BKSDA Bali Jadikan Lari Lintas Alam Fungsi Tambahan Kawasan Konservasi, Dorong Sport Tourism Berkelanjutan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menetapkan lari lintas alam sebagai fungsi tambahan kawasan konservasi, membuka peluang sport tourism yang berwawasan lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali secara resmi menjadikan ajang lari lintas alam sebagai fungsi tambahan bagi kawasan konservasi di wilayahnya. Langkah ini diambil untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Pulau Dewata. Kebijakan ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi alam tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menyatakan bahwa penambahan fungsi ini merupakan bentuk dukungan terhadap sektor pariwisata Bali. Ia menegaskan bahwa kawasan konservasi, khususnya taman wisata alam, dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya tanpa melarang pengunjung menikmati keindahan alam. Inisiatif ini selaras dengan tren gaya hidup sehat yang semakin populer di masyarakat.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan perkumpulan Bali Trail Running (BTR) yang akan menggelar ajang sport tourism melintasi Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang. Event ini menunjukkan bahwa lari lintas alam telah menjadi bagian integral dari gaya hidup modern. BKSDA Bali berkomitmen untuk beradaptasi dengan regulasi guna mengakomodasi kegiatan semacam ini.
Optimalisasi Kawasan Konservasi Melalui Sport Tourism
Ratna Hendratmoko menjelaskan bahwa kawasan konservasi, baik hutan lindung maupun hutan konservasi, harus mampu beradaptasi dengan gaya hidup masyarakat saat ini. Adaptasi pengelolaan ini harus sejalan dengan regulasi yang berlaku, memastikan pemanfaatan kawasan sesuai peruntukan tanpa terkesan mengobral area konservasi.
BKSDA Bali mendukung penuh ajang sport tourism yang digagas oleh Bali Trail Running (BTR) karena melintasi Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang. Kawasan ini secara regulasi tidak melarang aktivitas pengunjung untuk menikmati alam. Ratusan pelari bahkan memilih rute ekstrem hingga 100 kilometer, menandakan tingginya antusiasme terhadap lari lintas alam.
Melalui pengembangan sport tourism di taman wisata alam, BKSDA Bali juga melihat potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari masuknya peserta ke kawasan tersebut. Selain itu, kegiatan ini diharapkan memberikan dampak ekonomi positif bagi usaha masyarakat setempat. Potensi peningkatan status kawasan konservasi di Gunung Agung menjadi taman nasional dataran tinggi juga dipertimbangkan.
Ratna Hendratmoko menekankan bahwa manfaat kawasan konservasi bukan hanya sebatas jargon perlindungan semata, melainkan juga untuk kesejahteraan masyarakat. Konservasi adalah milik bersama, sehingga dukungan, penjagaan, dan pelestarian dari masyarakat sangat krusial untuk keberhasilannya.
Peran Komunitas Lari dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan
Ketua Perkumpulan BTR, I Made Budiana, menambahkan bahwa penyelenggaraan lari lintas alam yang ketujuh di Kabupaten Bangli ini tidak hanya memberikan kegembiraan bagi pelari, tetapi juga berperan dalam menjaga lingkungan alam. Komunitas BTR secara aktif memantau kondisi daerah yang dilalui, sehingga dapat mengontrol dan menyadari jika ada perusakan lingkungan.
Budiana mencontohkan, pada awal berkembangnya lari lintas alam, anggota komunitas sering menemukan aktivitas penebangan liar, suara alat berat, hingga oknum yang menebar jaring tanpa tujuan jelas. Namun, dengan semakin seringnya komunitas melintasi area tersebut, aktivitas ilegal ini berangsur-angsur berkurang dan bahkan tidak ditemukan lagi.
Selain membantu BKSDA Bali memantau aktivitas di kaldera, komunitas juga sangat menekankan penjagaan lingkungan dari sampah. Sebanyak 5.916 peserta lari dari berbagai negara dilarang keras membuang sampah sembarangan di sepanjang rute. Komitmen ini diperkuat dengan produksi jersey lari yang terbuat dari 80 persen bahan daur ulang, menegaskan dukungan terhadap sport tourism yang peduli kelestarian alam.
Ajang lari lintas alam MyBCA BTR Ultra 2026 akan berlangsung pada 15-17 Mei 2026 di Kabupaten Bangli. Event ini menawarkan berbagai kategori jarak, yaitu 7K, 18K, 30K, 60K, dan 100K, dengan batas waktu tempuh maksimal 34 jam untuk kategori terjauh. Para pelari akan melintasi keindahan Gunung Batur, Gunung Abang, hingga Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali.
Sumber: AntaraNews