Balinale Tutup Edisi ke-19, Tegaskan Komitmen Dukung Program Kemenbud
Balinale sukses tutup edisi ke-19 di Denpasar, tegaskan komitmen dukung program Kemenbud lestarikan kearifan lokal via perfilman. Balinale siap jadi jembatan sineas lokal ke global.
Festival film internasional Balinale baru saja mengakhiri gelaran edisi ke-19 di Denpasar, Bali, pada Sabtu lalu. Penutupan ini sekaligus menegaskan komitmen kuat Balinale untuk terus mendukung program pemerintah.
Komitmen tersebut secara khusus ditujukan kepada Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dalam upaya melestarikan kearifan lokal melalui industri perfilman. Hal ini disampaikan langsung oleh Pendiri sekaligus Direktur Festival Balinale, Deborah Gabinetti.
Dukungan berkelanjutan ini merupakan respons atas pengakuan pemerintah terhadap potensi Balinale, yang terbukti dengan kehadiran dan dukungan Kemenbud secara konsisten. Balinale bertekad menjadi jembatan promosi perfilman Indonesia di kancah global.
Balinale dan Peran Strategis dalam Perfilman Nasional
Deborah Gabinetti menjelaskan bahwa selama sepekan penyelenggaraan, Balinale telah menerima lebih dari 1.300 film dari berbagai negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 94 film dari 38 negara berhasil dikurasi untuk berkompetisi dalam festival bergengsi ini.
Menariknya, 26 judul film yang lolos kurasi merupakan karya sineas Indonesia, menunjukkan potensi besar perfilman tanah air. Beberapa di antaranya bahkan berhasil meraih penghargaan khusus, membuktikan kualitas karya sineas lokal di ajang internasional.
Balinale memiliki reputasi internasional yang kuat serta afiliasi global yang luas. Jaringan ini dimanfaatkan untuk mempromosikan industri perfilman Indonesia secara efektif. Ini sejalan dengan program pemerintah dalam memajukan perfilman nasional.
Kehadiran Balinale menjadi platform penting bagi sineas Indonesia untuk mengukur kualitas karya mereka. Festival ini juga membangun kepercayaan diri serta kebanggaan atas hasil kerja keras para pembuat film lokal.
Daftar Pemenang dan Apresiasi untuk Sineas Indonesia
Pada malam penganugerahan, Balinale mengumumkan para pemenang dari enam kategori dan empat penghargaan khusus. Film "The Tuners" karya Pawel Chorzepa dari Polandia berhasil meraih penghargaan Film Dokumenter Pendek terbaik.
Sementara itu, kategori Narasi Pendek dimenangkan oleh film "Ali" karya Adnan Rajeev dari Bangladesh/Filipina. Penghargaan Animasi Pendek terbaik diberikan kepada "Lifetime Warranty" karya Daniel Lobos dari Chili.
Untuk kategori Film Pendek terbaik, kembali diraih "The Tuners" oleh Pawel Chorzepa. Film Dokumenter Panjang terbaik jatuh kepada "The Designer is Dead" karya Gonzalo Hergueta dari Spanyol. Film Naratif terbaik dianugerahkan kepada "Aisha Can’t Fly Away" karya Morad Mostafa dari Mesir.
Sineas Indonesia juga menorehkan prestasi gemilang. Penghargaan Gary L Hayes diberikan kepada "Sound of Silence" oleh Gavrila Angelina. Penghargaan Tapestry of Indonesia atau Film Pendek Indonesia Terbaik dimenangkan oleh "Amazing Fantastic Extraordinary People" oleh Nadine Habsjah dan Yusgunawan Marto.
Visi Balinale untuk Kearifan Lokal dan Kolaborasi Masa Depan
Deborah Gabinetti menekankan pentingnya sineas lokal untuk tidak terpaku pada satu tema tertentu. Ia mendorong para pembuat film agar lebih terbuka terhadap realitas di sekitar mereka.
Dunia internasional mengagumi industri perfilman Indonesia karena kemampuannya mengangkat kearifan lokal menjadi karya film yang menarik. Ini menjadi kekuatan unik yang harus terus dikembangkan.
Balinale memiliki kesamaan visi dengan Kemenbud, yaitu terus menonjolkan kearifan lokal dan budaya sekitar. Festival ini ingin memastikan bahwa setiap film yang dibuat memiliki pesan yang kuat dan produksi yang berkualitas.
Untuk Balinale edisi ke-20 mendatang, festival ini berencana membuka kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah. Tujuannya adalah menggairahkan perfilman Indonesia, terutama mendorong para pemuda untuk berpartisipasi.
Sumber: AntaraNews