Curah Hujan Tinggi Picu Banjir, Kawasan Guci Tegal Kembali Porak Poranda
3 jembatan vital di kawasan wisata Guci, yakni Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, serta jembatan gantung di Pancuran 5, putus.
Kawasan wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal kembali banjir bandang disertai longsor akibat hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Kamis (22/1) hingga Sabtu pagi (24/1).
Satgas Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, M Wisnu Imam mengatakan derasnya hujan membuat putusnya tiga jembatan vital di kawasan wisata Guci, yakni Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, serta jembatan gantung di Pancuran 5.
"Ketiganya merupakan akses utama penghubung antarobjek wisata dan menuju ke Desa Guci," kata Wisnu Imam.
Menurut warga sekitar Taufik mengatakan debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat (23/1) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang kawasan wisata.
“Awalnya cuma hujan deras, tapi tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” kata Taufik, warga RT 4 RW 2 Desa Guci, Sabtu (24/1).
Puncaknya terjadi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus bercampur lumpur dan pasir pada pukul 02.00 WIB dini hari.
“Air naik cepat sekali. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” ungkapnya.
Fasilitas Wisata Hancur
Tak hanya memutus akses utama menuju Pancuran 13 dan Pancuran 5, banjir bandang juga menyebabkan kerusakan parah fasilitas wisata. Pancuran 13 Guci hancur dan tertimbun lumpur, satu unit alat berat beko rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai porak-poranda.
Bencana juga disertai longsor di bukit atas Desa Guci. Longsor dilaporkan cukup parah dan menambah kepanikan warga. Sebanyak 700 bibit pohon yang rencananya akan ditanam di lereng Gunung Slamet pada 7 dan 15 Februari 2026 mendatang ikut hanyut terbawa banjir.
Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menyebut ratusan hektare hutan produksi dan sekitar 50 hektare hutan lindung sudah beralih fungsi jadi lahan sayuran.
"Ini sudah memprihatinkan. Kalau ini terus dibiarkan, lereng Gunung Slamet benar-benar jadi bom waktu,” kata Sobirin.
Pihaknya mendesak adanya penanaman pohon berakar kuat secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.
"Kami minta penanaman kopi, alpukat, dan tanaman keras lainnya. Harus berlanjut tidak hanya sekali,” ungkap Sobirin yang juga Ketua Kelompok Tani Hutan Berkah Wana Guci.