, Memakan Banyak Korban Jiwa
Kecelakaan tragis di Selat Bali, termasuk KMP Tunu Pratama Jaya, menunjukkan pentingnya keselamatan pelayaran.
Selat Bali kembali menjadi sorotan setelah terjadinya kecelakaan tragis KMP Tunu Pratama Jaya pada 2 Juli 2025. Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, mengalami insiden yang mengakibatkan banyak korban. Kecelakaan ini menambah daftar panjang kejadian serupa di perairan tersebut, yang dikenal dengan kondisi cuaca dan arus yang menantang.
KMP Tunu Pratama Jaya berangkat sekitar pukul 22.56 WIB dan mengalami gangguan pada pukul 23.20 WIB. Kapal ini meminta bantuan melalui radio sebelum mengalami blackout dan akhirnya terbalik di perairan Cekik, Gilimanuk. Hingga saat ini, pencarian korban masih berlangsung, dengan data sementara menunjukkan 4 orang meninggal dan 38 orang masih hilang.
Penyebab kecelakaan ini masih dalam penyelidikan, namun ada indikasi gangguan mesin dan listrik, serta cuaca buruk yang diduga memperburuk situasi. Operasi pencarian dan penyelamatan melibatkan Basarnas, TNI AL, Polri, dan ASDP, meskipun kondisi gelombang tinggi menyulitkan upaya tersebut.
Kronologi Kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya
Kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya dimulai saat kapal berangkat dari Pelabuhan Ketapang. Berikut adalah kronologi kejadian:
- 22.56 WIB: Kapal berangkat menuju Pelabuhan Gilimanuk.
- 23.20 WIB: Kapal mengalami gangguan dan meminta bantuan melalui radio.
- 23.35 WIB: Kapal mengalami blackout dan terbalik.
Kapal ini mengangkut 65 orang, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru, serta 22 kendaraan. Data korban menunjukkan sekitar 23-31 orang selamat, sementara 4 orang dilaporkan meninggal dunia dan 38 orang masih dalam pencarian.
Kecelakaan Kapal di Selat Bali
Selat Bali memiliki sejarah panjang kecelakaan kapal yang mencatatkan banyak korban jiwa. Beberapa kecelakaan yang terjadi sebelumnya antara lain:
- Oktober 1985: Tenggelamnya kapal PLM Labalikan akibat cuaca buruk, 13 awak selamat, 12 hilang.
- 1994: Tenggelamnya feri LCT Kaltim Mas II akibat arus kuat dan ombak tinggi, mengakibatkan puluhan korban jiwa.
- 2016: Tenggelamnya KMP Rafelia 2, diduga karena kelebihan muatan.
- Mei 2021: Tenggelamnya KMP Yunicee akibat terseret arus dan hantaman ombak tinggi.
Kecelakaan-kecelakaan tersebut menunjukkan bahwa Selat Bali merupakan perairan yang berisiko tinggi bagi pelayaran. Kondisi arus yang kuat dan cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.