Tragis! 4 Korban Tewas dalam Musibah Heli Intan Angkasa di Jila, YPMAK Soroti Cuaca Ekstrem Papua
YPMAK menyampaikan duka mendalam atas musibah jatuhnya Heli Intan Angkasa di Distrik Jila, Mimika, yang menewaskan empat orang. Insiden ini memicu seruan untuk kewaspadaan lebih tinggi terhadap cuaca ekstrem Papua.
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) menyampaikan belasungkawa atas musibah jatuhnya Helikopter PK-IWS milik PT Intan Angkasa. Kecelakaan tragis ini terjadi di wilayah Distrik Jila, Mimika, Papua Tengah, pada Rabu, 10 September 2025. Insiden tersebut menewaskan empat orang, termasuk pilot dan tiga penumpangnya.
Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka, di Timika, menyatakan bahwa peristiwa nahas ini meninggalkan duka mendalam. Duka tidak hanya dirasakan oleh keluarga para korban, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Papua. YPMAK berharap keluarga korban diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan berat ini.
Musibah Heli Intan Angkasa ini diduga kuat akibat cuaca buruk yang sering berubah cepat di wilayah pegunungan Papua. Puing-puing helikopter ditemukan dalam kondisi terbakar di kawasan hutan terjal, menunjukkan dahsyatnya dampak kecelakaan tersebut.
Kronologi Musibah Heli Intan Angkasa di Jila
Helikopter PK-IWS milik PT Intan Angkasa, yang dipiloti oleh Kapten Eko Puja Sulandhono, mengalami hilang kontak. Insiden ini terjadi saat helikopter dalam penerbangan dari Ilaga, Kabupaten Puncak, menuju Timika, Kabupaten Mimika. Hilang kontak tercatat pada Rabu, 10 September 2025, sekitar pukul 11.38 WIT.
Lokasi jatuhnya helikopter nahas ini kemudian diketahui berada di wilayah Distrik Jila. Area tersebut terletak sekitar 14 kilometer dari Ilaga, yang merupakan ibu kota Kabupaten Puncak. Dugaan awal mengarah pada faktor cuaca buruk sebagai penyebab utama insiden tragis ini.
Tim SAR gabungan dari Kantor Basarnas Timika dan TNI-AU Timika berhasil menemukan para korban pada Kamis, 11 September 2025. Selain Pilot Eko, tiga penumpang lainnya, yaitu Sudirman (petugas teknisi), Hermanto, dan Zulkifli Kurniawan, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah para korban telah diterbangkan ke kota asal masing-masing pada Jumat, 12 September 2025.
Kondisi fisik helikopter pasca-kecelakaan sangat parah, dengan puing-puing yang tersebar. Helikopter tersebut terbakar dan puingnya ditemukan beberapa puluh meter di kawasan hutan pegunungan. Area jatuhnya memiliki kemiringan terjal sekitar 70 derajat, menambah kesulitan dalam proses evakuasi.
Seruan YPMAK untuk Kewaspadaan Penerbangan di Papua
Menyikapi seringnya insiden kecelakaan penerbangan di wilayah Papua, YPMAK menyampaikan keprihatinan mendalam. Ketua Pengurus YPMAK, Leonardus Tumuka, berharap semua operator penerbangan meningkatkan kehati-hatian. "Kami atas nama YPMAK mengucapkan turut belasungkawa atas peristiwa ini. Semoga keluarga diberi ketabahan dan kekuatan," kata Leonardus Tumuka.
Leonardus menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra, terutama karena kondisi cuaca di wilayah pegunungan Papua dapat berubah sangat cepat. Perubahan cuaca yang drastis ini menjadi faktor risiko signifikan bagi operasional penerbangan. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi harus diperketat.
YPMAK juga menyarankan peningkatan koordinasi antara operator penerbangan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Koordinasi ini krusial untuk mendapatkan prakiraan cuaca yang akurat dan terkini. "Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) harus lebih ditingkatkan terkait dengan prakiraan cuaca, karena cuaca di wilayah pegunungan itu berubah sangat cepat," ujarnya.
Peningkatan kewaspadaan dan koordinasi diharapkan dapat mencegah terulangnya musibah serupa di masa mendatang. Keselamatan penerbangan di daerah dengan kondisi geografis dan cuaca ekstrem seperti Papua harus menjadi prioritas utama.
Dampak dan Proses Evakuasi Korban Kecelakaan Heli Intan Angkasa
Musibah jatuhnya Heli Intan Angkasa ini menimbulkan duka mendalam dan menjadi pengingat akan risiko penerbangan di daerah terpencil. Tim SAR gabungan bekerja keras dalam kondisi medan yang sulit untuk menemukan dan mengevakuasi para korban. Proses ini membutuhkan keahlian khusus dan peralatan memadai.
Puing-puing helikopter yang terbakar dan tersebar di kawasan hutan pegunungan menunjukkan betapa parahnya dampak kecelakaan. Medan yang terjal dengan kemiringan 70 derajat menjadi tantangan besar bagi tim evakuasi. Kondisi ini memperlambat upaya pencarian dan pengangkatan jenazah.
Setelah berhasil ditemukan, jenazah keempat korban, yaitu Pilot Eko Puja Sulandhono, Sudirman, Hermanto, dan Zulkifli Kurniawan, segera diurus. Proses identifikasi dan persiapan untuk pemulangan dilakukan dengan cepat. Semua jenazah telah diterbangkan ke kota asal masing-masing pada Jumat, 12 September 2025, untuk dimakamkan.
Insiden ini juga memicu evaluasi lebih lanjut terhadap standar keselamatan penerbangan di Papua. Harapannya, kejadian tragis ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keamanan dan meminimalkan risiko kecelakaan di masa depan.
Sumber: AntaraNews