Dirut ANTARA Tekankan Pentingnya Komunikasi Berbasis Empati di Era Digital
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, membekali ratusan mahasiswa di Banjarmasin dengan keterampilan komunikasi berbasis empati. Ia menekankan pentingnya pendekatan ini dalam menghadapi derasnya arus informasi global dan dinamika sosial
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, membekali ratusan mahasiswa di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan keterampilan komunikasi berbasis empati. Pembekalan ini bertujuan mempersiapkan generasi muda menghadapi dinamika informasi global yang terus berkembang pesat di era teknologi saat ini. Acara tersebut berlangsung pada sebuah Seminar Komunikasi dan Kehumasan yang digelar oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari, Sabtu.
Benny Siga Butarbutar, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Perhumas, menegaskan bahwa komunikasi berbasis empati merupakan kunci utama. Pendekatan ini krusial dalam menghadapi ketidakpastian global yang ditandai oleh perubahan sosial cepat serta derasnya arus informasi di berbagai platform digital. Keberadaan komunikasi yang efektif menjadi sangat vital untuk navigasi di tengah kompleksitas informasi.
Dalam seminar tersebut, Benny menjelaskan bahwa komunikasi bukan sekadar alat penyampai pesan, tetapi juga instrumen penting yang menghidupkan organisasi. Kemampuan merespons dinamika lingkungan yang berubah cepat sangat bergantung pada kualitas komunikasi internal maupun eksternal. Oleh karena itu, penguasaan komunikasi berbasis empati menjadi kompetensi yang tak terpisahkan.
Kunci Menghadapi Dinamika Global
Benny Siga Butarbutar menyoroti bahwa kondisi global saat ini berpotensi memicu kecemasan publik yang meluas. Untuk meredakan kekhawatiran ini, diperlukan pendekatan komunikasi yang mampu membangun kepercayaan serta menjaga hubungan yang kuat antara institusi dan masyarakat luas. Komunikasi yang mengedepankan empati dapat menjembatani kesenjangan informasi dan emosi di tengah masyarakat.
Komunikasi yang efektif, menurut Benny, tidak hanya ditentukan oleh kecepatan penyampaian informasi semata. Lebih dari itu, efektivitas komunikasi juga bergantung pada kemampuan memahami konteks, situasi, serta kebutuhan audiens secara tepat dan mendalam. Pesan yang disampaikan harus relevan dan sesuai dengan kondisi penerima agar dapat diterima dengan baik.
Ia menyampaikan bahwa komunikasi empati menjadi pembeda signifikan dalam interaksi sosial maupun profesional. Pendekatan ini mampu menghadirkan kedekatan, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Kejujuran dalam penyampaian pesan, yang seringkali tercermin dari respons spontan dan natural, juga dinilai sangat penting.
Membangun Kepercayaan dan Kedekatan Publik
Benny menilai bahwa penyampaian pesan yang spontan dan natural kerap mencerminkan kejujuran. Hal ini karena pesan tersebut muncul dari respons langsung terhadap situasi yang dihadapi, tanpa konstruksi berlebihan. Kejujuran semacam ini sangat penting untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan di mata publik.
Dalam konteks yang lebih luas, komunikasi berbasis empati berperan besar dalam membentuk persepsi positif. Ketika sebuah institusi berkomunikasi dengan memahami perspektif dan perasaan publik, hal itu akan memperkuat ikatan emosional. Ini pada gilirannya akan menghasilkan dukungan dan loyalitas dari masyarakat.
Perhumas, sebagai organisasi profesi, secara konsisten mendorong praktik komunikasi yang bertanggung jawab dan beretika. Organisasi ini berkomitmen untuk memastikan bahwa para praktisi humas tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Tujuannya adalah agar setiap pesan yang disampaikan kepada publik dapat diterima dengan baik dan membangun pemahaman yang utuh.
Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Komunikasi
Benny Siga Butarbutar mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang komunikasi agar tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dalam menyampaikan pesan kepada publik. Kemampuan ini sangat penting untuk menghasilkan komunikasi yang relevan dan berdampak positif.
Ia menambahkan bahwa penguatan wawasan serta kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan bagi para praktisi komunikasi. Hal ini bertujuan agar pesan yang disampaikan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangun pemahaman utuh di tengah masyarakat. Kemampuan menganalisis informasi dan situasi menjadi krusial dalam menyusun strategi komunikasi yang efektif.
Oleh karena itu, Perhumas berkomitmen untuk terus meningkatkan kompetensi komunikasi melalui berbagai program pengembangan profesional. Program-program ini mencakup sertifikasi dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan serta perkembangan komunikasi saat ini. Inisiatif ini memastikan bahwa para praktisi humas selalu siap menghadapi tantangan komunikasi di masa depan.
Sumber: AntaraNews