UNG Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Melalui Kolaborasi Lintas Sektor dan Simulasi Lapangan
Fakultas Kedokteran UNG memperkuat Kesiapsiagaan Bencana UNG dengan simulasi manajemen darurat, melibatkan BPBD, Basarnas, dan BMKG, untuk melahirkan tenaga kesehatan muda yang tanggap menghadapi krisis kemanusiaan.
Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menyelenggarakan simulasi manajemen bencana. Ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan muda dalam menghadapi situasi darurat.
Simulasi ini melibatkan berbagai pihak lintas sektor, termasuk BPBD Provinsi Gorontalo, Basarnas, dan BMKG. Kegiatan ini dilaksanakan di Gorontalo pada 16 Mei.
Upaya ini adalah bagian dari membangun kesiapsiagaan berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga penanggulangan bencana. Hal ini penting di tengah kebutuhan SDM tanggap bencana yang terus meningkat.
Implementasi IPE dan Praktik Kedaruratan Mahasiswa
Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UNG, Zuhriana K. Yusuf, menjelaskan bahwa praktik lapangan ini merupakan implementasi Inter Professional Education (IPE). IPE mendorong setiap program studi berkontribusi sesuai kompetensi profesi masing-masing dalam penanganan bencana. Simulasi ini juga menjadi bagian dari pembelajaran manajemen bencana.
Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktik dalam situasi kedaruratan. Dalam simulasi ini, Fakultas Kedokteran UNG menyiapkan skenario penanganan korban bencana. Ini mencakup aspek kesehatan melalui pendirian rumah sakit lapangan dan penentuan titik kumpul aman.
Selain itu, simulasi juga menerapkan protokol layanan kesehatan darurat. Sebanyak 64 mahasiswa diterjunkan langsung untuk mempraktikkan prosedur evakuasi dan penyelamatan korban. Mereka juga melakukan pelayanan medis awal serta koordinasi lintas sektor dalam kondisi darurat.
Pentingnya Penguatan Kapasitas dan Peran Lintas Sektor
Zuhriana menekankan bahwa penguatan kapasitas mahasiswa di bidang kedaruratan sangat penting. Indonesia merupakan negara rawan bencana, sehingga tenaga kesehatan dituntut memiliki kesiapan menghadapi situasi krisis kemanusiaan. Kesiapsiagaan Bencana UNG menjadi krusial dalam konteks ini.
Keterlibatan mahasiswa dalam simulasi lapangan juga merupakan langkah strategis. Ini bertujuan membangun budaya sadar bencana di lingkungan akademik. Selain itu, langkah ini memperkuat peran perguruan tinggi dalam mitigasi bencana nasional.
Pengelola Data BPBD Provinsi Gorontalo, Mohamad A. Nasaru, menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi sangat diperlukan. Kolaborasi ini bertujuan memperluas edukasi kebencanaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami melakukan simulasi skenario evakuasi dan mengedukasi seluruh perangkat universitas, terutama mahasiswa, terkait tugas mereka dalam penanggulangan bencana. Keterlibatan kampus penting karena universitas juga memiliki peran dalam penanganan korban bencana,” kata Mohamad A. Nasaru.
Kolaborasi Strategis untuk Jejaring Kesiapsiagaan Nasional
Kolaborasi antara UNG, BPBD, Basarnas, dan BMKG ini dinilai sejalan dengan upaya penguatan sistem penanggulangan bencana berbasis komunitas. Inisiatif ini juga mendorong institusi pendidikan menjadi bagian dari jejaring kesiapsiagaan nasional.
Melalui pendekatan IPE, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dapat belajar berkolaborasi secara efektif. Ini penting untuk respons bencana yang terkoordinasi dan komprehensif. Pengalaman langsung di lapangan membekali mereka dengan keterampilan praktis yang tidak didapatkan di ruang kelas.
Kesiapsiagaan Bencana UNG tidak hanya terbatas pada aspek medis. Ini juga mencakup pemahaman tentang mitigasi, evakuasi, dan koordinasi antarlembaga. Hal ini menciptakan ekosistem yang lebih tangguh dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.
Sinergi ini menunjukkan komitmen bersama antara akademisi dan lembaga pemerintah. Tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan siap menghadapi ancaman bencana.
Sumber: AntaraNews