Pers Mahasiswa Fondasi Demokrasi: Perlu Pembinaan Berkelanjutan untuk Jurnalis Masa Depan
Pers Mahasiswa Fondasi Demokrasi yang krusial, membutuhkan pembinaan berkelanjutan dari kampus dan media untuk mencetak jurnalis berkualitas dan menjaga kebebasan berpendapat.
Pers mahasiswa dinilai memiliki peran krusial sebagai fondasi penting dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia. Selain itu, mereka juga berfungsi vital dalam menyiapkan regenerasi jurnalis profesional di masa mendatang. Oleh karena itu, pembinaan berkelanjutan dari kampus, organisasi profesi, dan media nasional sangat diperlukan untuk mengoptimalkan potensi ini.
Pentingnya peran pers mahasiswa ini mengemuka dalam Seminar Nasional Jurnalistik bertajuk “Peran Pers Mahasiswa dalam Demokrasi”. Acara ini diselenggarakan di Kampus Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Kota Serang, Banten, pada Sabtu, 7 Februari 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Diskusi tersebut menghadirkan pandangan dari praktisi media terkemuka, menegaskan bahwa pengalaman praktis di pers kampus memberikan dimensi pengetahuan yang tidak diperoleh di ruang kelas. Ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk berkontribusi aktif dalam dunia jurnalistik dan pembangunan negara.
Pentingnya Peran Pers Mahasiswa sebagai Fondasi Demokrasi
Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemitraan PWI Pusat, Ariawan, menekankan pentingnya mahasiswa mengasah kapasitas sejak dini melalui karya nyata. Keterlibatan aktif di pers kampus akan memberikan pengetahuan yang tidak didapatkan di ruang kelas, membentuk jurnalis yang kompeten. “Sebagai mahasiswa harus memiliki semangat untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi untuk manusia dan negara. Pengalaman (praktis) itu tidak ada di buku,” ujar Ariawan.
Ariawan juga menambahkan bahwa pers memiliki peran strategis dalam menopang demokrasi karena sifatnya yang inklusif terhadap informasi. Selama informasi tersebut berpijak pada kebenaran, pers akan selalu terbuka. “Pers selalu terbuka untuk siapa pun yang menyampaikan informasi selama informasi itu fakta,” tegasnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Direktur Utama LKBN Antara, Benny Siga Butar Butar, menyebut pers kampus sebagai titik nol ekosistem jurnalistik nasional. Kualitas jurnalisme di masa depan akan sangat bergantung pada kekuatan pers mahasiswa. Lemahnya pers mahasiswa secara langsung akan berdampak pada kualitas jurnalisme di tingkat nasional.
Menjaga Kebebasan Berpendapat dengan Tanggung Jawab
Benny Siga Butar Butar secara khusus menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berpendapat di lingkungan akademik. Ia menegaskan bahwa rasa ingin tahu mahasiswa harus dikelola dengan tanggung jawab, bukan justru ditekan atau dibungkam. “Pers kampus jangan dibredel, jangan dibungkam. Dia harus diberikan tempat, disalurkan rasa ingin tahunya dengan sebuah tanggung jawab,” kata Benny.
Sebagai bentuk dukungan nyata, LKBN Antara menyatakan komitmennya untuk memperkuat kapasitas mahasiswa melalui berbagai program. Ini mencakup pelatihan jurnalistik dan kolaborasi digital yang relevan dengan perkembangan teknologi. Inisiatif ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di era digital.
Dukungan tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pers mahasiswa untuk berkembang. Dengan demikian, mereka dapat terus menyuarakan kebenaran dan berkontribusi pada diskursus publik. Pembinaan semacam ini sangat vital untuk menjaga integritas dan independensi pers kampus.
Antusiasme Kampus dan Implementasi Gagasan
Rektor Universitas Bina Bangsa (UNIBA), Bambang DS, menyambut baik diskusi yang telah diselenggarakan ini. Ia melihatnya sebagai sarana penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan perspektif segar dari para praktisi media. Kehadiran para ahli memberikan wawasan berharga yang melengkapi pembelajaran di kelas.
Bambang DS juga mencatat antusiasme tinggi dari mahasiswa yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis selama sesi berlangsung. “Pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa cukup tajam, kemudian dapat dijawab dengan perspektif yang sangat kaya,” ungkap Bambang. Ini menunjukkan minat besar mahasiswa terhadap isu-isu jurnalistik dan demokrasi.
Ia berharap gagasan-gagasan konstruktif yang lahir dari seminar ini tidak hanya berhenti di meja diskusi. Sebaliknya, Bambang menekankan pentingnya implementasi segera dalam praktik jurnalistik di lingkungan kampus. Dengan demikian, pers mahasiswa dapat terus menjadi agen perubahan dan pilar demokrasi yang kuat.
Sumber: AntaraNews