Bukan Lagi Ajang Pamer Gaun Vulgar dan Bervolume, Cannes 2025 Terapkan Aturan Fashion Ketat di Karpet Merah

Festival Film Cannes 2025 sukses digelar dengan film-film berkualitas, penghargaan bergengsi untuk Robert De Niro, dan partisipasi Indonesia yang membanggakan.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Bukan Lagi Ajang Pamer Gaun Vulgar dan Bervolume, Cannes 2025 Terapkan Aturan Fashion Ketat di Karpet Merah
Bukan Lagi Ajang Pamer Gaun Vulgar dan Bervolume, Cannes 2025 Terapkan Aturan Fashion Ketat di Karpet Merah (Merdeka.com)

Gelaran Festival Film Cannes 2025 yang berlangsung dari 13 hingga 24 Mei tahun ini bukan hanya menjadi panggung bagi film-film terbaik dunia, tetapi juga ajang perdebatan seputar kebebasan berekspresi dalam berbusana. Pasalnya, pihak penyelenggara Cannes telah mengumumkan perubahan signifikan dalam kode etik penampilan di karpet merah: larangan mengenakan gaun telanjang dan busana yang dianggap terlalu bervolume

Peraturan ini, sebagaimana dilaporkan Variety dan dikutip dari Liputan6.com, dibuat bukan hanya berdasarkan estetika, melainkan juga demi alasan hukum dan teknis. “Tahun ini, Festival Film Cannes telah membuat aturan-aturan tertentu yang telah berlaku dalam piagamnya. Tujuannya bukan untuk mengatur busana semata, tapi melarang ketelanjangan penuh di karpet merah, sesuai kerangka kelembagaan acara dan hukum Prancis,” bunyi pernyataan resmi pihak festival. 

Bukan Sekadar Gaya, Tapi Juga Soal Logistik dan Keamanan

Festival Film Cannes 2025
Festival Film Cannes 2025 Instagram/@festivaldecannes

Selain menyasar tampilan sensual yang dianggap tidak sopan, larangan juga diberlakukan bagi busana dengan potongan besar dan berekor panjang. Menurut panitia festival, pakaian semacam ini berisiko menghalangi pergerakan tamu dan menyulitkan pengaturan tempat duduk di ruang pemutaran.

Kritikus budaya Louis Pisano mengungkapkan pada Vogue, “Mereka mengambil tempat paling banyak di karpet merah dan semua orang akan berdesakan. Ada 2.000, 3.000 orang yang harus masuk ke teater ini.”

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran nyata di balik peraturan baru. Beberapa pakaian couture dengan ekor besar disebut-sebut dapat menimbulkan “kemacetan” saat para selebritas menaiki tangga Palais yang ikonik—panggung utama Festival Cannes.

Gaun Telanjang: Simbol Gaya atau Pelanggaran Norma?

Larangan terhadap busana “telanjang” atau tembus pandang menjadi sorotan tersendiri. Keputusan ini diduga dipicu oleh sejumlah insiden sebelumnya, termasuk aksi demonstran bertelanjang dada di Cannes 2022 dan gaya ekstrem Bianca Censori di Grammy awal tahun ini yang mengenakan gaun transparan.

Supermodel Bella Hadid juga sempat menarik perhatian pada Cannes 2024 lewat gaun karamel tipis yang kini masuk dalam kategori terlarang. Gaun tersebut bahkan menyumbang 10 persen dari total Earned Media Value (EMV) sebesar 14,1 juta dolar AS yang diperoleh Saint Laurent di Instagram tahun lalu. Namun, gaya seperti ini kini tidak akan menemukan tempat di Cannes.

Penata Gaya Kewalahan, Merek Merugi

Festival Film Cannes 2025
Festival Film Cannes 2025 Instagram/@festivaldecannes

Perubahan mendadak ini mengejutkan banyak pihak. Penata gaya Rose Forde bahkan mengetahui kabar ini bukan dari panitia festival, melainkan dari media sosial—bahkan sebelum kliennya sendiri mengonfirmasi.

