Ambarawa merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Semarang yang punya nilai sejarah. Sepanjang bulan Oktober hingga Desember 1945, pernah terjadi pertempuran besar di kota itu yang dikenal dengan peristiwa Palagan Ambarawa.
Pada masa penjajahan, kota itu menjadi basis markas besar tentara Belanda.
Hingga kini, masih dijumpai bangunan-bangunan kuno peninggalan kolonial di Ambarawa. Salah satunya adalah sebuah bangunan rumah pemotongan hewan yang dibangun pada tahun 1913.
Bangunan seluas 30x30 meter itu masih aktif digunakan sebagai rumah pemotongan hewan. Bahkan besi-besi yang digunakan sebagai pengait sapi setelah selesai disembelih masih asli peninggalan Belanda.
Advertisement
Di sekitar rumah pemotongan sapi itu, terdapat sebuah bangunan kecil yang kini terbengkalai. Bangunan itu luasnya 4x10 meter. Ngadiyono (65), bercerita kalau dulunya bangunan itu digunakan sebagai tempat pemotongan babi. Aktivitas pemotongan babi semakin sibuk mendekati Hari Raya Imlek.
“Saya waktu itu penasaran bagaimana sih orang memotong babi? Ternyata waktu dipotong, babi itu disogok dulu pakai parang,” kata Ngadiyono dikutip dari kanal YouTube Jejak Tempo Doeloe.
Ngadiyono mengatakan, pada saat masih beroperasi, rumah pemotongan hewan itu biasanya buka dari jam 8 pagi sampai selesai. Namun kini kondisinya benar-benar terbengkalai.
Di jantung Kota Ambarawa, terdapat sebuah kawasan pecinan yang banyak bermukim warga-warga Tionghoa.
Di sana ada bangunan tua peninggalan pengusaha Tionghoa yang kini masih berdiri megah. Dulunya bangunan itu merupakan pabrik kain batik patron.
Advertisement
Berdasarkan penelusuran tim kanal YouTube Jejak Tempo Doeloe, bangunan itu dihiasi dengan pintu masuk berupa keramik dengan hiasan lukisan timbul. Kini rumah itu menjadi tempat sarang burung walet.
Bangunan Pabrik Batik Patron Ambarawa itu diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1876. Pabrik tersebut memasuki masa kejayaan pada tahun 1927 hingga 1930.