Cerita Kelam Lonceng Soli Deo Gloria, Dulu Jadi Tanda Kematian di Batavia
Lonceng ini jadi tanda kematian di Kota Batavia saat itu. Belanda membunyikannya saat hendak mengeksekusi pelaku kejahatan.
Lonceng ini jadi tanda kematian di Kota Batavia saat itu. Belanda membunyikannya saat hendak mengeksekusi pelaku kejahatan.
Cerita Kelam Lonceng Soli Deo Gloria, Dulu Jadi Tanda Kematian di Batavia
Ada sebuah suara yang dianggap mengerikan paruh abad ke-18 di Kota Batavia. Teng….teng….teng, begitulah suara tersebut berbunyi. Ketika warga seisi kota mendengarnya, maka mereka akan lekas mengingat nama Tuhan.
Inilah yang disebut sebagai suara kematian dari lonceng Soli Deo Gloria yang ditakuti oleh warga Batavia.
Jika dibunyikan, sebagian wilayah terutama yang dekat dengan gedung Stadhuis (balai kota) (sekarang Museum Sejarah Jakarta) akan terdengar amat jelas.
Lonceng ini berada di dalam menara paling atas bangunan balai kota. Di sekelilingnya dibuat lubang persegi mirip ventilasi, agar suaranya bisa bergema dengan kencang. Lonceng ini pun dikenal memiliki cerita kelam di masa tersebut.
Sampai sekarang keberadaannya masih terawat dan menjadi peninggalan kuno masa kolonial Belanda.
Tanda Eksekusi Pelaku Kriminal
Mengapa lonceng ini menakutkan? Karena saat dibunyikan, pemerintah Belanda tengah bersiap-siap untuk mengeksekusi seseorang.
Foto: ig Museum Sejarah Jakarta
Mereka yang dipenggal lehernya di depan gedung stadhuis adalah para pelaku kriminal, kejahatan dan perampokan.
Lonceng tersebut menjadi penanda bahwa eksekusi akan segera dilaksanakan. Biasanya setelah lonceng berbunyi, warga seisi kota akan berdatangan dan menyaksikan proses eksekusi hingga pelaku tewas.
Tak diketahui berapa kali lonceng ini dibunyikan saat algojo hendak mengeksekusi, namun dalam laman Museum Kesejarahan Jakarta yang dikutip Merdeka.com (24/6), fungsi dari lonceng tersebut adalah mengumumkan adanya seseorang yang berbuat jahat dan akan menerima hukuman.
Menjadi Alat Pemberi Pesan di Tahun 1742
Diperkirakan, lonceng ini aktif dibunyikan di sekitar tahun 1742. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memang getol menghukum dengan kejam para pelaku kejahatan.
Dalam kanal Youtube Candriyan Attahiyyat disebutkan bahwa proses eksekusi mati terhadap pelaku kejahatan pada saat itu juga menggunakan roda berputar hingga mayatnya dibiarkan mengering.
Masa-masa itu, kaum penjajah sudah menujukan sisi kejamnya namun hukuman ini juga sebagai pelajaran agar masyarakat tidak melanggar hukum.
Foto: petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id
Dibuat di Batavia
Secara teknis, lonceng ini berbeda dari lonceng kebanyakan karena dibunyikan menggunakan pemukul baja.
Gedung Stadhuis Batavia/KITLV
Bentuknya menyerupai palu, dan alat tersebut akan bekerja saat seseorang menarik tuas besi besar.
Biasanya, lonceng akan dibunyikan pada bandulnya di bagian tengah dan akan mengeluarkan suara. Dikarenakan ukurannya yang besar dan bobotnya yang berat, maka pembunyian dibantu oleh tuas yang mudah digerakan.
Berdasarkan keterangan di lonceng, tertulis Anno Batavia 1742, yang artinya lonceng ini dibuat pada tahun 1742 di Batavia. Faktanya, lonceng ini menggantikan lonceng sebelumnya yang sudah usang.
Lonceng Soli Deo Gloria sebagai Kemuliaan Tuhan
Dalam kepercayaan agama Kristen yang dianut oleh bangsa kolonial Belanda, lonceng menjadi hal yang sakra. Ini termasuk Soli Deo Gloria yang ada di Stadhuis Batavia, sebagai undangan terhadap warga kota jika terdapat kegiatan eksekusi pelaku kejahatan.
Mengutip buku Pariwisata dan Narasi Kota Tua, di balik cerita kelamnya, lonceng ini membawa pesan Tuhan Soli Deo Gloria atau “Kemuliaan hanya Milik Tuhan Semata”.
Sampai sekarang, lonceng masih tersimpan di menara Museum Sejarah Jakarta dan menjadi benda bernilai sejarah tinggi. Menurut catatan sejarah lainnya, lonceng ini hanya digunakan sampai dengan 1800-an.