Pengamat Sesalkan Aksi Mahasiswa Maki Polisi di Mabes Polri, Nama UI Dicatut
Aksi seorang mahasiswa yang memaki aparat kepolisian saat demo di Mabes Polri menuai sorotan, terutama setelah nama UI dicatut, memicu perdebatan etika demonstrasi mahasiswa.
Aksi seorang mahasiswa yang memaki aparat kepolisian saat demonstrasi di Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes) Polri di Jakarta pada Jumat (27/2) menjadi perhatian publik luas. Video kejadian tersebut viral di media sosial, memicu perdebatan sengit mengenai etika dalam menyampaikan aspirasi dan kebebasan berpendapat.
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menyayangkan tindakan tersebut karena dinilai tidak hanya mencederai etika akademik, tetapi juga berpotensi merugikan institusi pendidikan. Ia dengan tegas menyatakan bahwa kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi bukanlah ruang untuk menghina atau merendahkan aparat negara.
Insiden ini juga sempat menyeret nama besar Universitas Indonesia (UI) karena narasi awal yang berkembang di masyarakat. Namun, pihak UI telah memberikan klarifikasi resmi, memastikan bahwa individu yang bersangkutan bukanlah bagian dari sivitas akademika mereka setelah melalui proses verifikasi data.
Kritik Terhadap Etika Demonstrasi Mahasiswa dan Pencatutan Nama Kampus
Fernando Emas menegaskan bahwa kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi tidak boleh disalahgunakan sebagai lisensi untuk menghina, memprovokasi, atau merendahkan aparat negara. Ia secara khusus menyoroti tindakan pencatutan nama kampus yang tidak ada kaitannya dengan aksi tersebut, yang dapat menimbulkan dampak negatif. Tindakan semacam ini dinilai tidak hanya merusak citra mahasiswa, tetapi juga institusi pendidikan yang namanya dibawa tanpa hak.
Pengamat politik ini juga menyoroti serius penggunaan atribut kampus secara sepihak dalam aksi demonstrasi. Menurutnya, tindakan tersebut sangat tidak etis dan berpotensi besar mencemarkan nama baik lembaga pendidikan yang bersangkutan di mata publik. Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual yang diharapkan menjadi agen perubahan, seharusnya menjadi teladan dalam menyampaikan kritik secara argumentatif dan berdasarkan fakta, bukan secara emosional.
"Kalau mahasiswa sendiri kehilangan etika, bagaimana publik mau percaya pada moral force yang mereka klaim?" ujar Fernando, menekankan pentingnya etika dalam setiap bentuk penyampaian aspirasi dan kritik. Ia mengingatkan bahwa kritik yang konstruktif harus disampaikan dengan gagasan yang jelas dan data yang akurat, bukan dengan makian atau caci maki yang tidak produktif.
Klarifikasi Universitas Indonesia dan Seruan Kedewasaan Berdemokrasi
Universitas Indonesia (UI) dengan sigap memberikan klarifikasi terkait insiden ini melalui Direktorat Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah, dan Internasional. Pihak kampus secara tegas menyatakan bahwa individu yang terekam dalam video viral tersebut bukanlah mahasiswa UI. Klarifikasi ini dilakukan setelah memverifikasi identitas yang bersangkutan melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) untuk memastikan keakuratan informasi.
Fernando Emas mengapresiasi langkah cepat dan proporsional UI dalam meluruskan informasi yang beredar di masyarakat. Menurutnya, hal ini sangat krusial agar publik tidak terjebak pada framing yang keliru dan menghindari kesalahpahaman yang lebih luas. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa individu tersebut merupakan mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yakni Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
Meskipun demikian, otoritas kampus UI tetap menghormati hak konstitusional mahasiswa untuk berdemonstrasi, selama aksi tersebut dilakukan secara damai dan bertanggung jawab sesuai koridor hukum. Namun, kampus menyayangkan penggunaan atribut kampus secara sepihak yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik dan mencemarkan nama baik lembaga. Fernando juga mengingatkan aparat kepolisian untuk tetap mengedepankan pendekatan humanis dan profesional dalam menghadapi aksi unjuk rasa.
Sumber: AntaraNews