BKSDA Bali Gandeng LSM Lakukan Reboisasi TWA Gunung Batur, Tanam 3.000 Bibit Pohon
BKSDA Bali bersama LSM dan komunitas melakukan reboisasi TWA Gunung Batur Bukit Payang dengan menanam 3.000 bibit pohon untuk rehabilitasi kawasan hulu. Apa saja jenis pohon yang ditanam?
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali telah mengambil langkah konkret dalam upaya pelestarian lingkungan. Mereka menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta berbagai komunitas untuk melaksanakan kegiatan reboisasi di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang.
Inisiatif penting ini berlokasi di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, dan bertujuan untuk merehabilitasi kawasan hulu yang vital. Penanaman ribuan bibit pohon ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi ekologis area tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya rehabilitasi kawasan hulu yang berkelanjutan, seperti disampaikan oleh Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko. Sebanyak 3.000 bibit pohon telah ditanam, menandai komitmen kuat terhadap konservasi alam di Bali.
Upaya Rehabilitasi Kawasan Hulu Gunung Batur
Dalam kegiatan reboisasi TWA Gunung Batur ini, BKSDA Bali menanam sebanyak 3.000 bibit pohon. Jenis pohon yang dipilih meliputi ampupu, beringin, dan cemara gunung, yang dikenal memiliki adaptasi baik terhadap kondisi lingkungan setempat.
Pemilihan jenis pohon ini tidak sembarangan, melainkan didasarkan pada kemampuannya untuk bertahan di lahan berbatu dan berpasir khas Kintamani. Pohon-pohon tersebut juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan hulu.
Penanaman bibit dilakukan di Yeh Mampeh, Blok Bukit Payang, bertepatan dengan pelaksanaan Bali Reforestation Festival (BRF) XVIII. Kegiatan ini diselenggarakan bersama Yayasan Bali Hijau Lestari (YBHL) dan Asia Green Forest Network (AGFN) Japan, menunjukkan kolaborasi lintas organisasi.
Lokasi penanaman telah ditetapkan sebagai area rehabilitasi prioritas di dalam kawasan TWA Gunung Batur Bukit Payang. Ini menegaskan fokus pada pemulihan area yang membutuhkan perhatian khusus.
Keterlibatan Berbagai Pihak dalam Reboisasi TWA Gunung Batur
Gerakan reboisasi TWA Gunung Batur ini melibatkan spektrum luas partisipan dari berbagai latar belakang. Mulai dari komunitas lingkungan, mahasiswa, institusi pendidikan, dunia usaha, tenaga kesehatan, hingga relawan lintas profesi, semuanya turut serta.
Keterlibatan aktif dari berbagai unsur masyarakat ini menjadi indikator kuat tingginya kepedulian terhadap upaya rehabilitasi kawasan konservasi. Semangat gotong royong tampak jelas dalam setiap tahapan penanaman bibit pohon.
Ketua YBHL, I Nyoman Gede Bayu Wiratama Suwedia, menambahkan bahwa gerakan ini tidak hanya akan difokuskan di TWA Gunung Batur Bukit Payang. Rencana ke depan adalah memperluas kegiatan serupa ke kawasan konservasi lainnya di Bali, memperkuat dampak positifnya.
Kolaborasi ini mencerminkan sinergi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Ini adalah contoh nyata bagaimana upaya bersama dapat menciptakan perubahan signifikan bagi lingkungan.
Pentingnya Konservasi di Kawasan Kintamani
Kawasan Kintamani, dengan karakteristik lahan berbatu dan berpasir, memerlukan perhatian berkelanjutan dalam upaya rehabilitasi hutan. Kondisi geografis ini menjadikannya area yang rentan terhadap degradasi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
BKSDA Bali, sebagai bagian dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, bertanggung jawab mengelola lima unit kawasan konservasi. Total luas kawasan konservasi tersebut mencapai 6.284,36 hektare.
Di antara kawasan tersebut adalah Cagar Alam (CA) Batukau, TWA Danau Buyan-Tamblingan, TWA Sangeh, TWA Gunung Batur Bukit Payang, dan TWA Panelokan. Setiap kawasan memiliki keunikan dan tantangan konservasi tersendiri yang perlu ditangani secara spesifik.
Upaya reboisasi TWA Gunung Batur ini menjadi contoh nyata komitmen BKSDA Bali dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Ini juga menunjukkan pentingnya peran serta masyarakat dalam mendukung program-program konservasi yang vital bagi masa depan lingkungan.
Sumber: AntaraNews