Aksi Hardiknas Makassar Berlangsung Kondusif, Mahasiswa Soroti Komersialisasi Pendidikan
Peringatan Aksi Hardiknas Makassar pada 2 Mei 2026 terpantau kondusif meski diwarnai kritik mahasiswa terhadap komersialisasi pendidikan dan tuntutan pendidikan gratis.
Sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Makassar menggelar aksi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu, 2 Mei 2026. Aksi ini dipusatkan di bawah jembatan layang Jalan Andi Pengeran Pettarani-Urip Sumoharjo, Makassar, Sulawesi Selatan, dengan tuntutan perbaikan kualitas pendidikan.
Dalam unjuk rasa tersebut, mahasiswa menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kondisi pendidikan di Indonesia yang dinilai masih jauh dari harapan. Isu komersialisasi pendidikan yang semakin marak menjadi fokus utama kritik yang disampaikan para peserta aksi.
Meskipun diwarnai dengan orasi dan penyampaian aspirasi yang kritis, peringatan Hardiknas di Makassar terpantau berlangsung kondusif. Pihak kepolisian setempat menerapkan pendekatan humanis dalam mengamankan jalannya aksi demonstrasi.
Kritik Mahasiswa Terhadap Komersialisasi Pendidikan
Kordinator Aksi perwakilan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, menyatakan bahwa pendidikan saat ini masih jauh dari harapan ideal. Ia menyoroti praktik komersialisasi pendidikan yang terus berlangsung, menyebabkan biaya pendidikan menjadi mahal dan sulit dijangkau.
Dampak dari mahalnya pendidikan ini berimbas pada minimnya lapangan pekerjaan, serta banyaknya sarjana dengan pendidikan tinggi yang akhirnya menganggur. Mahasiswa berpendapat bahwa kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem dalam menyediakan akses pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh rakyat.
Pihak mahasiswa juga menyarankan pemerintah untuk mengalokasikan sebagian anggaran besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sektor pendidikan. Dana tersebut diusulkan untuk program pendidikan gratis, pengembangan penelitian, perbaikan kualitas pendidikan, atau renovasi bangunan sekolah yang rusak, karena dinilai akan memberikan manfaat jangka panjang yang lebih baik bagi rakyat.
Novriyaldi, perwakilan mahasiswa dari Universitas Wira Bhakti Makassar, menambahkan bahwa hak pendidikan yang seharusnya menjadi hak dasar rakyat kini berubah menjadi komersial, diibaratkan barang dagangan. Ia menegaskan bahwa kampus harus didorong menjadi institusi pendidikan yang membuka ruang kecerdasan, bukan berorientasi pasar.
Tuntutan Pendidikan Gratis dan Kualitas
Mahasiswa mendesak pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang gratis, ilmiah, dan demokratis. Mereka menuntut penghapusan praktik-praktik komersialisasi pendidikan yang membebani masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga menyerukan jaminan kebebasan akademik dan ruang kritis bagi mahasiswa sebagai bagian integral dari proses pendidikan. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi pengembangan intelektual dan pemikiran independen.
Amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 31 menjadi dasar tuntutan mahasiswa, yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan berkualitas dan wajib mengikuti pendidikan dasar. Pemerintah juga wajib membiayainya, serta memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN maupun APBD untuk mencerdaskan anak bangsa.
Mahasiswa juga menuntut penerapan upah layak bagi buruh, agar anak-anak mereka mendapatkan hak menempuh pendidikan lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa isu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Pengamanan Humanis oleh Kepolisian
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana memantau langsung aksi Hardiknas dan memberikan instruksi kepada personel di lapangan untuk bekerja secara profesional. Ia menekankan pentingnya mengedepankan pendekatan humanis dan profesional dalam mengamankan aksi penyampaian aspirasi masyarakat.
Arya juga memastikan bahwa tidak ada anggota yang membawa senjata api, peluru tajam, atau benda lain yang dianggap membahayakan personel saat bertugas. Pendekatan persuasif dan humanis menjadi kunci dalam menghadapi peserta aksi.
Pihak kepolisian menyatakan kehadirannya adalah untuk memberikan pelayanan dan mengawal penyampaian aspirasi masyarakat secara damai. Hingga akhir aksi, situasi di lokasi unjuk rasa tetap aman, terkendali, dan kondusif.
Sumber: AntaraNews