Jakarta, ibu kota yang selama ini identik dengan hiruk pikuk dan kemacetan, kini menunjukkan transformasi signifikan. Kota ini seolah sedang jatuh cinta pada konsep yang selama puluhan tahun nyaris terlupakan: ruang bagi manusia yang berjalan kaki. Perubahan ini bukan sekadar pembangunan gedung atau jalan layang baru, melainkan pergeseran filosofi menuju kota yang lebih humanis dan berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, berbagai inisiatif telah diluncurkan untuk mewujudkan visi ini. Mulai dari perluasan area Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) hingga revitalisasi taman kota dan trotoar, Jakarta berupaya menyediakan lebih banyak ruang terbuka bagi masyarakat.
Transformasi ini bertujuan untuk menciptakan kenyamanan dan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat, mengubah citra Jakarta dari kota yang hanya sibuk menjadi kota yang juga peduli pada kualitas hidup warganya. Langkah-langkah ini menandai era baru pembangunan perkotaan di Jakarta yang lebih inklusif.
Advertisement
Advertisement
Salah satu wujud nyata dari Wajah Baru Jakarta adalah perluasan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) ke Jalan HR Rasuna Said. Peresmian HBKB Rasuna Said oleh Gubernur Pramono Anung bertepatan dengan perayaan ulang tahun Jakarta yang ke-499 tahun, menandai komitmen kota untuk menyediakan lebih banyak ruang publik.
Kawasan ini kini menjadi tempat baru bagi warga untuk beraktivitas tanpa suara mesin dan klakson yang biasa mendominasi. Masyarakat dapat berlari, bersepeda, bermain sepatu roda, atau sekadar berjalan kaki bersama keluarga, menikmati inti kota dengan cara yang berbeda.
Pemilihan Rasuna Said sebagai lokasi HBKB baru bukan tanpa alasan; kawasan CFD Sudirman-Thamrin sudah terlalu padat setiap akhir pekan. Menariknya, area ini juga telah mengalami perubahan drastis dengan disingkirkannya tiang-tiang monorel yang terbengkalai.
Advertisement
Jalan yang tadinya terseparasi kini menyatu, lebih lebar, dan nyaman dilihat, dilengkapi dengan trotoar yang semakin luas serta peremajaan halte bus dan TransJakarta yang terintegrasi dengan perhentian Jabodebek.
Advertisement
Konsep taman kota di Jakarta juga mengalami evolusi, tidak lagi sekadar rumput dan bangku, melainkan ruang yang memiliki kepribadian dan fungsi beragam. Contohnya adalah Taman Gapura Muka di Cakung, yang dulunya lahan tidur penuh sampah, kini menjadi tempat bermain, ruang urban farming, dan amfiteater kecil bagi warga.
Di Koja, Jakarta Utara, kolong Jalan Tol Wiyoto Wiyono yang kumuh telah diubah menjadi Taman Si Pitung, sebuah taman kering dengan fasilitas lapangan futsal dan skatepark. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memperkenalkan konsep vertical garden dan rain garden, serta memanfaatkan ruang-ruang di bawah jalan layang yang selama ini sering terabaikan. Inovasi taman kota ini adalah bagian penting dari Wajah Baru Jakarta yang lebih hijau dan fungsional.
Kolong jalan layang Pasar Rebo, yang sebelumnya sudah memiliki skatepark berstandar internasional, kini dilengkapi fasilitas sasana tinju, dengan rencana serupa di Kampung Melayu. Ini menunjukkan bahwa tidak ada ruang yang benar-benar sia-sia, bahkan sudut kota yang terlupakan pun dapat menemukan kehidupan baru.
Advertisement
Selain itu, Jakarta juga menghadirkan Taman Bendera Pusaka, yang menyatukan Taman Langsat, Ayodya, dan Leuser menjadi satu kawasan hijau dengan lintasan joging sepanjang 1,2 kilometer. Tak ketinggalan, Taman Anak Sejahtera hadir sebagai ruang pengasuhan dan pendidikan anak usia dini gratis bagi keluarga prasejahtera, memastikan setiap anak memiliki ruang untuk tumbuh.
Advertisement
Perhatian terhadap trotoar menjadi cerminan jujur dari hubungan sebuah kota dengan warganya, dan Jakarta kini memberikan prioritas pada kenyamanan pejalan kaki. Trotoar di jalan-jalan protokol Jakarta kini lebih lebar dan nyaman dilalui, berbeda dengan kondisi sebelumnya yang sering rusak atau disalahgunakan.
Revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah menjadi simbol perubahan pola pikir ini. JPO yang telah berdiri sejak 1968 tersebut kini dilengkapi lift bagi penyandang disabilitas dan ruang berjalan yang lebih lega, meskipun DPRD DKI Jakarta masih mengingatkan akan banyaknya pekerjaan rumah terkait aksesibilitas.
Pergeseran perspektif ini terlihat dari upaya membangun jalan-jalan yang nyaman bagi pejalan kaki, alih-alih hanya berfokus pada pembangunan jalan layang atau bawah tanah untuk kendaraan. Halte-halte TransJakarta juga ditata ulang agar terhubung lebih baik dengan JPO, LRT, Commuter Line, dan layanan JakLingko.
Advertisement
Di kawasan Latumeten, pembangunan jalan layang disertai penataan halte untuk memastikan perpindahan antarmoda yang mulus. Ini menunjukkan bahwa perjalanan pengguna transportasi publik dimulai sejak langkah pertama keluar rumah, dan Jakarta berupaya menjadikan setiap langkah tersebut nyaman dan terintegrasi. Perkembangan ini merupakan elemen penting dari Wajah Baru Jakarta yang mengutamakan mobilitas humanis.
Sumber: AntaraNews