6 Hari Terjebak! YPMAK Dukung Freeport Selamatkan 7 Pekerja Tambang di GBC Tembagapura
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) menyatakan dukungan penuh kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam upaya penyelamatan 7 pekerja terjebak tambang Freeport di GBC Tembagapura.
Tujuh pekerja tambang masih terjebak di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, setelah insiden longsor lumpur basah yang terjadi pada Senin, 8 September 2025. Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 22.12 WIT dan menjadi kejadian luar biasa sepanjang sejarah operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua.
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) telah menyatakan dukungan penuh kepada PTFI dalam upaya penyelamatan para pekerja. Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka, di Timika, Sabtu, mengungkapkan bahwa segala daya upaya telah dikerahkan oleh PTFI untuk mengevakuasi ketujuh pekerja tersebut.
Proses penyelamatan terus berlangsung intensif hingga memasuki hari keenam pasca-kejadian, dengan harapan seluruh pekerja dapat segera dikeluarkan dalam keadaan selamat. PTFI telah menghentikan semua operasi penambangan untuk memfokuskan sumber daya pada upaya penyelamatan dan pembersihan area terdampak longsor.
Kronologi Insiden Longsor Tambang GBC
Insiden longsor lumpur basah di tambang bawah tanah GBC Tembagapura terjadi pada Senin, 8 September 2025, sekitar pukul 22.12 WIT. Berdasarkan laporan yang diterima Bupati Mimika dari manajemen PTFI, kejadian ini merupakan peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya selama beroperasinya perusahaan tersebut.
Pada saat kejadian, mekanisme peringatan trigger action response plan dari Geo Engineering Integrated Monitoring Center tidak teraktivasi. Hal ini menyebabkan tumpahan lumpur basah membanjiri area tambang tanpa peringatan dini yang memadai, diduga berasal dari akumulasi lumpur basah yang terkumpul selama periode tertentu.
Beberapa titik tumpahan berasal dari Panel 23 timur di drop point 20 IWS, kemudian terpecah setelah mencapai akses ke Panel 28 barat. Jarak luncur lumpur basah tersebut diperkirakan mencapai kurang lebih 400 meter, menyebabkan dampak signifikan pada infrastruktur tambang.
Akibat longsor ini, semua infrastruktur di extraction level terhenti, kecuali di Panel 13 barat serta Panel 28 dan 34 timur dan barat. Satu unit lokomotif bahkan terkubur dalam lumpur basah, sementara para pekerja di area terdampak lainnya berhasil dievakuasi ke tempat yang aman, namun tujuh pekerja terhalang dan terperangkap.
Upaya Penyelamatan dan Dukungan Berbagai Pihak
PT Freeport Indonesia (PTFI) telah mengambil langkah drastis dengan menghentikan semua operasi penambangan guna memfokuskan upaya penyelamatan. Fokus utama saat ini adalah mengeluarkan para pekerja yang terjebak dan membersihkan aliran lumpur basah yang menghambat akses.
Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka, menegaskan dukungan penuh lembaganya terhadap PTFI. "Kami berharap tujuh pekerja tambang tersebut bisa segera dievakuasi dalam keadaan selamat," kata Leonardus, seraya menambahkan, "Kami mendukung semua proses yang dilakukan supaya bisa membawa hasil yang baik."
Selain dukungan dari YPMAK, seluruh masyarakat Mimika juga diajak untuk turut mendoakan kelancaran proses penyelamatan ini. Tim investigasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga telah berada di Tembagapura untuk melakukan penyelidikan dan memantau upaya penanganan.
Ketujuh pekerja yang masih terjebak di tambang bawah tanah PT Freeport di Tembagapura adalah Irwan, Wigih Hartono, Victor Manuel Bastida Ballesteros, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Zaverius Magai, dan Balisang Telile. Mereka berasal dari dua perusahaan kontraktor, yaitu lima orang kru PT Redpath Indonesia dan dua orang kru elektrik PT Cipta Kontrak, yang bekerja di bawah Divisi Operation Maintenance PTFI.
Sumber: AntaraNews