Aksi Damai, Mahasiswa IPB Serahkan Rapor Merah buat DPR dan Pemerintah
Aksi damai yang dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa IPB dengan menggunakan simbol "rapor merah" berfungsi sebagai kritik kepada pemerintah dan DPR.
Ratusan mahasiswa berkumpul di pelataran Gedung Rektorat Andi Hakim Nasution IPB University, Dramaga, Bogor, pada hari Rabu, 3 September 2025. Mengenakan pakaian serba hitam, Keluarga Mahasiswa (KM) IPB melaksanakan aksi solidaritas sebagai ungkapan kepedulian terhadap keadaan bangsa. Dalam aksi ini, mereka memperlihatkan selembar kertas bertuliskan "rapor merah" sebagai penilaian terhadap pemerintah dan DPR.
Selain itu, mereka juga menyalakan lilin, menaburkan bunga, dan melantunkan lagu rohani untuk mengenang para korban yang kehilangan nyawa dalam aksi demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia.
Muhammad Afif Fahreza, Presiden KM IPB, menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya diam. Mereka mengamati, mencatat, dan menyampaikan aspirasi. "Mahasiswa tidak hanya membawa tuntutan, tetapi juga harapan. Harapan akan bangsa yang adil, damai, dan berpihak pada rakyat. Harapan yang mereka percaya, akan tumbuh dari ruang-ruang akademik, dari suara-suara yang jujur, dan dari keberanian yang lahir di tengah duka," ujarnya.
Afif kemudian mengajak semua peserta aksi untuk bersama-sama mendoakan para korban unjuk rasa.
"Kita semua turut berduka atas gugurnya sahabat-sahabat kita. Mari kita lawan segala bentuk anarkisme, provokasi, dan upaya yang mengganggu keutuhan bangsa. Kita jaga demokrasi, kita jaga NKRI," tegasnya.
Pengabdian Tulus
Rektor IPB University, Prof Arif Satria, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa aksi yang dilakukan oleh KM IPB mencerminkan semangat intelektual serta tanggung jawab moral sebagai bagian dari komunitas akademik. "Saya bangga karena mahasiswa IPB menyampaikan aspirasi dengan cara yang damai, bermartabat, dan sesuai koridor hukum. Ini adalah bentuk pengabdian tulus kepada rakyat dan bangsa," ujarnya.
Menurut Arif, aksi damai ini menjadi simbol bahwa mahasiswa IPB dan generasi muda secara umum masih berpegang pada semangat reformasi serta idealisme perubahan. Mereka tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi juga sebagai suara hati bangsa.
Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa "Mahasiswa tidak hanya membawa tuntutan, tetapi juga harapan. Harapan akan bangsa yang adil, damai, dan berpihak pada rakyat. Harapan yang mereka percaya, akan tumbuh dari ruang-ruang akademik, dari suara-suara yang jujur, dan dari keberanian yang lahir di tengah duka."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam mendorong perubahan positif di masyarakat. Mereka berkontribusi tidak hanya melalui aksi, tetapi juga dengan ide-ide yang konstruktif untuk kemajuan bangsa.
Poin dalam Unjuk Rasa:
Dalam aksi tersebut, mahasiswa IPB juga mengekspresikan sikap mereka kepada pemerintah dan DPR. Pernyataan sikap yang mereka sampaikan mencakup beberapa poin penting:
- Mahasiswa IPB mengekspresikan rasa duka yang mendalam atas kondisi bangsa yang saat ini dilanda kekerasan, kerusuhan, dan banyaknya korban jiwa. Mereka mengecam tindakan represif dari aparat dan menolak keras setiap aksi demonstrasi yang bersifat anarkis, yang dapat mengancam kedaulatan rakyat.
- Seluruh elemen masyarakat diharapkan untuk menjunjung tinggi persaudaraan, menghindari provokasi, dan menjaga perdamaian agar tidak terjebak dalam konflik horizontal yang dapat memecah belah persatuan nasional.
- Mahasiswa menekankan pentingnya menyampaikan kritik berdasarkan data dan fakta, bukan berdasarkan emosi atau informasi yang tidak benar. Sebagai bagian dari komunitas akademik, mereka menyerukan agar tetap menjaga intelektualitas dan integritas moral dalam setiap tindakan.
- Pemerintah, DPR, dan aparat penegak hukum diharapkan dapat bersikap lebih empatik dan humanis. Mahasiswa mendesak agar solusi terhadap berbagai persoalan bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan korupsi, diselesaikan melalui dialog serta kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
- Mahasiswa IPB diajak untuk terus peduli terhadap kondisi bangsa. Kepedulian ini harus diwujudkan melalui langkah-langkah konstruktif, tidak mudah terprovokasi, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual serta keberanian moral.
- Mahasiswa IPB menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Mereka ingin menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi pengamat.