BMKG Ingatkan Waspada Potensi Banjir Rob Pesisir NTT 22-24 Maret 2026
Masyarakat pesisir Nusa Tenggara Timur diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob pesisir NTT yang diprediksi terjadi pada 22-24 Maret 2026, fenomena ini dapat mengganggu aktivitas harian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mewaspadai potensi banjir rob atau banjir pesisir. Fenomena ini diprediksi akan terjadi pada tanggal 22-24 Maret 2026. Peringatan dini ini berlaku mulai Minggu (22/3) hingga Selasa (24/3).
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Yandri Anderudson Tungga, menyatakan bahwa imbauan ini ditujukan khusus bagi masyarakat pesisir pantai. Wilayah yang terdampak meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, pesisir Pulau Sumba, pesisir Pulau Sabu-Raijua, dan pesisir Pulau Timor-Rote. Kewaspadaan sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampak yang mungkin timbul.
Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi fenomena fase bulan baru pada 19 Maret 2026 dan fase perigee pada 22 Maret 2026. Kedua fenomena astronomis ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum. Selain itu, dinamika pesisir juga dipengaruhi oleh kecepatan angin, tinggi gelombang, serta potensi hujan sedang hingga lebat.
Penyebab dan Wilayah Terdampak Banjir Rob Pesisir NTT
Yandri Anderudson Tungga menjelaskan bahwa fenomena fase bulan baru pada 19 Maret 2026 dan fase perigee pada 22 Maret 2026 menjadi pemicu utama peningkatan ketinggian air laut. Kedua kondisi ini secara signifikan berkontribusi pada potensi banjir rob di wilayah NTT. Peningkatan ketinggian air laut maksimum merupakan faktor krusial yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan pantauan data prediksi pasang surut, BMKG juga mengidentifikasi faktor lain yang memperkuat potensi banjir rob. Kecepatan angin, tinggi gelombang, dan potensi hujan sedang hingga lebat turut memengaruhi dinamika pesisir. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi yang mendukung terjadinya genangan air laut di daratan.
Beberapa wilayah pesisir di NTT telah diidentifikasi memiliki risiko tinggi terdampak banjir rob. Wilayah-wilayah tersebut meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, pesisir Pulau Sumba, pesisir Pulau Sabu-Raijua, dan pesisir Pulau Timor-Rote. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini khusus untuk area-area ini guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Dampak dan Imbauan Kewaspadaan dari BMKG
Banjir rob didefinisikan sebagai peristiwa naiknya permukaan air laut ke daratan pesisir pantai. Fenomena ini dapat terjadi akibat air laut pasang yang ekstrem atau curah hujan yang sangat tinggi. Akibatnya, daerah-daerah di sekitar pesisir akan tergenang oleh air laut, mengganggu berbagai aktivitas.
Kondisi banjir rob ini diperkirakan dapat berdampak luas pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan berpotensi terganggu, demikian pula aktivitas tambak garam dan perikanan darat. Selain itu, berbagai aktivitas perekonomian lainnya yang bergantung pada kondisi pesisir juga berisiko terpengaruh secara signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu siaga dan mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir yang terdampak, sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat juga dianjurkan untuk terus mengikuti informasi resmi dan terkini yang dikeluarkan oleh BMKG.
Peringatan Gelombang Tinggi dan Saluran Informasi BMKG
Selain potensi banjir rob pesisir NTT, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi bagi pengguna transportasi laut. Potensi gelombang mencapai 2,5 hingga 4,0 meter berpeluang terjadi di beberapa perairan. Area yang perlu diwaspadai adalah perairan selatan Sabu-Raijua dan perairan utara Sabu-Raijua.
Peringatan gelombang tinggi ini berlaku mulai tanggal 22 hingga 25 Maret 2026. Para nakhoda kapal dan operator transportasi laut diimbau untuk sangat berhati-hati. Mereka harus senantiasa memantau perkembangan cuaca maritim dan mengambil langkah-langkah keselamatan yang diperlukan.
Untuk informasi lebih lanjut terkait cuaca maritim, masyarakat dapat menghubungi layanan WhatsApp BMKG di nomor 0812-1512-2192 atau melalui nomor telepon (0380) 8561910. Informasi terkini juga dapat diakses melalui situs web resmi maritim.ntt.bmkg.go.id, memastikan masyarakat mendapatkan data yang akurat dan terpercaya.
Sumber: AntaraNews