Menyusuri Bekas Rumah Pemotongan Hewan Peninggalan Belanda di Semarang, Kini Kondisinya Angker dan Terbengkalai
Rumah itu sempat menjadi tempat tidur para pemulung dan anak jalanan.
Rumah itu sempat menjadi tempat tidur para pemulung dan anak jalanan.
Menyusuri Bekas Rumah Pemotongan Hewan Peninggalan Belanda di Semarang, Kini Kondisinya Angker dan Terbengkalai
Dr. Jan Stapensea adalah seorang ahli peternakan dan dokter hewan pertama di Kota Semarang.
Pada era 1920-an, ia mencetuskan berdirinya rumah pemotongan hewan atau Abbatoir pertama di Semarang.
Idenya berawal dari keprihatinannya akan kurangnya pasokan daging yang bersih dan sehat.
Pada akhirnya, rumah pemotongan hewan bernama Semarangsche Slachthuis itu diresmikan pada tahun 1929. Keberadaannya menggantikan rumah potong hewan tradisional yang ada di Kampung Jagalan, Semarang.
Pada saat itu, rumah potong hewan tersebut dibangun jauh dari pemukiman masyarakat.
Pada saat itu, Abbatoir tersebut luasnya mencapai 3 hektare yang terdiri dari kantor administrasi, rumah potong hewan, dan saluran air bersih.
Sayangnya, sebelum Abbatoir dibangun sepenuhnya, Dr. Jan Stapensea meninggal terlebih dahulu.
Pada tahun 1995, Abbatoir tersebut dipindahkan ke wilayah Penggaron, Semarang, karena wilayah tersebut pada tahun itu sudah menjadi pemukiman padat penduduk dan pula untuk menghindarkan masyarakat dari penyakit yang disebabkan oleh pemotongan hewan.
Saat ini yang tersisa dari bangunan itu hanyalah bangunan bekas kantor administrasinya. Sementara bangunan yang lain sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan.
Kini bangunan itupun tampak terbengkalai. Setidaknya kondisi itulah yang terlihat dari unggahan video Tri Anaera Vloger pada 23 September 2023 lalu.
Bahkan bangunan itu terkesan angker dan jadi sarang kelelawar. Dulu bangunan terbengkalai itu sempat digunakan oleh pemulung dan anak jalanan.
Bahkan berdasarkan kesaksian warga, sering ada penampakan makhluk halus di bangunan tersebut.