Mengunjungi Pondok Pesantren Siwalanpanji Sidoarjo, Santrinya Datang dari Berbagai Negara seperti Arab dan Filipina
Pesantren ini melahirkan ulama-ulama besar Indonesia
Pesantren ini melahirkan ulama-ulama besar Indonesia
Mengunjungi Pondok Pesantren Siwalanpanji Sidoarjo, Santrinya Datang dari Berbagai Negara seperti Arab dan Filipina
Sejarah
Pondok Pesanten Al Hamdaniyah Siwalanpanji didirikan oleh Kiai Hamdany pada tahun 1787.
Sebelumnya, Desa Siwalanpanji merupakan daerah rawa-rawa. Saat pertama kali datang ke desa ini, Kiai Hamdany berdoa agar kelak kawasan tersebut menjadi daratan sehingga bisa dijadikan tempat tinggal. Harapan Kiai Hamdany pun terkabul.
Kiai Hamdany mendirikan bangunan untuk tempat tinggal, termasuk untuk beribadah dan mengaji keluarga. Seiring waktu beberapa santri datang untuk menimba ilmu pada Kiai Hamdany.
Salah satu murid pertama Kiai Hamdany ialah Mbah Nawawi Ringinagung. Mengutip YouTube NU Online, Mbah Nawawi menjadi santri di Ponpes Al Hamdaniyah Siwalanpanji hingga usia sekitar 35 tahun.
Lahirkan Ulama Besar
Mengutip situs OPOP Jawa Timur, selain Mbah Nawawi Ringinagung, beberapa ulama besar Indonesia juga pernah nyantri di sini. Seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Asy’Ad Samsul Arifin, Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Alwi Abdul Aziz, Kiai Wahid Hasyim, dan lain-lain.
Pengasuh Ponpes Al Hamdaniyah, Kiai Ya'qub terpikat dengan sosok Kiai Hasyim Asy'ari. Ia kemudian menikahkan santrinya itu dengan sang putri yang bernama Khadijah.
Santri dari Berbagai Negara
Pada masa Kiai Hasyim Asy'ari nyantri, Pondok Pesantren Al Hamdaniyah sudah terkenal.
“Saat itu pesantren Al Hamdaniyah santrinya sudah mencapai 1.800. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga dari beberapa negara, seperti Arab dan Filipina," jelas Kiai Muhammad Aly, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Hamdaniyah, dikutip dari situs OPOP Jawa Timur.
Potret Terkini
Saat ini, Pondok Pesantren Al Hamdaniyah Siwalanpanji tidak hanya menjadi lembaga pendidikan islam nonformal, tetapi juga sudah memiliki lembaga pendidikan formal hingga tingkat Madrasah Aliyah (setingkat SMA).
Kini, tercatat ada 400 santri yang bermukim di lingkungan pesantren. Sementara santri yang tidak bermukim sebanyak 300 orang. Mereka juga dibekali kemampuan bahasa Arab dan Inggris melalui keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) Bahasa yang berada di lingkungan ponpes.