Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menyelenggarakan peringatan hari wafat atau haul para ulama dan pejuang Betawi. Inisiatif ini merupakan bentuk apresiasi atas jasa-jasa besar mereka yang telah berkontribusi signifikan bagi kemajuan ibu kota. Gubernur DKI Pramono Anung menyatakan keinginan kuatnya untuk mengadakan acara yang mungkin baru pertama kali diselenggarakan secara resmi oleh Pemprov DKI ini.
Pramono Anung menyoroti bahwa penyelenggaraan haul ulama maupun tokoh Betawi di Jakarta masih terbilang jarang. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat dipersiapkan secara matang dan menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan ulang tahun Jakarta yang akan dipusatkan di Monas pada tahun ini.
Agenda ini diharapkan mampu menjadi momen krusial untuk memberikan penghargaan kepada para pejuang dan ulama-ulama besar Betawi. Kontribusi mereka dalam membentuk Jakarta, baik secara spiritual maupun perjuangan kemerdekaan, dianggap sangat fundamental dan patut dikenang oleh generasi penerus.
Advertisement
Advertisement
Mengenang Jasa Besar Ulama dan Pejuang Betawi
Jakarta memiliki sejarah panjang yang diwarnai oleh perjuangan dan kontribusi signifikan dari para ulama serta pejuang Betawi. Tokoh-tokoh seperti KH Abdullah Syafi'ie dan KH Syafi'i Hadzami, yang merupakan kakek dari Prof. Firdaus, adalah contoh ulama besar yang memiliki pengaruh luas dalam syiar Islam dan pendidikan di Betawi. Ajaran dan keteladanan mereka membentuk karakter masyarakat Betawi yang religius dan berbudaya.
Selain ulama, ada pula pahlawan nasional seperti Mohammad Husni Thamrin, seorang tokoh pergerakan nasional yang gigih memperjuangkan hak-hak rakyat Betawi dan Indonesia dari penjajahan. Peran beliau dalam dunia politik dan sosial sangat krusial, menjadikannya salah satu ikon perjuangan kemerdekaan yang berasal dari Betawi. Mengenang mereka adalah cara untuk memahami akar sejarah dan identitas Jakarta.
Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa selama ini, acara haul untuk tokoh-tokoh besar tersebut jarang diadakan secara bersama-sama oleh Pemerintah DKI Jakarta. Oleh karena itu, penyelenggaraan haul ini menjadi langkah strategis untuk mengisi kekosongan sejarah dan memberikan penghormatan yang layak kepada para pendahulu yang telah mengukir sejarah Jakarta dengan tinta emas perjuangan dan keilmuan.
Advertisement
Advertisement
Haul Ulama Betawi dalam Rangkaian HUT Jakarta
Peringatan haul ulama dan pejuang Betawi ini direncanakan akan menjadi bagian integral dari perayaan ulang tahun Jakarta tahun ini. Integrasi acara ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI untuk tidak hanya merayakan kemajuan kota, tetapi juga menghormati fondasi sejarah dan budaya yang telah dibangun oleh para leluhur. Dengan demikian, perayaan HUT Jakarta akan memiliki dimensi spiritual dan historis yang lebih mendalam.
Monumen Nasional (Monas) dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan acara, sebuah pilihan yang sangat simbolis. Monas adalah ikon Jakarta dan Indonesia, tempat yang sering menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting nasional. Mengadakan haul di Monas akan memberikan resonansi yang lebih luas dan menegaskan pentingnya peran ulama serta pejuang Betawi dalam narasi besar bangsa.
Diharapkan, agenda haul ini tidak hanya berhenti pada satu kali penyelenggaraan, melainkan dapat menjadi tradisi tahunan yang berkelanjutan. Dengan menjadi agenda rutin, generasi muda Jakarta akan terus diingatkan akan warisan berharga yang ditinggalkan oleh para ulama dan pejuang Betawi, menumbuhkan rasa bangga dan semangat untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam konteks pembangunan modern.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Pemprov DKI Lestarikan Budaya Betawi
Inisiatif penyelenggaraan haul ini merupakan salah satu dari serangkaian dukungan budaya Betawi yang digencarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebelumnya, Festival Bandeng Rawa Belong telah sukses digelar pada tanggal 14-15 Februari 2026, menunjukkan upaya nyata dalam melestarikan kuliner dan tradisi lokal. Festival semacam ini tidak hanya menghidupkan kembali tradisi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
Selain itu, Pemprov DKI juga mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) untuk mengenakan ujung serong dan kebaya encim setiap hari Rabu. Kebijakan ini adalah langkah konkret untuk mempromosikan pakaian adat Betawi dalam kehidupan sehari-hari, menanamkan rasa cinta budaya di kalangan birokrat, dan secara tidak langsung memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada masyarakat luas.
Berbagai program ini menegaskan komitmen kuat Pemprov DKI dalam melestarikan kekayaan budaya Betawi. Melalui pendekatan holistik yang mencakup peringatan tokoh, festival kuliner, hingga penggunaan pakaian adat, pemerintah berupaya memastikan bahwa identitas Betawi tetap hidup dan berkembang di tengah modernisasi Jakarta. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews