Catat, Lapor ke Nomor Handphone Ini Jika Temukan Impor Ilegal
Kementan memiliki hotline WhatsApp Lapor Pak Amran yang dapat digunakan untuk mengadukan temuan impor ilegal.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa Kementan memiliki hotline WhatsApp Lapor Pak Amran yang dapat digunakan untuk mengadukan temuan impor ilegal.
“Nah ini nomornya, nomor handphone 082311109390. Kami tidak lanjuti. Tetapi banyak laporan, ada ribuan laporan yang masuk ini,” tutur Amran di kediamannya Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (25/11).
Yang terbaru, Amran mengungkapkan temuan 40,4 ton beras impor ilegal di Batam. Upaya tersebut berdasarkan hasil dari aduan Lapor Pak Amran, berikut bukti video kapal mencurigakan bersandar di pelabuhan Tanjung Sengkuang.
“Khusus beras, minyak goreng, karena kita produksi terbesar, itu nggak boleh masuk sekarang ini. Minyak goreng, kita produksi terbesar. Beras, Alhamdulillah sudah banyak. Sehingga kita katakan nggak boleh masuk di wilayah Republik Indonesia. Dalam bentuk apapun, kan bisa saja nanti ke depan ada lagi yang meminta. Tapi untuk sementara jangan membuat petani kita 115 juta demotivasi,” kata dia.
Barang Bukti
Diketahui, tidak hanya beras dalam kapal tersebut. Terdapat pula selundupan gula pasir 4,5 ton; minyak goreng 2,04 ton; tepung terigu 600 kilogram; susu 900 liter; parfum 240 pieces; mie impor 360 pieces; dan frozen food 30 dus.
“Ini minyak goreng sangat ironis. Kita produsen terbesar dunia, tetapi ilegal masuk minyak goreng. Sekali lagi, kita produsen terbesar dunia, tetapi kenapa ada minyak goreng masuk. Ini menjadi perhatian kita semua,” ujar Amran.
“Kami sudah koordinasi Pak Kapolda, Pak Pangdam, Gubernur, sudah kami telepon semua. Telepon langsung supaya jangan ada salah persepsi. Kita jaga Republik ini bersama. Jadi kami bicara, ada petani di belakang kami 160 juta. Petani padi ada 115 juta. Kami jaga mereka. Kami kita harus jaga bersama mereka. Kemana mereka mau mengadu kalau bukan kepada kita semua,” sambung Amran.
Dalam pengungkapan kasus beras impor ilegal ini, sebanyak 5 anak buah kapal atau ABK ditangkap. Amran belum memastikan asal dari selundupan komoditas yang mengganggu program swasembada pangan tersebut, namun untuk yang masuk lewat jalur tikus ke Batam diduga berasal dari Thailand.
“Rencana 4 tahun swasembada, akan swasembada. Alhamdulillah Insyaallah tahun ini swasembada. Nah ini kita jaga. Jadi dampaknya 1 liter, 10 ton, 1 ton, dengan 1 juta itu sama, psikologinya ke para petani. Petani kita harus jaga itu 100 juta lebih. Ini kita harus jaga bersama. Kemudian juga Bapak Presiden sudah sampaikan bahwasannya, ini kita Insyaallah swasembada. Tahun 2025 tidak import lagi,” Amran menandaskan.