Hanya Lulusan SMP dan Sempat Jadi Pengamen, Pria Asal Bantul Ini Sukses jadi Pengusaha Mi
Selama menjalani kehidupan yang keras di Jakarta, Pak Beno belajar arti penting dari pantang menyerah.
Selama menjalani kehidupan yang keras di Jakarta, Pak Beno belajar arti penting dari pantang menyerah.
Hanya Lulusan SMP dan Sempat Jadi Pengamen, Pria Asal Bantul Ini Sukses jadi Pengusaha Mi
Fransiskus Xaverius Subino Prayogokastu merupakan salah seorang pengusaha mi di Kabupaten Bantul. Rumahnya berada di Dusun Kundurgeni, Kelurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul.
Secara tingkat pendidikan, pria yang akrab disapa Pak Beno itu hanya lulusan SMP. Namun kondisi serba sulit yang dialami membuat Pak Beno mau tidak mau harus merantau demi memperoleh pekerjaan.
“Saya pernah jadi pengamen, pernah jadi tukang bakso keliling, pernah juga transmigrasi. Terakhir saya jadi sopir bajaj di Jakarta,” kata Pak Beno dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
Selama menjalani kehidupan yang keras di Jakarta, Pak Beno belajar arti penting dari pantang menyerah. Setelah sembilan tahun hidup di Ibu Kota, ia kemudian pulang ke kampung halaman.
Setelah itu ia menjalani usaha sebagai distributor tepung dan kerupuk. Usahanya sempat terpuruk saat Bantul dilanda gempa besar tahun 2006. Tak butuh waktu lama, Pak Beno bisa bangkit pada tahun 2007.
“Selama ini saya harus bertarung dengan kerasnya kehidupan. Saya orangnya berani mencoba, kreatif, inovatif. Pada saat jatuh pada tahun 2009, saya punya pikiran untuk membuat Mi Resik Cap Dokar ini,” kata Pak Beno.
Pak Beno belajar membuat mi secara otodidak. Berbagai kendala ia alami, salah satunya adalah pasar. Namun ia tidak menyerah. Pak Beno terus mencari dan mencari bagaimana formulasi pemasaran agar produknya disukai masyarakat.
“Kita mengenalkan produk dengan cara masak keliling. Bahkan saya sampai menggratiskan orang makan mi ini sampai 3.000-an lebih,” kata Pak Beno
Bagi Pak Beno, salah satu kunci sukses dalam berusaha yaitu harus fokus. Ia harus aktif dalam mencari peluang pasar. Selain itu ia juga dituntut kreatif, terutama bagaimana menciptakan varian mi lain agar tak monoton.
Dalam usahanya, Pak Beno menghasilkan produk mi singkong, campuran antara tepung tapioca dan tepung cassava. Proses produksinya cukup panjang. Biasanya dalam seminggu, rumah produksi milik Pak Beno hanya sekali produksi. Dalam sekali produksi, ia membutuhkan dua ton tepung. Biasanya produk itu digunakan bagi mereka yang punya kendala dalam hal kesehatan.
“Bagi yang menghindari beras dan terigu, jalan keluarnya ya di mi ini. Bagi yang sedang menjalankan program diet, mi ini cocok. Sebagai sampelnya saya sendiri. Dari tahun 2015 sampai sekarang nggak makan nasi. Makannya mi, kalau nggak singkong rebus,” kata Pak Beno.
Sebagai pengusaha, Pak Beno punya misi besar yaitu memproduksi makanan lokal dengan daya saing global. Ke depan, ia berencana mengembangkan produk mi yang menyasar ke kesehatan seperti mi wortel atau mi sayuran.
“Mi saya ini sudah sampai Italia. Kalau tamu-tamu luar negeri juga banyak yang sudah ke sini, seperti dari Jepang, dari Korea,” kata Pak Beno dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
Jatuh Bangun Berkali-Kali
Selama menjalani usaha, Pak Beno sudah merasakan jatuh bangun berkali-kali. Biasanya ia mengalami masa sulit setelah ditipu orang. Namun hal itu tidak masalah bagi Pak Beno karena setelah itu ia bisa selalu bangkit lagi dan lagi.
“Kebanyakan jatuh yang paling susah untuk bangkit itu kan karena perempuan dan karena judi. Tapi kalau jatuh karena ketipu cepat bangkitnya. Saya ditipu, saya percaya bahwa Tuhan itu tidak tidur. Dan Tuhan sudah menyiapkan gantinya pasti berlebih. Lihat saja di sini, berapa orang yang menipu saya dan berapa yang dihasilkan di sini. Itulah bukti kalau kuasa Tuhan itu bermain,”
tutup Pak Beno dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.