“Cannes selalu ketat dalam hal aturan dan menegakkan etiket dalam hal berpakaian, jadi saya tidak terlalu terkejut. Saya telah menghabiskan banyak waktu di malam hari untuk mencari di Google ‘apakah X diperbolehkan di karpet Cannes’ di masa lalu,” ujar Forde kepada Vogue.

Bagi penata gaya dan rumah mode, aturan ini datang di saat yang tidak ideal. Banyak tampilan karpet merah dirancang dan disiapkan berbulan-bulan sebelumnya. “Cannes adalah salah satu karpet merah paling glamor dan menarik, dan saya selalu senang melihat gaun-gaun mewah dan karya-karya adibusana yang menghiasi tangga Palais,” kata penata gaya Maeve Reilly, yang kliennya termasuk Coco Jones dan Eva Longoria.

Luke Meagher, kritikus mode, juga mengkritik kebijakan baru yang dianggap terlalu kabur. “Apakah ada aturan tertentu yang akan diterapkan, apakah itu ketelanjangan korset atau ketelanjangan penuh?” tanyanya. Ketidakjelasan ini, menurutnya, membuat para desainer dan merek besar berpikir ulang untuk mengambil risiko yang bisa saja berdampak pada reputasi mereka.

Mode vs Moralitas: Batasan yang Dipertanyakan

Meski alasan “kesopanan” dijadikan dasar larangan gaun tipis, beberapa pihak menganggap ini sebagai bentuk pembatasan terhadap ekspresi artistik. Louis Pisano menyebut aturan ini sebagai langkah konservatif yang terlalu membatasi, sementara Rose Forde menyatakan, “Saya memahami logika untuk tetap fokus pada film daripada mode, tapi ini adalah festival tentang ekspresi artistik, sehingga Anda harus dapat mengekspresikan diri sebagai seniman, dengan gaya apa pun yang Anda inginkan.”

Festival Film Cannes memang sudah lama dikritik atas aturan busana mereka yang dianggap bias gender. Contohnya, larangan penggunaan sepatu datar yang tidak dianggap “elegan,” sempat menuai kecaman beberapa tahun lalu. Bahkan ada produser yang ditolak masuk hanya karena mengenakan sepatu mokasin.

Meskipun sekarang sepatu hak rendah mulai diterima, larangan terhadap busana tembus pandang dan gaun bervolume dianggap oleh sebagian pihak sebagai langkah mundur dalam hal inklusivitas dan kebebasan berekspresi.

Reputasi Cannes di Tengah Kode Etik yang Ketat

Festival Film Cannes 2025
Festival Film Cannes 2025 Instagram/@festivaldecannes

Sebagai salah satu festival film paling prestisius di dunia, Cannes memang berperan besar dalam membentuk narasi budaya populer global. Namun, dalam upayanya mempertahankan citra elegan dan tertib, muncul pertanyaan apakah Cannes justru mengekang kreativitas yang menjadi nyawa dunia seni itu sendiri.

Yang jelas, aturan berpakaian yang lebih konservatif ini akan mengubah wajah karpet merah Cannes 2025 secara drastis. Gaun-gaun dramatis dan tembus pandang yang selama ini menjadi pusat perhatian kamera kemungkinan besar akan tergantikan oleh siluet yang lebih sederhana dan tertutup. Apakah ini berarti karpet merah akan kehilangan gemerlapnya? Atau justru menjadi lebih berkelas dan fokus pada kualitas film?

Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti, Festival Film Cannes 2025 tak lagi sekadar soal siapa mengenakan apa, tapi bagaimana dunia perfilman ingin mencitrakan dirinya di mata dunia—antara glamor, aturan, dan ekspresi yang dibatasi.

Rekomendasi