Angin Kencang Picu Kapal Sulit Bersandar di Dermaga Ketapang, Arus Balik Lebaran Terganggu

Koordinator Satuan Pelayanan Pelabuhan Ketapang menjelaskan penyebab kapal sulit bersandar di dermaga akibat angin kencang 23 knot, berpotensi ganggu arus balik Lebaran 2026.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Angin Kencang Picu Kapal Sulit Bersandar di Dermaga Ketapang, Arus Balik Lebaran Terganggu
Koordinator Satuan Pelayanan Pelabuhan Ketapang menjelaskan penyebab kapal sulit bersandar di dermaga akibat angin kencang 23 knot, berpotensi ganggu arus balik Lebaran 2026. (AntaraNews)

Koordinator Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur, mengungkapkan bahwa beberapa kapal feri mengalami kesulitan saat bersandar di dermaga Ketapang. Kondisi ini terjadi pada Jumat (H+5 Lebaran 2026) mulai pukul 09.00 WIB. Kesulitan ini dipicu oleh kecepatan angin yang mencapai 23 knot di Selat Bali.

Akibat kecepatan angin yang tinggi, aktivitas bongkar muat kapal menjadi terhambat. Kapal-kapal membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 10 hingga 15 menit, untuk dapat bersandar dengan aman. Meskipun demikian, kapal feri masih mampu beroperasi melayani pemudik yang akan menyeberang ke Pulau Bali.

BPTD Ketapang secara intensif berkoordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) guna memastikan keselamatan pelayaran. Pemantauan cuaca dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi perubahan kondisi yang dapat membahayakan. Batas aman kecepatan angin untuk kapal bersandar di dermaga adalah 15-20 knot.

Kecepatan angin yang mencapai 23 knot di penyeberangan Selat Bali pada Jumat (H+5 Lebaran 2026) secara signifikan memengaruhi proses bersandar kapal feri. Koordinator Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat kapal membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit untuk bersandar. Batas aman kecepatan angin untuk kapal bersandar di dermaga sebenarnya berkisar antara 15-20 knot.

Untuk menjaga keselamatan pelayaran, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur terus berkoordinasi erat dengan BMKG. Evaluasi perkembangan kecepatan angin akan dilakukan setiap tiga jam. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi terkini dan memastikan tindakan pencegahan yang tepat.

Bayu Kusumo Nugroho juga mengimbau seluruh pengguna jasa agar selalu mengikuti arahan petugas di lapangan. Ia menegaskan bahwa apabila kondisi cuaca memburuk dan kecepatan angin mencapai 30 knot, penundaan pelayaran akan diberlakukan demi keselamatan. Operator kapal juga diwajibkan untuk mematuhi arahan dari pihak pelabuhan.

Data dari Posko Angkutan Lebaran Pelabuhan Ketapang menunjukkan dinamika arus balik pada periode H+4 Lebaran (26 Maret 2026). Selama 24 jam penuh, dari pukul 00.00 hingga 23.59 WIB, tercatat sebanyak 213 trip kapal telah beroperasi di Pelabuhan Ketapang. Angka ini mencerminkan aktivitas yang cukup padat meskipun ada kendala cuaca.

Realisasi total penumpang yang menyeberang dari Jawa menuju Bali pada H+4 Lebaran mencapai 43.963 orang. Jumlah ini menunjukkan penurunan sekitar 7,1 persen dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 47.343 orang. Penurunan juga terlihat pada kendaraan roda dua, dengan 7.635 unit menyeberang atau turun 6,7 persen dari 8.185 unit tahun sebelumnya.

Kendaraan roda empat yang menyeberang juga mengalami penurunan sebesar 9,6 persen, dari 5.401 unit tahun lalu menjadi 4.882 unit. Namun, tren berbeda terlihat pada angkutan barang dan bus. Total truk yang menyeberang mencapai 1.065 unit, naik signifikan 26,6 persen dibandingkan 841 unit tahun lalu. Sementara itu, bus yang menyeberang mencapai 314 unit, naik 1,6 persen dari 319 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi