Trivia: 34 Ribu Hektare Hutan Hilang di Bali, Gubernur Koster Yakin Penanaman Pohon Bali Rutin Bisa Pulihkan Tutupan Hutan

Gubernur Bali Wayan Koster optimistis penanaman pohon Bali secara rutin dapat mengembalikan tutupan hutan yang sempat berkurang signifikan, merespons data Menteri LH. Akankah targetnya terwujud?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: 34 Ribu Hektare Hutan Hilang di Bali, Gubernur Koster Yakin Penanaman Pohon Bali Rutin Bisa Pulihkan Tutupan Hutan
Gubernur Bali Wayan Koster yakin program Penanaman Pohon Bali rutin dapat mengembalikan tutupan hutan yang berkurang drastis. Akankah upaya ini berhasil mengatasi dampak banjir? (AntaraNews)

Pemerintah Provinsi Bali, dipimpin oleh Gubernur Wayan Koster, menginisiasi gerakan penanaman pohon dan bersih-bersih sungai secara serentak di seluruh wilayah Bali. Aksi ini merupakan respons serius terhadap data tutupan hutan yang mengkhawatirkan dan kejadian banjir besar yang melanda pulau tersebut pada September lalu. Koster meyakini bahwa program penanaman pohon yang dilakukan secara rutin akan menjadi kunci utama dalam mencapai target tutupan hutan yang lebih baik.

Kegiatan gotong royong ini dilaksanakan pada Minggu pagi, bertepatan dengan momentum Hari Suci Tumpek Wariga, yang merupakan hari pemuliaan terhadap tumbuh-tumbuhan dalam kepercayaan Hindu Bali. Gubernur Koster menyatakan bahwa kegiatan penanaman pohon ini akan dilaksanakan secara rutin, setidaknya sebulan sekali, untuk memastikan keberlanjutan upaya konservasi. Inisiatif ini diharapkan mampu memulihkan kondisi alam Bali yang sempat terganggu.

Dalam tahap pertama program ini, total luasan lahan yang ditanami pohon di seluruh Bali mencapai 500 hektare, dengan lebih dari 35 ribu bibit pohon yang ditanam. Gubernur Koster sendiri turut serta menanam pohon sawo di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Ayung, Bongkasa, menekankan pentingnya menjaga sumber air. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah bencana alam di masa mendatang.

Merespons Kondisi Tutupan Hutan Bali yang Mengkhawatirkan

Sebelumnya, pasca-banjir besar yang melanda Bali pada September lalu, Menteri Lingkungan Hidup (LH) mengungkapkan data mengejutkan mengenai kondisi tutupan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bali. Data tersebut menunjukkan bahwa tutupan hutan di wilayah DAS Bali hanya sekitar 1.500 hektare, atau setara dengan 3 persen dari total luasan hutan yang ada. Angka ini jauh di bawah standar ideal yang seharusnya.

Menteri LH Hanif Faisol mendorong pemerintah daerah untuk segera berbenah dan menargetkan tutupan hutan minimal 30 persen dari total luasan wilayah. Kondisi tutupan hutan yang minim ini disinyalir menjadi salah satu faktor penyebab parahnya dampak banjir yang terjadi. Oleh karena itu, upaya penanaman pohon Bali secara masif menjadi sangat krusial untuk mengembalikan fungsi ekologis hutan.

Data tersebut menjadi peringatan keras bagi Bali, yang selama ini dikenal dengan keindahan alamnya. Kurangnya tutupan hutan dapat mempercepat erosi, mengurangi penyerapan air tanah, dan meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor. Pemulihan tutupan hutan melalui penanaman pohon Bali merupakan langkah mendesak untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Gerakan Penanaman Pohon Bali Rutin dan Filosofi Tumpek Wariga

Gubernur Wayan Koster menyatakan keyakinannya bahwa dengan penanaman pohon Bali yang rutin dilakukan setiap bulan, target pemulihan tutupan hutan dapat tercapai. "Ini (penanaman pohon) akan dilakukan secara rutin tiap bulan sekali, kalau bisa dilaksanakan rutin maka pengurangan pohon yang diekspos Menteri LH yaitu mencapai 34 ribu hektare, 4-5 tahun ke depan bisa menutupi luasan hutan yang ada,” kata Koster.

Pada kesempatan ini, Koster menanam pohon sawo di DAS Tukad Ayung, Bongkasa, dengan alasan yang strategis. Ia menjelaskan, “saya tanam pohon sawo karena nanti bisa dipetik, daunnya hijau bagus, menghasilkan oksigen banyak, dan menyerap karbon, tanamnya di sini karena ada sumber air harus dijaga hutannya supaya tidak mengalami kekeringan.” Pilihan jenis pohon ini menunjukkan pertimbangan ekologis dan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.

Aksi gotong royong penanaman pohon dan bersih-bersih sungai ini mengambil momentum Tumpek Wariga, sebuah hari suci dalam kalender Hindu Bali yang didedikasikan untuk pemuliaan tumbuh-tumbuhan. Kearifan lokal ini menjadi landasan spiritual bagi kegiatan konservasi. Koster menekankan pentingnya melestarikan warisan leluhur Bali ini melalui kegiatan nyata yang mendukung kelestarian alam.

Pentingnya Menjaga Keseimbangan Alam Pasca Bencana

Kejadian banjir besar yang melanda Bali baru-baru ini dijadikan sebagai peringatan dan pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat. Gubernur Koster menyoroti bahwa selama ini manusia terlalu asyik "menyiksa alam", mengotori sungai, dan menebang pohon secara sembarangan, yang mengakibatkan alam menjadi tidak harmonis. Ini menjadi momentum krusial untuk berbenah dan memperbaiki hubungan dengan lingkungan.

“Alam marah dan kita harus terpanggil menjalankan kewajiban menanam pohon ini agar alam bisa diberdayakan untuk memenuhi kehidupan kita, tanpa alam yang baik kita tidak bisa hidup termasuk generasi ke depan,” ujar Koster, menegaskan tanggung jawab manusia terhadap kelestarian alam. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kondisi alam yang sehat dan lestari.

Koster juga menjelaskan keterkaitan erat antara tumbuh-tumbuhan dan air dalam ekosistem. "Tumbuh-tumbuhan dan air itu ekosistem saling berkaitan, tumbuhan tanpa air tidak bisa hidup, air tanpa tumbuhan juga bisa mati jadi keduanya harus dijaga dilestarikan," jelasnya. Momentum Rahina Tumpek Wariga ini menjadi ajakan untuk tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga untuk "menanam kembali, jangan hanya memetik tapi memberi" demi keberlanjutan ekosistem.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi